READING

Inilah Kasus Pembunuhan Sadis LGBT di Jawa Timur

Inilah Kasus Pembunuhan Sadis LGBT di Jawa Timur

Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) adalah penyebutan untuk keanekaragaman identitas seksualitas dan gender. Istilah ini mulai populer dipergunakan sejak tahun 1990-an untuk menggantikan frasa “komunitas gay” atau kelompok yang disebutkan.

Di Jawa Timur kelompok ini diketahui eksis dan hidup di tengah masyarakat. Dalam pergaulan sosial kaum LGBT cenderung membentuk kelompok tertutup. Hingga tak heran jika hanya sedikit masyarakat yang mengetahui aktivitas mereka secara detil, selain orang-orang terdekat.

Very Idham Henyansyah (Ryan)

Ryan saat menunggu proses persidangan. Foto Liputan6.com

Very Idham Henyansyah, atau dikenal dengan sebutan Ryan, adalah salah satu gay (homo seksual) asal Jombang yang sempat menarik perhatian dunia. Pria kelahiran 1 Februari 1978 ini ditangkap aparat kepolisian lantaran aksi pembunuhan berantai yang dilakukan sepanjang tahun 2007 – 2008.

Penyelidikan yang dilakukan petugas kepolisian menemukan fakta mengejutkan tentang aksi pembunuhan berantai yang dilakukan Ryan. Tercatat jumlah korban yang dihabisi mencapai 11 orang.

Aksi pembunuhan sadis ini terungkap dari penemuan mayat termutilasi di Jakarta pada Sabtu 12 Juli 2008. Warga digegerkan dengan ditemukannya tujuh potongan tubuh manusia di dalam dua buah tas dan sebuah kantong plastik di dekat Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan.

Belakangan terungkap identitas korban adalah Heri Santoso, 40 tahun, seorang manager penjualan sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Heri dibunuh dan dimutilasi oleh Ryan di sebuah apartemen di Jalan Margonda Raya, Depok. Kepada petugas Ryan mengaku tersinggung kepada Heri lantaran menawarkan sejumlah uang untuk berhubungan dengan pacarnya, Noval (seorang laki-laki).

Polisi makin terkejut saat melakukan pemeriksaan terhadap Ryan yang telah diketahui sebagai pelaku pembunuhan sadis itu. Kepada petugas Ryan mengaku telah membunuh 10 orang lainnya dan mengubur di halaman belakang rumahnya di Jombang.

Meski sempat meragukan pengakuan Ryan, polisi akhirnya membongkar bekas kolam ikan di belakang rumah orang tua Ryan di Jombang. Hasilnya, ditemukan empat tubuh manusia dengan sebagian hanya menyisakan kerangka. Selanjutnya polisi menyisir lokasi halaman belakang rumah hingga mengungkap 11 pembunuhan sadis yang dilakukan Ryan.

Atas perbuatannya Ryan dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Depok pada tanggal 6 April 2009. Sempat mengajukan banding hingga peninjauan kembali, Mahkamah Agung tetap menjatuhkan hukuman mati kepadanya.

Mujianto, Jagal 15 Orang

Mujianto diperiksa di Mapolres Nganjuk. Foto Tempo/Hari Tri Wasono

Seorang gay di Nganjuk didakwa melakukan pembunuhan kepada teman kencannya. Lebih sadis dari Ryan, pemuda pendiam bernama Mujianto ini mengaku telah menghabisi 15 orang.

Berbeda dengan Ryan yang melakukan pembunuhan dengan cara kekerasan dan memutilasi, modus yang dilakukan Mujianto menggunakan racun binatang. Meski baru terungkap pada bulan Februari 2012, pembunuhan sadis ini sudah dilakukan Mujianto sejak tahun 2011.

Serupa dengan Ryan, Mujianto mengaku menghabisi korbannya karena sakit hati. Dia cemburu lantaran pasangannya yang juga majikannya, Joko Suprapto, menjalini hubungan dengan pria lain. “Semua yang berhubungan dengan Pak Joko (saya bunuh),” kata Mujianto saat diperiksa polisi di Polres Nganjuk.

Modus operandi yang dilakukan Mujianto adalah berpura-pura berkenalan dengan calon korbannya. Selalnjutnya dia mengajak bertemu di Nganjuk karena sebagian besar korbannya berdomisili di luar kota.

Uniknya, sebelum menghabisi mereka, Mujianto mengajak berhubungan intim di tempat-tempat umum seperti toilet masjid dan SPBU. Usai melancarkan hajatnya, Mujianto memesan teh di warung untuk diberikan kepada korban. Teh itu diam-diam dicampur racun binatang dalam dosis besar. Hal inilah yang membuat aksi tersebut sulit diungkap lantaran sebagian besar korban meninggal dengan diagnosa sakit.

Mujianto juga tak mengubur mereka seperti yang dilakukan Ryan. Rata-rata korban ditemukan meninggal di jalan atau di rumah mereka.

Komunitas Gay

Oktober 2018, Tim Cyber Kepolisian memburu admin grup facebook penyuka sejenis (gay) di Tulungagung, Blitar, dan Kediri. Grup tersebut diketahui telah memiliki 4.341 anggota yang berkomunikasi di dunia maya.

Upaya pelacakan admin grup facebook bernama Gay Tulungagung Blitar Kediri ini dilakukan untuk mencegah kegaduhan yang muncul di masyarakat. Informasi polisi menyebut grup ini telah berdiri sejak tahun 2013.

Keberadaan grup facebook tersebut makin menguatkan keberadaan LGBT di Jawa Timur. Dan disadari atau tidak, sejumlah riset menyebutkan jika pertumbuhan mereka secara kuantitas berlangsung cukup masif.

Kasus pembunuhan disertai mutilasi yang menimpa Budi Hartanto, 28 tahun, seorang guru honorer di salah satu sekolah dasar Kota Kediri mulai dikait-kaitkan dengan keberadaan LGBT. Meski belum memberikan keterangan resmi, Kepolisian Resor Blitar tak menampik adanya isu tersebut. Semoga kasus ini tak mengulang tragedi berdarah Ryan dan Mujianto. (Hari Tri Wasono)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.