READING

International Hydrogeology Field Course 2019, Memb...

International Hydrogeology Field Course 2019, Membaca Narasi Batu di Komplek Gunung Api Bromo-Tengger

PASURUAN – Bagi para ahli geologi dan vulkanologi, bebatuan yang menyusun bumi ini bisa dibaca sebagai pengetahuan yang mengisahkan masa lampau, kini, dan masa yang akan datang. Bebatuan pun bisa mengisyaratkan tentang keberlangsungan kehidupan dan syarat hidup.

Di sisi lain, komplek gunung api Bromo, Tengger, dan Semeru merupakan narasi bebatuan yang sohor. Bukan hanya karena indahnya, namun juga informasi yang dikandung untuk menumbuhkan kehidupan di sekitarnya. Memahaminya akan bisa memberi gambaran bagaimana masyarakat telah menggunakan sumber alam khususnya air dan bagaimana langkah konservasi. Magnet ini yang menarik para ahli geologi, geografi, hidrologi, dan vulkanologi dari berbagai negara untuk berkumpul di Pasuruan dalam acara International Hydrogeology Field Course 2019 pada tanggal 21 April hingga 25 April 2019. Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Universitas Gajah Mada, Universite De Montpellier, Danone, Rejoso Kita, dan Ground Water Working Group (GWWG).

Dr. Lucas Dony Setiadi, geologis dari UGM sedang menjelaskan batuan di sekitar sumber air Umbulan, Pasuruan, 22/04/2019.
FOTO: JATIMPLUS.ID/TITIK KARTITIANI

Menurut Dr. Ir. Heru Hendrayana, koordinator GWWG, komplek gunung api Bromo-Tengger merupakan tempat yang unik untuk mempelajari keragaman geologi dan sosial khususnya vukanologi, air tanah, dan sosial masyarakat di sekitarnya. Beberapa hasil riset dari program master, doktor, dan Ph.D dari dua universitas ini dipaparkan agar perserta mendapatkan gambaran kondisi komplek gunung api Bromo-Tengger.

Pada hari pertama praktik lapang (22 April), perserta diajak untuk menyusuri titik-titik lokasi yang sudah ditentukan berdasarkan perkiraan lapisan batuan yang menyusun area komplek gunung api. Para mentor mengajak untuk membaca irisan tebing yang dibentuk oleh rekahan/longsoran alami maupun irisan vertikal yang dihasilkan dari penambangan pasir galian C.

Melihat lapis demi lapis kulit bumi akan memberi tahu pada “para pembaca” bagaimana lapisan kulit bumi dibentuk.

“Kalau dilihat dari perbedaan warna dan batu penyusunnya, wilayah ini dibentuk oleh dua kali letusan gunung api,” kata Teuku Reza, geologis dari ITB, di salah satu lokasi Wonorejo. Sedangkan asal letusan tidak mesti dari gunung terdekat (Bromo), bisa jadi dari gunung lain yang mengalirkan lava cukup jauh. Hipotesa-hipotesa yang ada diinventarisasi untuk mendapatkan kesimpulan yang tepat bagaimana daur hidrologi berlangsung di sisi utara Bromo-Tengger selama ribuan tahun.

Hal ini akan berpengaruh pada akuifer (lapisan bawah tanah yang mengandung air) di komplek gunung api Bromo, termasuk di Pasuruan. Kunjungan lapang hari ke-dua (22/4/2019), peserta diajak mengunjungi dua sumber air yaitu Umbulan dan Banyu Biru. Dari sana disusuri letak kawasan tangkapan air hingga keluar sebagai sumber air.

Pola akuifer yang dipetakan berhubungan dengan penggunaan air baik oleh industri dan oleh masyarakat. Ketika peserta mengunjungi pabrik PT. Tirta Investama di Keboncandi, mereka melihat bagaimana produsen air mineral merek Aqua dihasilkan.

