READING

J-Scook, Cara Jurnalis Kediri Merawat Solidaritas

J-Scook, Cara Jurnalis Kediri Merawat Solidaritas

Skuter bagi kelompok jurnalis di Kediri bukan sekedar alat transportasi kerja. Skuter adalah media untuk berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Tak ada kompetisi di antara mereka meski berbeda label perusahaan media.

Semangat inilah yang dipegang teguh para jurnalis yang tergabung dalam komunitas J-Scook, akronim dari Jurnalis Skuter Kediri. Anggotanya adalah para pekerja media yang bertugas di wilayah Kediri, dengan berbagai latar belakang media. Mulai media cetak, online, hingga televisi. Syaratnya satu, punya motor skuter.

Kamis 15 Agustus 2019, komunitas ini merayakan ulang tahun pertama mereka. Menumpang halaman cafe Zona Nyaman di Jalan Veteran Kediri, anggota J-Scook mengenang satu tahun berdirinya komunitas mereka dengan keakraban.

“Ini bentuk syukur kami atas nikmat persaudaraan kawan-kawan J-Scook selama setahun. Kami sudah seperti keluarga,” tutur Andimas Budi, jurnalis Kompas TV yang didapuk menjadi Ketua J-Scook oleh teman-temannya.

Kenapa skuter?

Andimas menganggap skuter adalah kendaraan yang unik. Selain klasik, sepeda motor yang dirancang sebelum perang dunia oleh Hildebrand & Wolfmüller tahun 1894 ini juga memiliki karakter pengendara khusus. Bahkan organisasi penunggang skuter bermunculan di seluruh belahan dunia dan saling berinteraksi.

Solidaritas adalah bahasa universal para penunggang skuter. Tak heran jika hubungan perkawanan antar penunggang skuter terbangun sangat kuat, meski berbeda latar belakang. “Solidaritas inilah yang ingin kami bangun sebagai sesama pekerja media di Kediri,” terang Andimas.

Melalui skuter pula segala bentuk kompetisi industri tempat mereka bekerja bisa diruntuhkan. Tak ada persaingan dalam mencari berita atau gambar. Semua saling membantu dan mendukung.   

Untuk menghargai pertemanan ini pula anggota J-Scook menggelar tasyakuran dalam peringatan setahun keberadaan mereka di Kediri. Termasuk mengundang seorang penunggang skuter senior asal Malang, Cak Supan, yang telah mengelilingi hampir seluruh wilayah Indonesia dengan skuternya.

Cak Supan (kiri) saat berbincang dengan Jatimplus.ID. Foto: J-Scook

Malam itu, pria berusia 42 tahun itu tampak ceria menjadi tamu istimewa peringatan anniversary J-Scook yang pertama. Kepada mereka, Cak Supan terus mengulang pesan-pesan bertema solidaritas yang menjadi ruh penunggang skuter di dunia. “Jika ada yang punya solidaritas melebihi skuter, saya akan berhenti naik skuter,” kata Cak Supan saat berbincang dengan Jatimplus.ID di sela perayaan tersebut.

Mengenakan jaket yang cukup tebal, Cak Supan berusaha menahan dinginnya udara Kota Kediri malam itu. Sesekali dia terbatuk sambil mengeluarkan tiga butir pil dari saku jaket. Rupanya kondisi kesehatan Cak Supan sedang terganggu akibat radang paru-paru yang diderita. “Saya tak pernah menolak undangan acara vespa meskipun sakit,” katanya bersemangat.

Cak Supan juga mengapresiasi format acara J-Scook yang melibatkan banyak orang di luar penunggang skuter. Sebelum acara tasyakuran, pagi harinya komunitas ini menggelar sosialisasi pengenalan rupiah dari Bank Indonesia kepada para pelajar.

Sementara itu Kapolresta Kediri Ajun Komisaris Besar Anthon Haryadi yang menyempatkan hadir di acara itu menitipkan pesan khusus kepada penunggang skuter. “Tetap patuhi peraturan lalu-lintas, termasuk kelengkapan kendaraan. Kami akan melakukan penertiban demi keselamatan rekan-rekan sendiri,” pesannya.  

Penulis: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.