READING

Isu Sukmawati Dibawa ke Reuni 212, Ini Tanggapan U...

Isu Sukmawati Dibawa ke Reuni 212, Ini Tanggapan Ulama Jombang

JOMBANG- Pondok pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang tidak berharap polemik Sukmawati Soekarnoputri yang membandingkan Proklamator Soekarno dengan Nabi Muhammad SAW akan memecah belah bangsa.  

Apalagi FPI (Front Pembela Islam) sudah membawa masalah ke ranah hukum sebagai laporan penistaan agama, serta membawanya ke dalam aksi reuni 212 di Jakarta.

Ketua Umum Yayasan Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, KH Wafiyul Ahdi meminta semua pihak untuk bisa menahan diri. “Karena itu (pecah belah) hanya akan merugikan bangsa Indonesia sendiri, “ujar Kiai Wafiyul Ahdi kepada wartawan.

Polemik Sukmawati muncul paska diskusi bertajuk “Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme” di Gedung The Tribata Darmawangsa, Jakarta Selatan 11 November 2019.

Diskusi dalam rangka memperingati hari Pahlawan 10 November 2019. Dalam forum Sukma melontarkan pertanyaan pancingan ke peserta, yang intinya membandingkan perjuangan Bung Karno dengan Nabi Muhammmad di abad 20.

Sukma dianggap telah menistakan agama. Kiai Wafiyul Ahdi berharap kedua belah pihak untuk mencari titik temu. Terutama kepada pelapor untuk lebih dulu menunggu keterangan Sukmawati.

“Ada baiknya mendengarkan keterangan (Sukmawati) secara utuh agar tidak salah paham, “kata pengasuh yang juga dosen Universitas KH Wahab Hasbullah Tambakberas.

Sementara kepada Sukmawati, Kiai Wafiyul Ahdi meminta untuk tidak mudah melontarkan kata kata yang bisa menimbulkan kontroversi di masyarakat. Ia menilai kegaduhan yang berasal dari ucapan Sukma bukan pertama kalinya terjadi.

Membandingkan Nabi Muhammad SAW dan Soekarno dalam konteks Indonesia baginya tidak tepat. Sebab keduanya memiliki peran masing-masing.

“Membandingkan Nabi Muhammad dengan Ir Soekarno kalau konteksnya membangun Indonesia itu perbandingan tidak tepat. Harus dijelaskan fungsi masing-masing,”jelasnya.

Namun kendati demikian, Kiai Wafiyul Ahdi juga menyadari jika Sukma adalah seorang politisi.  Bisa jadi apa yang disampaikan hanya untuk mencuri perhatian publik.  Karenaya menurut dia tidak perlu ditanggapi.

“Kalau dilihat sebagai politisi (Sukmawati) saya kira tidak perlu ditanggapi, “ujarnya.

Reporter : Syarif Abdurrahman
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.