READING

Indonesia Kecil di Tengah Kebun Pisang

Indonesia Kecil di Tengah Kebun Pisang

Ancaman disintegrasi bangsa boleh membuat khawatir siapapun. Tapi tidak di Regina Pacis, panti asuhan yang merawat anak-anak dari berbagai suku, dengan kasih sayang dan toleransi yang tulus.

Regina Pacis yang saya sambangi adalah Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang menaungi anak-anak yatim dan kurang mampu. Letaknya cukup jauh dari keramaian kota, yakni di Dusun Pondok Kobong, Desa Kedungrejo, Kecamatan Rowokangkung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

“Tiga jam perjalanan Mas, kalau lewat tol,” kata kernet bus yang saya tumpangi dari Surabaya menuju Lumajang. Sebelumnya saya menempuh perjalanan sekitar dua jam dari Kediri menuju Terminal Purabaya Sidoarjo.

This image has an empty alt attribute; its file name is DSC01069.jpg
LKSA Regina Pacis, Kedungrejo, Lumajang. Dulunya tempat ini masih seperti hutan, banyak pohon pisang, sawo, dan rambutan disini.

Saya menyeka keringat. Cuaca siang itu sangat terik. Beruntung bus yang saya tumpangi dilengkapi pendingin ruangan meski harus berdesakan dengan penumpang lain. Tapi tak apalah, demi sebuah cerita yang membuatku penasaran. Walt Disney pernah bilang, “ide banyak datang dari rasa penasaran kita…”

Cerita soal Regina Pacis mengusikku beberapa waktu terakhir. Menurut kawan pemberi informasi, panti asuhan ini menampung anak-anak yatim dan kurang mampu dari seluruh Indonesia. Tak terbayang bagaimana riuhnya suasana panti yang menampung anak-anak dari berbagai suku dan daerah itu.

Bagaimana kondisi di sana. Pendidikan seperti apa yang mereka dapatkan. Bagaimana mereka bisa hidup bersama. Dan segudang pertanyaan memenuhi kepalaku selama perjalanan tiga jam di atas bus.

Pagi-pagi sekali, petugas piket mengepel aula tempat biasa anak-anak panti berkegiatan.

Mulusnya jalan tol menidurkan mataku hingga tak terasa bus yang saya tumpangi telah memasuki wilayah Lumajang. Sampai di terminal Minak Koncar, saya masih harus berganti bus lagi menuju Kencong untuk mencapai lokasi yang saya tuju.

Hari menjelang senja saat bus yang saya tumpangi menepi di pertigaan Gladag Anyar. Sebelum melanjutkan dengan berjalan kaki, saya mampir sebentar di mushola untuk membasuh diri. Perjalanan sore itu tak membuatku lelah.

Suasana pedesaan yang sejuk menghapus penat perjalanan di atas bus. Bentangan lahan persawahan menemani saya menyusuri jalan hingga sampai di ujung jalan bercabang, yang salah satunya tertera petunjuk arah menuju panti asuhan Regina Pacis.

Bunyi lonceng adalah pemersatu bagi seluruh penghuni panti yang datang dari segala penjuru negeri. Suara lonceng adalah pertanda bagi mereka untuk berkumpul.

Langkahku terhenti di depan bangunan besar berdinding tinggi. Terdapat neon box bertuliskan “LKSA Regina Pacis” di pintu gerbang yang terbuka. Dari luar tampak jelas betapa luasnya halaman di balik pintu.

Halaman itu terhampar di depan bangunan bertingkat yang menjadi rumah utama Regina Pacis. Dari sini, tampak jelas area persawahan yang dibatasi oleh aliran sungai di kejauhan. Tempat ini benar-benar asri dan damai.

Lamunanku buyar ketika beberapa anak menyapa dengan ramah. Tanpa ragu mereka menyalami tangan saya sambil menciumnya. Dari wajahnya tergambar asal usul mereka yang jauh di Timur Indonesia.

Ren adalah salah satu penghuni yang bergabung sejak awal gedung Panti Asuhan Regina Pacis ini dibangun.

“Bu Kiki ada?” tanya saya. Dengan riang salah satu dari mereka mengangguk lalu berlari menuju bangunan bertingkat. Tak lama orang yang saya cari keluar menemui saya.

“Selamat datang. Suster Ambrosia belum pergi kok, beliau masih di samping gedung,” sapanya ramah.

Saya mengikuti langkahnya menuju ke dalam gedung. Suster M. Ambrosia, AK, S.Pd. adalah orang yang saya kontak sebelum berangkat ke tempat ini. Beliau adalah pemimpin panti asuhan Regina Pacis.