Pabrik Aqua Keboncandi. Sumur ini memonitor tinggi pancaran air tanah yang digunakan oleh Aqua, 22/04/2019.
FOTO: JATIMPLUS.ID/TITIK KARTITIANI

“Aqua mengambil air dari kedalaman 110m kemudian dipasang screen yang mencegah air pada kedalaman di atasnya tidak ikut tersedot,” kata Hari Wicaksono, CSR Coordinator Aqua Keboncandi. Hari menjelaskan bahwa kedalaman akuifer yang diambil oleh PT. Tirta Investama berbeda kedalaman dengan sumur-sumur warga sehingga harapannya keberadaan pengeboran air industri ini tidak mengganggu sumber air warga setempat.

Di sisi lain, pertumbuhan sumur khususnya sumur artesis warga semakin banyak. Alix Toiler, mahasiswa Universite De Montpellier, menginventarisasi pertumbuhan jumlah sumur warga untuk penelitian untuk program Ph.Dnya dari tahun 2016-2019. Alix mencatat, tiap tahun sumur warga bertambah 30 buah. Sumur tersebut mengalirkan air dari kedalaman 50-60m dan dibiarkan memancar selama 24 jam tanpa kran pembuka dan penutup.

Alix Toulier, peneliti dari Universite De Montpellier sedang memonitor curah hujan di Stasiun Hujan Kronto, Pasuruan. Perhitungan dari stasiun hujan bisa memperkirakan lokasi resapan air yang paling efektif sehingga menjadi lokasi tepat untuk reboisasi maupun konservasi lainnya, 22/04/2019.
FOTO: JATIMPLUS.ID/TITIK KARTITIANI

“Totalnya sejumlah 600 sumur dengan debit rata-rata 4lt/detik selama 24 jam,” kata Alix. Air muntah dari sumur warga sejumlah 2400lt/detik, baik digunakan maupun tidak digunakan. Air yang tidak digunakan akan terbuang di permukaan air. Sejumlah 10% akan meresap ke dalam tanah kemudian kembali mengisi lapisan air tanah (ground water). Sisanya akan menguap melalui proses daur hidrologi dan butuh ribuan tahun untuk kembali menjadi air tanah kembali.

“Kalau tidak ada pengaturan dan tidakan konservasi maka perkiraan saya, sekitar 20-30 tahun lagi Umbulan tidak akan mengeluarkan air lagi,” tambah Alix. Selama ini, sumur dan sumber air artesis (artesis water spring) memancarkan air disebabkan perbedaan tekanan air antara di Pasuruan sebagai tempat keluar air dengan sumber air di lereng Bromo. Pengeboran dalam jumlah banyak akan menyebabkan tekanan menjadi sama dan volume air pun berkurang.

Atas kepedulian ini, maka para pemangku kepentingan baik dari perusahaan, akademisi, dan masyarakat mulai mengadakan konservasi air. Antara lain dengan melakukan reboisasi di tempat-tempat yang menjadi lokasi efektif resapan air berdasarkan peta geohidrologi. Juga melakukan pendampingan masyarakat bagaimana membuat sumur yang ramah lingkungan dan menggunakan air secara bijak. Salah satu contohnya, sumur artesis yang dilengkapi dengan kran sehingga hanya dibuka saat dibutuhkan. Hal ini akan menghemat air tanah yang keluar.

Hari ini (24/4/2019) peserta akan diajak mengunjungi aktivitas Rejoso Kita, sebuah komunitas peduli air di DAS Rejoso sekaligus memotret aktivitas sosial di komplek Bromo-Tengger.

“DAS Rejoso ini luasnya 62 ribu hektare di 16 kecamatan. Di dalamnya ada 118 desa,” kata Dayat, tim lapangan Rejoso Kita. Aktivitas komunitas ini antara lain penanaman pohon di wilayah hulu dan hilir juga aktif mengadvokasi tentang konservasi air.

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.