READING

Ini Kriteria Caleg 2019 Yang Layak Dicoblos, Dilua...

Ini Kriteria Caleg 2019 Yang Layak Dicoblos, Diluar Itu Lupakan Saja

“Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”(hadist).

JADI jangan buru buru apriori maupun skeptis dengan para calon anggota legislatif 2019. Jangan gegabah fikir, apalagi ditingkahi cibiran, alah mereka adalah para kumpulan machiavellian, dimana segala cara adalah halal. Jangan.

Sebab saat ini yang pantas menyemat sebutan (sebaik baiknya manusia) itu adalah mereka. Mulai caleg DPRD, DPRD Provinsi sampai DPR RI. Tak peduli berasal dari partai anyaran, kecil, menengah, maupun besar, semuanya pantas disebut.

Kenapa begitu?. Karena semuanya dermawan, suka awehan, loman, altruis. Bahkan saat ini bisa jadi altruisnya altruis. Manusia yang suka rela menyerahkan materi, waktu, tenaga, dan pikiran untuk orang lain. Pagi, siang dan malam.

Kalau tak percaya, tengok saja kalimat yang tercetak pada alat peraga baliho, spanduk dan sebagainya. Apa ada yang jelek?. Meski kadang ada satu dua yang lucu dan memaksakan, mayoritas tetap baik. Semuanya visioner, membuat harapan bagus, cita cita baik.

Kalau disarikan, intinya mengusung jargon one for all, all for one. Kalau dikontekskan menjadi, “caleg untuk semua, semua untuk caleg”. Tentu yang dimaksud “semua untuk caleg” dengan konotasi positif.

Kalau masih sanksi juga, iseng iseng buatlah permintaan dua bungkus rokok ditambah secangkir kopi. Atau sedikit lebih gede, semisal sumbangan untuk acara senam sehat bareng, gerak jalan bersarung bareng, mancing bareng, atau elektonan bareng. Pasti akan diberi.

Kalaupun tak dikabulkan, doi minimal akan menawari MoU pembangunan jalan, bantuan kambing, progam jasmas, bantuan alat olahraga, perkakas kematian, sound system pengajian dan sebagainya dan sebagainya. Tentu dengan kata kunci, bila nanti JADI.

Masalah apakah janji itu akan terwujud atau hanya sebatas ndabrus, itu perkara lain. Yang penting diiyakan dulu. Nyenengin hati dulu. Perjanjian dibuat dulu, asal bisa mendulang biting (baca: suara) sebanyak banyaknya pada coblosan mendatang.

Tahukah kalian, sebaik baik manusia caleg ini juga murah senyum. Masih jarak 100 meter dimana batang hidung yang akan ditemui belum nongol, sudah tersenyum. Dikritik tersenyum. Dipojokkan tersenyum. Bahkan dibully, asal suara dukungan terdongkrak, juga tersenyum.

Pokoknya madep ngalor senyum, madep ngidul senyum. Singkatnya dengan shodaqoh senyum kedudukan caleg sebagai sebaik baiknya manusia semakin kokoh.

Tidak hanya murah senyum. Tetapi juga ringan tangan dan kaki, ditambah telinga yang makin terasah tajam. Mendengar ada kerja bakti di lingkungan, langsung bergegas datang. Padahal gilirannya masih dua hari mendatang.

Sriwing sriwing dengar kabar kematian, langsung mandi, berganti baju, tanpa konfirmasi bergegas takziah.  Eh, tak tahunya keliru alamat rumah.

Mendengar warga membangun rumah, langsung jegagik tiba paling awal. Bantu angkat angkat apa saja yang bisa diangkat. Usung usung apa saja yang bisa diusung. Padahal oleh pemilik rumah, pembangunan sudah diborongkan tukang.

Tentu tidak apa apa. Hanya kekeliruan sebesar biji sawi. Yang penting niatnya. Demi untuk kebaikan bersama (Baca: mendulang suara).

Begitulah sebaik baiknya manusia caleg. Kalau tidak bisa bermanfaat secara materi, masih bisa bermanfaat secara jasa. Persoalanya, ini  kompetisi  pesta demokrasi.  Kalau semua caleg adalah “sebaik baiknya” manusia, yang repot justru pemilih.