Belum sampai di depan beliau, Suster Ambrosia sudah menyapa dari kejauhan. Saat bersalaman, genggaman tangannya begitu kuat, menunjukkan ketegasan dan keyakinan diri beliau sebagai pemimpin. Usai bertegur sapa, dia pamit ke gereja dan mempersilahkan saya untuk beristirahat. “Saya ke gereja dulu, silakan beristirahat, kamar sudah disiapkan kok,” katanya.

Alhasil saya ditemani Bu Kiki ngobrol di ruang tamu. Tak lama kemudian, adzan Maghrib berkumandang di salah satu masjid tak jauh dari Regina Pacis. “Saya sholat Mahgrib dulu ya,” kata Bu Kiki tiba-tiba.

Anak-anak panti sarapan bersama sebelum berangkat sekolah.

Saya kaget. Ternyata perempuan bernama lengkap Risky Isa Wulan ini adalah seorang muslim seperti saya. Paham dengan keterkejutanku, Bu Kiki lalu menjelaskan bahwa kehidupan di Regina Pacis dan di desa dimana mereka tinggal sangat menjunjung tinggi toleransi. Mereka terbiasa hidup dalam perbedaan suku dan agama.

Bangunan LKSA Regina Pacis ini resmi dipakai tanggal 26 Juni 2013. Namun lembaganya sendiri sudah terlebih dulu ada sejak 21 tahun lalu. Panti asuhan ini dibangun sebagai wujud kepedulian sosial Keuskupan Malang, dan bernaung di bawah Yayasan Karmel Malang, serta dikelola oleh para suster biarawati Abdi Kristus yang berpusat di Ungaran, Jawa Tengah.

Keberadaan panti ini bertujuan untuk mengakomodir kebutuhan pendidikan dan kesejahteraan anak-anak yatim dan kurang mampu, terutama dari luar Jawa. Dengan memberikan pendidikan yang layak, diharapkan anak-anak ini akan memiliki masa depan yang lebih baik.

Anak-anak panti berjalan beriringan menyusuri jalan desa menuju sekolah.

Penghuni panti asuhan Regina Pacis cukup banyak, sekitar 108 anak dari berbagai daerah seluruh Indonesia. Paling jauh berasal dari Kepulauan Nias dan Papua. Sedangkan yang terbanyak dari Flores. Sebagian besar anak-anak ini bersekolah di tingkat SMP. Sisanya ada yang masih duduk di bangku SD dan SMA.

Di awal berdiri, panti asuhan ini belum memiliki gedung sendiri. Anak-anak sempat dititipkan di rumah milik salah satu umat dan biara suster Abdi Kristus. Namun atas usaha Keuskupan, panti asuhan ini akhirnya bisa memiliki sebidang tanah untuk dijadikan tempat tinggal bersama.

Sebelum berdiri bangunan yang kokoh, tempat ini dulunya mirip hutan, banyak ditumbuhi pohon pisang, sawo, dan rambutan. Perlahan-lahan tempat itu disulap menjadi bangunan panti asuhan atas gotong-royong pihak paroki, pendonor, dan masyarakat sekitar.

Sementara untuk menyokong kebutuhan sehari-hari, pengelola panti mendapat bantuan dari donatur selain berswadaya dengan berternak, berkebun, dan mengolah makanan organik.

Anak-anak di Panti Asuhan Regina Pacis sudah seperti keluarga besar, tak canggung untuk saling membantu dan mendukung.

Banyak kisah yang saya dapatkan dari Bu Kiki seputar sejarah Regina Pacis. Cerita itu makin bertambah setelah Suster Ambrosia bergabung usai dari gereja. Kami pun berbincang hangat hingga menjelang tengah malam. Dan malam itu saya mengakhiri obrolan dengan beristirahat di kamar tamu yang telah disediakan.

Dini hari, mata saya terbuka oleh suara-suara di luar kamar. Waktu masih menunjukkan pukul 4 pagi. Saya memutuskan bangun dan membuka pintu kamar. Terlihat beberapa anak sibuk membersihkan lantai. Ada yang mengepel, ada pula yang menyapu pelataran gedung.

Di sudut lain tampak anak-anak menyiapkan makan pagi di dapur. Merasa tak enak, saya bergegas ke kamar mandi dan bergabung dengan rutinitas mereka. Tak ada yang menganggur atau bermalas-malasan di sana. Sekilas terlihat tulisan di dinding tangga lantai dua menuju tempat tidur anak-anak. “terima kasih anak-anakku, tidak lari dan tidak teriak”.

Anak-anak bergurau dan berjoget sambil memutar lagu-lagu daerah sambil menunggu kelas mulai.

Saya memutuskan berjalan-jalan menyusuri panti asuhan. Melewati ruang doa, saya melihat Laurensius Ndoa, bocah asal Wolosambi Maumere, sedang menunggu sendirian. Kedua tangannya mendekap erat injil di dadanya. Ren, sapaannya, telah menjadi penghuni panti asuhan sejak kecil, dan kini ia duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Tiba-tiba terdengar lonceng berbunyi, tak lama kemudian, ruangan penuh dengan anak-anak yang bersiap memanjatkan doa pagi bersama.

