READING

Jaga Estetika, Kafe di Kota Gunakan Sekat Kaca

Jaga Estetika, Kafe di Kota Gunakan Sekat Kaca

KEDIRI – Beberapa kafe di Kota Kediri mulai buka di masa new normal. Mereka sudah boleh menerima pengunjung yang ingin makan di tempat dengan catatan harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Makanya para owner pun mencoba melakukan berbagai upaya agar protokol tersebut tidak merusak vibes dan nilai estetika kafe yang sangat diutamakan.

Aturan terkait pembukaan kafe selama pandemi ini telah ditetapkan walikota dalam Perwali No 16/ 2020 tentang Pengendalian Kegiatan Hiburan dan Perdagangan dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019. Atas aturan tersebut, Walikota Abdullah Abu Bakar menekankan agar semua pelaku usaha berdisiplin menaatinya.

“Saya ingin melindungi Bapak/Ibu pengusaha kafe, agar bisa tetap buka tapi tidak melanggar aturan,” kata Mas Abu ketika evaluasi pelaksanaan Perwali, Kamis (28/05).

Oleh pengusaha, keberadaan aturan ini disambut baik. Pasalnya kini mereka sudah bisa membuka kedai kopinya secara legal dan tidak lagi harus kucing-kucingan dengan petugas terkait. Para pemilik kafe juga tidak merasa keberatan atas protokol kesehatan yang dimuat di dalamnya karena paham bahwa hal tersebut merupakan sebuah keharusan demi menekan angka penyebaran virus.

“Selain menyediakan tempat ngopi, kami juga ingin mengedukasi konsumen untuk selalu taat protokol kesehatan,” terang Agus Leo, pemilik Kafe Alinea, Senin (15/06).

Pengelola kafe menyampaikan aturan tertulis terkait protokol kesehatan sejak di pintu masuk

Kafe Alenia sendiri sebenarnya masih tetap buka sejak awal wabah melanda. Hanya saja ketika itu, kafe yang berada di Kelurahan Setonopande, Kecamatan Kota ini hanya menerima pesanan antar. Pasca ditetapkannya Perwali, tampaknya protokol kesehatan sudah sepenuhnya dilakukan di sana. Begitu masuk ke kafe, pramusaji yang menyambut mengharuskan pengunjung untuk cuci tangan di wastafel yang ada di pintu masuk. Usai cuci tangan, pramusaji menyodorkan tisu untuk mengeringkan tangan. Pengunjung kemudian di tes suhu tubuhnya menggunakan thermo gun.

“Jika suhu di atas 37 derajat Celcius, maka pengunjung tidak diperkenankan masuk kafe dan diminta untuk kembali pulang,” tambahnya.

Para pengunjung juga diharuskan memakai masker. Untuk menyiasati pengunjung yang tidak memakainya sejak datang, pihak kafe menyediakan masker berbayar. Agus membebaskan pengunjung untuk membeli masker di kafe atau di luar kafe. Yang terpenting mereka harus menggunakan masker ketika masuk kafe.

Pengunjung harus mengenakan masker dan dicek suhu tubuhnya sebelum masuk ke dalam kafe

“Ini item yang wajib digunakan sesuai protokol kesehatan,” tegas Agus.

Jika sudah mematuhi segala aturan di pintu masuk, pengunjung bisa memesan menu dan duduk di kursi yang disediakan. Di kursi ini pun diberi jarak. Ada banyak tanda silang merah yang bertebaran yang artinya tidak boleh ditempati. Kapasitas 10 orang per meja kini hanya bisa diisi maksimal 6 orang saja.

Selain itu, yang menarik adalah sekat pembatas kaca bening yang dipasang melintang di meja. menghalangi droplet dari lawan bicara yang berhadapan. Pasalnya ketika berada di kafe, pegunjung melakukan aktivitas ngopi dan ngemil. Masker pun seringkali diturunkan ke dagu agar tidak merepotkan.

Untuk itu, pihak kafe memasang kaca yang membatasi di tengah meja. Meski demikian, setiap pengunjung tetap bisa saling memandang rekan satu meja dengan leluasa. Desain sekat kaca ini memang baru dilakukan namun tetap menarik dan menyatu dengan desain kafe sehingga tetap nyaman.

“Pilihan yang lebih ekonomis dipasang plastik. Tapi tidak aesthetic, orang seperti terpenjara. Dari browsing di Instagram, nemu desain yang sekarang,” tambah Agus.

Selama buka, beberapa pengunjung sesekali melanggar aturan protokol. Seperti menggeser kursi agar bisa berbincang lebih dekat dengan temannya. Atau ada yang sedikit protes mau makan saja ribet. Agus dan para pramusaji pun harus lebih sabar menjelaskan kepada pengunjung bahwa protokol ini bukan ingin mempersulit namun untuk kebaikan bersama.

“Saat ini memang pengunjung tidak seramai sebelum wabah, tapi tetap bersyukur akhirnya bisa buka normal. Semoga kondisinya semakin membaik,” pungkasnya. (pro/Dina Rosyidha)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.