Memilih yang terbaik dari yang baik memiliki tingkat presisi kerumitan yang setara dengan memilih yang buruk dari yang paling buruk. Karenanya tidak mudah. Agar tidak terjadi sesat pilih  jatimplus mencoba memberikan panduan kepada calon pemilih.

Pilihlah caleg setelah memperhatikan hal hal berikut ini. 

Pertama, abaikan dulu seluruh kebaikan caleg yang saat ini membuat mereka disebut sebagai sebaik baiknya manusia. Lupakan sikap caleg yang dermawan, suka berbagi, suka awehan, loman, altruis.

Kenapa demikian?. Agar kita bisa berfikir sehat dan obyektif. Karena bisa jadi semua kebaikan yang ditampakkan hanya kamuflase, hanya kepura puraan.

Kedua, masih terkait dengan yang pertama. Setelah berhasil mengibaskan semua kebaikan, cek rekam jejak (track record) masing masing caleg. Seperti apa tabiat sebelumnya, sepak terjangnya, apakah kebaikan memang sudah wataknya atau hanya bersifat instan atau berpamrih.

Semisal dulu kikir, sekarang mendadak gemar shodaqoh. Dulu individual, intoleran, kaku, menangan,  sekarang murah hati, bersosial, lembut, ringan tangan, ngalahan.  Boleh boleh saja meyakini hidayah datang tak kenal waktu dan tempat.

Namun di dunia politik, percayalah, hal itu berlaku hanya sepersekian persen. Selebihnya adalah fatamorgana.   

Ketiga, prestasi. Sebelum menjatuhkan pilihan, coba lihat prestasi apa yang sudah dibuat caleg. Semisal pernah menjadi ketua erte, kades, ketua karang taruna, lurah , memimpin klub sepak bola atau bahkan pernah menjadi kepala daerah dan lain sebagainya.

Kalau tidak punya prestasi apa apa, bahkan cenderung membikin kemunduran, kehancuran,  bahkan  indikasi korup, segera lupakan saja. Baik itu caleg anyar maupun caleg lawas, yakni pernah jadi dan kecanduan maju lagi.

Tidak usah berpikir panjang, segera banting setir ke caleg lain (tentu dengan verifikasi yang sama). Sebab dalam pesta demokrasi, pemilih adalah raja.

Lalu bagaimana dengan caleg yang belum pernah memimpin apapun?. Gampang. Cukup melihat kehidupan  rumah tangganya.  Minimal doi adalah pemimpin rumah tangga yang baik. Kalau belum menikah cukup melihat keluarganya. Minimal memiliki kebaikan sosial yang tidak dibuat buat. 

Keempat, ini tidak kalah penting. Bahkan sangat penting. Sebelum memilih seorang caleg, lihat dulu pasangan hidupnya (istri/suami). Ingat pameo, dibelakang caleg hebat (baca: baik), selalu berdiri istri/suami yang baik.

Sebaliknya sebaik baik seorang caleg, tidak akan jadi baik, bila istri/suaminya tidak baik. Sebab “konsultan” pertama dan utama seorang caleg adalah pasangannya. Obrolan diatas tempat tidur, di meja makan, di ruang keluarga selalu mendahului pertemuan di ruang rapat.

Tiga perempat pendengaran caleg model ini adalah untuk istri/suaminya. Baru sisanya untuk kolega politik dan konstituennya.

Kalau menjumpai caleg seperti itu, sebaiknya segera bergeser ke caleg lain. Daripada kalian kecewa di kemudian hari. Bagaimana dengan caleg belum menikah?. Sekali lagi, gampang. Tinggal cek keluarganya. Apakah di lingkungan tempat tinggalnya tergolong keluarga yang baik atau tidak.

Kelima, muda, cakep dan tentu saja cakap (baca: cerdas). Ini bonus panduan memilih yang juga perlu diketahui. Namun bukan berarti caleg tua tidak perlu dipilih. Komparasi ini berlaku jika caleg muda dan tua sama sama berkapasitas baik.

Biarlah yang tua berada di belakang. Menjadi pembimbing, pengarah bagi yang muda guna melanjutkan estafet kepemimpinan.

Demikian panduan untuk para pemilih agar tidak terkecoh, terkibuli, maupun terperdaya oleh kebaikan mendadak para caleg 2019. Karenanya minimal pilihlah sesuai panduan ini. Diluar yang ada ini, jangan takut takut untuk segera balik kanan/kiri. Sebab sekali lagi, pemilih adalah raja.  (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.