READING

Jadi Polemik, Polisi Dituntut Sigap Selidiki Pelec...

Jadi Polemik, Polisi Dituntut Sigap Selidiki Pelecehan Santriwati

JOMBANG – Kasus dugaan pelecehan seksual yang terjadi di pondok pesantren Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang mulai menjadi polemik. Masyarakat terbelah dalam dua sikap, mendukung dan mengecam pelaku pencabulan yang merupakan pengurus pondok.

Aksi unjuk rasa ratusan perempuan Jombang yang menuntut penangkapan pelaku pelecehan seksual beberapa waktu lalu menuai respon dari pendukung pondok. Mereka meminta masyarakat tak mengintervensi proses penyelidikan yang dilakukan kepolisian. “Tidak boleh diintervensi secara negatif oleh pihak-pihak manapun,” kata Muhamad Soleh, koordinator massa pendukung pondok kepada Jatimplus.ID, Rabu 15 Januari 2020.

Muhamad Soleh adalah salah satu santri yang belajar di pondok pesantren tempat tersangka SA mengajar. Dia berharap polisi bersikap profesional dalam melakukan penyelidikan perkara di pondok tempatnya belajar.

Lebih dari itu, Muhamad Soleh juga memastikan jika kasus pencabulan seperti yang dilaporkan santriwati berinisial NK tidak pernah terjadi. Dia dan santri lain siap memberikan kesaksian bahwa pondoknya bersih dari perbuatan asusila. “Saat ini kita masih melakukan pembahasan di internal pesantren untuk menyikapi hal ini,” katanya.

Sebelumnya sejumlah perempuan di Jombang yang tergabung dalam Aliansi Kota Santri Lawan Kekerasan Seksual menyuarakan desakan pengungkapan kasus itu oleh polisi. Aliansi itu terdiri dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Women Crisis Center (WCC), Fatayat, LBK, KPI, Gus Durian dan Formujeres.

Mereka menilai kerja polisi cukup lamban dalam melakukan penahanan kepada SA. Padahal penyidik Polres Jombang telah menetapkannya sebagai tersangka. “Kami meminta polisi segera menuntaskan kasus ini, dan menahan pelaku,” kata Palupi Pusporini, koordinator Aliansi Kota Santri Lawan Kekerasan Seksual.

Palupi menjelaskan, kasus kekerasan seksual ini dialami oleh NK, seorang santriwati di ponpes Ploso Jombang. Peristiwa ini terjadi pada tahun 2017 lalu, saat NK menawarkan diri menjadi relawan di balai kesehatan pondok tempat SA bertugas. SA adalah pengurus pondok sekaligus putra dari kiai pengasuh pondok tersebut.

Wakil Kepala Polres Jombang Kompol Budi Setiyono memastikan telah menetapkan SA sebagai tersangka. Dia membantah adanya intervensi kepada polisi seperti yang dituduhkan Muhamad Soleh. Saat ini petugas sudah melayangkan panggilan kedua untuk tersangka. “Soal ketidakhadirannya tentunya harus ada alasan yang patut dan pantas di mata hukum,” katanya.

Reporter : Lufi Syailendra
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.