READING

Ini Alasan Banser Tak Perlu Minta Maaf Atas Pembak...

Ini Alasan Banser Tak Perlu Minta Maaf Atas Pembakaran Bendera Tauhid.

JOMBANG- Pembakaran bendera berlafadz tauhid di Garut Jawa Barat bukan tindakan pelecehan. Pembakaran oleh oknum Barisan Ansor Serba Guna (Banser) justru untuk menyelamatkan ayat suci dari penyalahgunaan.

Karenanya menurut Ketua GP Ansor Jawa Timur Solahul’ Am Notobuwono (Gus Aam), Banser tidak perlu memohon maaf. “Tindakan pembakaran itu benar, maka Banser tidak perlu minta maaf, “ujar Gus Aam di Pondok Pesantren Bahrul UlumTambak Beras Jombang Rabu (24/10).

Seperti dilansir dari Inews.id, dengan dibakar kalimat tauhid itu menjadi selamat. Kelompok tertentu dan terlarang tidak berkesempatan lagi menyalahgunakannya. Dalam rangka penyelamatan kalimat suci, menurut Gus Aam membakar adalah cara yang diajarkan Islam.

Membakar menjadi opsi kedua ketika pemusnahan melalui media air tidak bisa dilakukan. “Toh saat pembakaran dilakukan dengan dipegang. Bukan diletakkan di tanah, “tutur Gus Aam.

Jika tidak dibakar, khawatirnya justru akan menjadi sampah. Jika itu terjadi, menurut Gus Aam seluruh umat Islam yang mengetahui dan membiarkan akan ikut menanggung dosa.

Sekretaris Jendral GP Ansor Pusat Abdul Rochman mengatakan tindakan pembakaran itu bentuk kecintaan Banser dan seluruh peserta pada bangsa dan tanah air. Karenannya langkah spontan anggota Banser, kata dia tidak bisa disalahkan.

“Tindakan ini menunjukkan kecintaan Banser dan seluruh peserta pada bangsa dan tanah air di tengah memperingati Hari Santri Nasional, “ujarnya di Kantor PP GP Ansor Jakarta.

Bendera yang dibakar itu diketahui milik ormas Islam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yakni ormas yang resmi dilarang pemerintah. Ada oknum peserta peringatan Hari Santri Nasional di Garut Jawa Barat (22/10)  yang diduga sengaja menyusupkannya.

Menurut Abdul Rochman, panitia HSN sejak awal sudah mengumumkan hanya bendera Merah Putih yang boleh berkibar di dalam acara. Kepada seluruh peserta panitia mewanti wanti tidak membawa bendera HTI.

“Namun pada saat pelaksanaan upacara peringatan Hari Santri Nasional, tiba tiba ada oknum yang mengibarkan bendera yang diketahui publik, khususnya peserta dan Banser sebagai bendera HTI, “terangnya.

Oknum pengibar bendera HTI langsung ditertibkan. Abdul Rochman menegaskan tidak ada penganiayaan maupun persekusi dari anggota Banser. “Ini menunjukkan Banser memegang teguh kedisiplinan organisasi dan sudah sesuai koridor hukum yang berlaku, “ungkapnya.

Sementara Majelis Ulama Indonesia menyatakan bendera yang dibakar oknum Banser NU di Garut bukan bendera ormas HTI. Bendera itu merupakan kain bertulisan kalimat tauhid.

“Kita melihat yang dibakar itu kalimat tauhid. Karena tidak ada simbol HTI, “ujar Wakil Ketua Umum MUI Yunahar Ilyas di Kantor MUI Pusat Jakarta (23/10). MUI menyesalkan insiden pembakaran itu. Karenanya  MUI mendesak Ansor maupun Banser menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada  seluruh umat Islam. (*)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.