READING

Isu Kiamat dan Huru Hara Gerakkan Warga Ponorogo B...

Isu Kiamat dan Huru Hara Gerakkan Warga Ponorogo Bedol Desa

PONOROGO- Isu kiamat sudah dekat memaksa 52 warga Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo angkat kaki dari kampung halamannya. Warga yang juga pengikut ajaran tarekat memutuskan hijrah ke Ponpes Miftahul Falahil Mubtadi’in Kecamatan Kasembon Kabupaten Malang.

Eksodus warga berlangsung dalam dua bulan. Hijrah diduga untuk mengikuti Katimun, yakni pimpinan Thoriqoh (tarekat) Akmaliyah Ash–Sholihiyah di desa setempat yang lebih dulu pindah ke Malang. Hijrah terakhir berlangsung 7 Februari 2019 lalu.

Sejumlah kepala keluarga (dari sebanyak 16 kepala keluarga) bahkan telah menjual tanah dan rumah mereka dengan harga murah. Dari pasaran umum Rp 30 juta, harga dibanting Rp 15 juta-Rp 20 juta. “Mungkin karena terburu buru (dijual murah), “kata Kepala Desa Watu Bonang Bowo Susetyo.

Beredar isu juga penjualan semua kekayaan itu atas permintaan pimpinan tarekat. Hasil penjualan untuk disetorkan ke ponpes sebagai bekal di akhirat. Karena akan terjadi huru hara (perang) pada Ramadhan mendatang, warga diminta berlindung di ponpes. Mereka juga diminta membeli pedang seharga Rp 1 juta. Bagi yang tidak membeli diharap menyiapkan senjata sendiri.  

Isu lain yang berkembang adalah kemarau panjang selama 3 tahun ke depan (2019-2021) akan terjadi. Kemarau akan berakibat paceklik hebat. Krisis pangan. Karenanya setiap jemaah diminta menyetor padi atau gabah sebanyak 500 Kg.

Selama paceklik akan terjadi kekacauan sosial. Seorang kakak akan memotong dan memakan tangan adiknya. Kemudian anak usia sekolah dilarang sekolah karena ijazah tidak ada gunanya, anak mengkafirkan orang tua yang tidak berbaiat pada tarekat dan foto pengasuh ponpes dijual Rp 1 juta sebagai jimat penangkal gempa. Karenannya jemaah juga dihimbau mengibarkan bendera tauhid.

Dalam pertemuan yang dihadiri Majelis Ulama Indonesia, Pengurus Nahdlatul Ulama dan Kapolres Batu, pimpinan Ponpes Miftahul Falahil Mubtadin KH Muhammad Romli membantah telah menghembuskan semua isu itu. Baik isu kiamat sudah dekat, terjadinya huru hara sebelum pilpres, maupun terjadinya paceklik, Romli menegaskan tidak tahu menahu.

“Tidak ada. Itu semua hoaks semua, “kata Romli. Kendati demikian, Romli tidak menyangkal jika dalam tarekatnya juga mengajarkan pengetahuan soal kiamat. Namun pengetahuan yang salah satu tanda besarnya adalah datangnya meteor, kata dia sesuai yang diajarkan Al Quran dan Hadist.

Romli juga mengatakan sudah tiga tahun ini pondoknya melaksanakan program ibadah tiga bulanan yang dimulai bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan. Ibadah triwulanan itu dalam rangka menyongsong datangnya meteor. Karena banyaknya jamaah, yang semula hanya membawa mie instan, diganti membawa beras atau gabah 5 kwintal per kepala.

Asumsinya sebagai bekal ibadah selama triwulan di ponpes. “Ini sudah berjalan tiga tahun. Bekal itu untuk dia sendiri kalau terjadi meteor. Kalau tidak terjadi, maka selesai Ramadhan dibawa pulang sendiri sendiri, “jelasnya. Dalam fenomena ini Romli juga menegaskan pihaknya tidak pernah memerintahkan jamaah sampai menjual aset, termasuk rumah.

Dia menilai ada pihak yang sengaja menggoreng isu agar terjadi keresahan di masyarakat. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa langsung mengambil langkah atas fenomena sosial yang terjadi di Ponorogo. Khofifah mengatakan telah berkordinasi dengan Polda Jawa Timur dan Kakanwil Kementrian Agama untuk menginvestigasi persoalan yang terjadi di Ponorogo.

Investigasi khususnya menyangkut aspek perdata dalam penjualan aset rumah dan tanah warga. Khofifah juga meminta seluruh warga Jatim untuk ikut menjaga suasana tetap aman terkendali dan kondusif. ”Kasus ini sedang berproses. Saya sudah telepon Kakanwil Kemenag agar dilokalisir tempatnya. Polres Ponorogo juga sudah turun, “katanya.

Tanda Kiamat Yang Sudah Muncul dan Diimani

Faktanya, datangnya meteor sebagai tanda besar kiamat seperti yang disampaikan pimpinan Ponpes Miftahul Falahil Mubtadin telah menggerakkan 52 warga Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo hijrah ke Malang. Mereka berbondong bondong ke ponpes dalam rangka mencari suaka dunia dan akhirat.  

Menurut Hadist Riwayat Muslim (HR Muslim No 2901), kiamat tidak akan terjadi sebelum muncul sepuluh tanda (peristiwa) besar dengan lima diantaranya peristiwa alam. Kelima tanda besar diantaranya tenggelamnya tanah ke dalam bumi di wilayah Timur, di Barat dan di semenanjung Arab. Kemudian munculnya binatang melata dan matahari terbit dari barat.

Tanda besar lainnya adalah keluarnya api dari Yaman dan memaksa manusia menuju mahsyar (tempat berkumpul), turunnya Nabi Isa bin Maryam, Ya’juj dan Ma’juj (dua golongan besar bangsa manusia) serta keluarnya Dajjal yang sesuai HR Ahmad (no 23144) dicirikan lelaki muda, berkulit merah, buta sebelah dan tidak memiliki anak.    

Adapun tanda tanda kecil kiamat yang sudah atau sedang berlangsung diantaranya munculnya berbagai macam fitnah (tragedi kemanusiaan), munculnya orang orang yang mengaku nabi, diangkatnya ilmu syara’ (agama), maraknya kebodohan (tentang ilmu agama) dan banyaknya polisi dan pendukung penguasa yang zalim.

Al Qur’an Surat Al-Ahzab: 63 dengan jelas menyebutkan tidak ada yang mengetahui waktu terjadinya Kiamat kecuali Allah SWT. Namun meski tidak ada yang mengetahui pasti (waktu datangnya Kiamat), Tuhan telah memberikan clue atau petunjuk. Seperti disampaikan HR Muslim (No 854), Rasulullah (Muhammad SAW) bersabda :

“Sebaik baik hari yang ada matahari terbit adalah hari Jumat: pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke Surga, pada hari itu ia dikeluarkan darinya dan Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat”. (Mas Garendi)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.