Inilah Seluk Beluk Buzzer Medsos

KEDIRI – Tim Cyber Kepolisian Resor Tulungagung meringkus komplotan pembuat informasi di media sosial. Mereka diringkus lantaran informasi yang diproduksi tak semuanya benar alias hoax.

Langkah Kepolisian Tulungagung untuk “membersihkan” jagat media sosial dari informasi hoax patut diapresiasi. Ini sekaligus membuktikan jika tak ada ruang di kehidupan masyarakat yang bebas nilai atau tak terikat aturan. Bahkan di dunia maya sekalipun.

Penangkapan Rohmat Koerniawan, 38 tahun, pemilik akun Facebook Puji Ati oleh tim Cyber Polres Tulungagung tak terlalu mengejutkan. Selama musim pilkada lalu, tim ini juga menghanguskan 240 akun facebook abal-abal yang memprovokasi warganet. Sebagian dari pemilik akun diduga merupakan relawan pasangan calon kepala daerah. Namun sebagian lainnya memang dibayar untuk memproduksi informasi tertentu.

Akun yang berbayar ini oleh warganet kerap disebut sebagai buzzer. Muhammad Fikri, praktisi media sosial mengatakan, pada awalnya platform ini merupakan alat bantu personal branding. Belakangan tugasnya berkembang menjadi company branding yang dibutuhkan di dunia usaha.

Seperti dilansir Merdeka.com, Muhammaf Fikri mengatakan jika seorang buzzer biasanya berawal dari seorang blogger atau pemilik mailing list komunitas tertentu. Ketika memiliki pengikut yang cukup banyak, mereka kerap “menjualnya” kepada pihak lain yang membutuhkan. “Buzzer kebanyakan memiliki motif ekonomi, tapi tidak selalu kompensasi uang. Bisa juga produk atau paket wisata dan fasilitas lainnya,” kata Fikri.

Tahun 2013, tarif seorang buzzer sudah mencapai Rp 2 juta per tweet atau tulisan di blog. Kini seiring massivnya media sosial, tarif itu terus meroket. Tak heran jika penghasilan seorang buzzer bisa mencapai ratusan juta per bulan.

Baca juga: Pemilik Akun Facebook Ditangkap Polisi

Meski mulai dikenal di tahun 2013 sebagai pemain politik, profesi buzzer sebenarnya sudah muncul sejak tahun 2010. Kala itu peran buzzer dibutuhkan untuk memasarkan produk tertentu. Namun belakangan para politikus atau pejabat membutuhkan untuk pencitraan diri.

Lembaga riset independen CIPG (Centre for Innovation Policy and Governance) dalam risetnya menemukan beberapa fakta seputar buzzer. Seperti ditulis Kumparan.com, buzzer memiliki motif sukarela dan komersial. Buzzer sukarela melakukan itu karena didorong oleh ideologi dan rasa kepuasan. Hal ini sangat terasa dalam perang medsos di kontestasi pilkada, pileg, dan pilpres.

Buzzer yang semula diartikan sebagai penyebar pesan tertentu yang identik dengan unsur bisnis (mempromosikan produk), kini beralih menjadi negatif. Banyaknya buzzer yang bermain di wilayah politik membuat stigma miring kepada pelaku usaha ini.

Mereka bekerja dengan membuat kegaduhan agar orang-orang mengarahkan perhatian pada isu/topik tertentu. Kesuksesan ini bisa dilihat dari kemampuan menciptakan topik yang populer (trending). Tak jarang mereka menciptakan hoax untuk mencapai tujuan itu.

Riset CIPG juga mencatat bahwa buzzer kerap membuat atau memanfaatkan situs berita untuk meningkatkan kredibilitas kontennya, selain aplikasi WhatsApp dan Telegram.

Di dunia politik, terdapat tiga pemain utama dalam industri buzzer, yakni klien yang terdiri dari korporasi dan partai/kandidat politik, agensi komunikasi sebagai perantara, dan buzzer itu sendiri. Sayangnya masyarakat masih memberi perhatian lebih kepada buzzer. Sementara peran klien dari partai/kandidat politik dan agensi komunikasi sering luput dari sorotan. (*)

Print Friendly, PDF & Email

  1. […] Inilah Seluk Beluk Buzzer Medsos […]

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.