Setelah prosesi kebaktian selesai, mereka mandi, berganti baju, dan sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Menu sarapan pagi itu adalah sayur bobor dengan perkedel jagung. Istimewanya, semua bahan dipetik dari kebun sendiri. Yummy. Anak-anak dengan tertib berbaris untuk mengambil nasi dan lauk pauk. Suasana makan bersama seperti ini yang mungkin akan mereka rindukan saat dewasa kelak.

Suasana belajar di SMPK Santo Lukas, tempat anak-anak Panti Asuhan Regina Pacis bersekolah.

Penasaran dengan interaksi mereka dengan lingkungan sekitar, saya memutuskan mengikuti perjalanan mereka ke sekolah. Bersama delapan anak panti asuhan Regina Pacis, saya berjalan kaki menuju SMP Katolik Santo Lukas yang berjarak sekitar satu kilometer. Perjalanan kami pagi itu sangat asyik. Jalan desa yang asri, udara segar, dan pemandangan sawah menemani langkah kami ke sekolah. Sesekali terdengar celotehan dan gurauan mereka soal hal-hal konyol.

Uniknya, anak-anak ini tetap menjaga kesopanan meski sudah berada di luar area panti. Nampak dari sikap mereka yang selalu menyapa warga saat berpapasan di jalan. Warga pun terlihat membalas sapaan mereka dengan ramah. Pemandangan itu menunjukkan betapa tingginya toleransi dan keguyuban di kampung ini. Jauh dari isu SARA yang terjadi di Malang dan Surabaya beberapa waktu lalu.

Dalam perjalanan itu saya menyempatkan berbincang santai dengan Erwin Yikwa. Bocah kelas dua SMP ini berasal dari Danime, Lanny Jaya, Papua. Dia dibawa ke Lumajang oleh Karlina, seorang guru di Papua yang berasal dari Magelang, Jawa Tengah. Melihat potensi akademis Erwin yang besar, Karlina membawa Erwin pulang ke Jawa agar memperoleh pendidikan lebih baik.

Erwin Yikwa (ketiga dari kiri) sedang belajar mengoperasikan komputer di sekolah.

Terlintas obrolan dengan Suster Ambrosia tadi malam. Suster yang pernah bertugas di Papua selama enam tahun ini paham betul, bahwa lingkungan tempat tinggal berperan besar terhadap perkembangan pendidikan anak. “Mengajari mereka ilmu pasti seperti matematika, bahasa, dan fisika itu penting. Namun jauh lebih penting adalah ilmu budi pekerti,” kata beliau. Mendidik mereka agar disiplin dan beretika, menurut Suster Ambrosia, adalah pondasi dasar pembentukan karakter.

Ada hal yang tidak akan dijumpai anak-anak itu ketika hidup di lingkungan aslinya, yakni visi dalam melihat masa depan. “Anak-anak yang tetap tinggal di tempat asalnya, hidupnya akan berputar disitu-situ saja. Dengan pergi ke Jawa, pandangan mereka akan lebih terbuka dan jauh ke depan. Harapannya, ketika kelak kembali ke tempat asal, mereka bisa membangun tanah kelahirannya dan memberi inspirasi bagi masyarakat daerahnya,” tutur Suster Ambrosia.

Tak terasa pagar sekolah yang kami tuju sudah di depan mata. Tertera papan nama SMP Katolik Santo Lukas milik Yayasan Karmel, lembaga yang juga menaungi panti asuhan Regina Pacis. Sekolah ini adalah salah satu sekolah tertua disini, karena telah ada sejak tahun 1958. Hampir semua muridnya adalah juga penghuni panti asuhan.

Walaupun kondisi sekolah terlihat sederhana dan muridnya hanya berjumlah 54 orang, namun lengkap fasilitasnya, karena disini tersedia lab komputer dan bahasa yang cukup layak. Prestasinya pun membanggakan. Salah satunya adalah siswa-siswinya selalu menjadi langganan untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya di kecamatan, di setiap upacara peringatan hari kemerdekaan.

“Erwin mau jadi apa kalau sudah besar nanti?” tanyaku sebelum melepasnya masuk ke dalam kelas. Bocah yang sedari tadi berjalan dalam diam itu lalu tersenyum.

“Jadi tentara…” Katanya malu-malu. Suaranya lirih, tapi cukup jelas di telinga saya, dan mungkin jawaban singkatnya itu akan membekas di pikiran saya dalam waktu yang lama…

Hendra (paling depan) memimpin temannya pulang dari sekolah.

Penulis & Fotografer : Adhi Kusumo
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.