READING

Ini Penyebab Terjadinya Wabah Ulat Bulu di Jawa Ti...

Ini Penyebab Terjadinya Wabah Ulat Bulu di Jawa Timur

TUBAN – Sejumlah kota dan kabupaten di Jawa Timur dilanda serangan ulat bulu. Ahli pertanian memastikan ulat tersebut tak membahayakan manusia dan akan hilang sendirinya.

Serangan ulat bulu dilaporkan terjadi di kawasan perbukitan Kapur, Kabupaten Tuban pekan lalu. Ribuan ulat bulu yang semula bertengger di pohon jati tiba-tiba merangsek ke pemukiman warga. Tak hanya rumah, ulat bulu berwarna gelap itu juga mengerumuni gedung sekolah. Serangan terbanyak terjadi di Desa Montong Sekar, Kecamatan Montong.

Di Ponorogo serangan serupa juga terjadi di rumah penduduk di Desa Setono, Kecamatan Jenangan. Setelah memenuhi tanaman di perkebunan, ulat-ulat ini mulai merambah rumah warga. Untuk mengendalikan mereka, warga setempat berusaha melakukan pembasmian dengan menyemprotkan cairan kimia. Namun upaya ini tak cukup efektif karena hanya mampu menjangkau bagian bawah pohon.

Serangan ulat bulu ini bukan pertama kali. Beberapa tahun lalu serangan serupa terjadi di sejumlah daerah di Jawa Timur. Kabupaten Kediri, Probolinggo, dan Bondowoso adalah sebagian kecil kawasan yang dilanda serangan ulat bulu. Tak hanya menjijikkan, warga juga mengaku gatal-gatal jika bersentuhan dengan ulat berwarna gelap ini.

Lantas apa yang menyebabkan terjadinya kemunculan ulat-ulat ini?

Lektor Kepala pada Universitas Bina Nusantara Dr. Ir. Haryono, M.Sc, mengatakan fenomena ini merupakan dampak dari meningkatnya populasi ulat bulu. “Dinamika peningkatan populasi ulat bulu ini disebabkan perubahan ekosistem,” kata Haryano dalam sebuah artikel Penyebab Serangan Ulat Bulu Terdeteksi.

Mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian RI ini mengatakan penelitian terhadap spesies ulat bulu yang diperoleh dari berbagai lokasi menunjukkan adanya faktor penyebab yang sama, yakni perubahan ekosistem. Hal ini diperkuat oleh kajian peneliti dan akademisi bidang entomologi (serangga) dari LIPI dan IPB.

Berkurangnya pemangsa alami ulat seperti burung, kelelawar, dan semut rangrang membuat populasi ulat bulu meningkat tajam. Ditambah pula dengan perubahan suhu dan kelembaban udara yang membuat pemangsa alami ulat bulu berkurang.

Haryono juga mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak terlalu khawatir dengan banyaknya ulat bulu ini. Mereka juga bukan merupakan ancaman bagi petani karena tak menyerang tanaman pangan. “Ulat bulu tak memangsa tanaman inangnya seperti wereng. Ia hanya memakan daunnya saja,” kata Haryono.

Penelitian yang dilakukan di Probolinggo menyebutkan jika ulat bulu ini tak mempengaruhi produktivitas pohon mangga di sana. Ulat ini hanya memangsa daun mangga tanpa merusak daging buahnya.

Selain itu ulat bulu juga tak bisa disebut wabah seperti wereng. Mereka tak bisa menyebar ke tempat lain kecuali terbawa secara tak sengaja.

Hal yang lebih penting diketahui masyarakat adalah keberadaan ulat bulu ini akan hilang dengan sendirinya. Alam memiliki mekanisme keseimbangan sendiri, sehingga populasi ulat bulu ini akan mereda. Karena itu warga diminta tak terlalu berlebihan mereaksi ulat-ulat bulu ini. (*)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.