READING

Jam Bencet, Jejak Akulturasi Jawa- Islam di Masjid...

Jam Bencet, Jejak Akulturasi Jawa- Islam di Masjid Kuno Kediri

Tekhnologi ini sangat penting ketika jam transistor belum ditemukan. Disaat parameter waktu masih bergantung kepada alam. Disaat penanda waktu masih mengandalkan rotasi matahari.

Namanya Bencet. Ada juga yang menyebut Istiwa. Terbuat dari lempeng tembaga, bentuk Bencet atau jam matahari itu melengkung setengah lingkaran. Ada deretan titik dan angka di permukaanya (tembaga). Sementara diatasnya melintang besi dengan bagian ujung meruncing.

Besi lancip itu bukan aksesoris. Melainkan berfungsi semacam pendulum atau penanda. Dari bayangan yang timbul dari ujung besi itu, takmir masjid Al Falah di Desa Pagu, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri dapat mengetahui kapan waktu salat bisa dimulai.

“Bencet menjadi penentu waktu salat di masjid atau musala kuno, “kata Novi Bahrul Munib selaku ketua komunitas Pelestari Sejarah-Budaya Kadhiri (Pasak). Cara kerja tekhnologi kuno itu sangat sederhana. Hanya mengandalkan bayangan matahari yang jatuh pada deretan angka.

Sepintas memang sepele. Namun sebelum digunakannya jam dinding atau arloji, fungsi Bencet sangatlah penting. Terutama bagi umat Islam. Tidak heran jika hampir seluruh masjid dan musala yang dibangun sebelum tahun 1980an di wilayah Kabupaten Kediri, memilikinya.

Selain masjid Al Falah, Bencet juga ditemukan di  masjid  Al-Muda’i di Desa Canggu, Kecamatan Badas, dan Masjid Al-Khotib di Desa Adan-adan, Kecamatan Gurah. Karena cara kerja sepenuhnya bergantung dari sang surya, posisi Bencet selalu dipasang di pelataran tempat ibadah. Berada ditempat terbuka dimana sinar matahari bisa langsung menyinari.

“Dan semua Bencet ini masih berfungsi dengan baik, “terang Novi yang merupakan alumni jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang.  

Dari riset yang dilakukan penggunaan jam Bencet diketahui sudah lama. Bahkan sebelum Islam datang. Untuk mengetahui waktu, masyarakat Jawa kuno memakai acuan sinar matahari. Medianya berupa sebatang kayu yang ditancapkan.

Dari bayang bayang yang timbul dari batang kayu itu, waktu bisa ditentukan. Metode ini secara konsep memiliki kesamaan dengan Bencet. Novi curiga, tekhnologi Bencet yang terpasang massif di masjid kuno terinspirasi dari tradisi ini (Jawa kuno).

Kalaupun tidak mengadopsi, ditengarai telah terjadi proses akulturasi, yakni penyatuan dua tradisi tekhnologi.  “Bisa jadi Bencet terinspirasi dari tradisi Jawa. Perpaduan budaya Jawa dengan Islam yang lantas digunakan sebagai penanda waktu salat, “paparnya.

Sementara diluar masyarakat  nusantara, peradaban jam matahari sudah dikenal luas. Misalnya tradisi di Timur Tengah dan suku Aztek hingga Indian Maya. Selain jam matahari mereka bahkan juga memiliki kebudayaan jam pasir. “Tapi kalau Bencet tetap khasnya nuasantara, “katanya.

Menurut Muhammad Amar Sunari pengurus pondok pesantren (ponpes) Kapu di Desa/Kecamatan Pagu,  Bencet di masjid ponpes hingga kini masih terawat dengan baik. Meski sudah ada arloji dan jam dinding, tidak sedikit santri yang masih mengandalkan Bencet sebagai petunjuk waktu salat.  

“Masih banyak yang lebih yakin penanda waktu salat jika melihat bayangan matahari langsung dari Bencet itu,” jelasnya.

Sayangnya sebagai tekhnologi penunjuk waktu salat, Bencet memiliki keterbatasan. Bencet hanya efektif untuk mengetahui waktu salat Duha, Duhur dan Asar. Itupun jika matahari bersinar terang.

Untuk mengetahui kapan tibanya waktu salat maghrib, isyak dan subuh, umat Islam lebih memakai acuan bias cahaya matahari dari ujung ufuk. Karenanya dalam perkembangan peradaban, tekhnologi waktu termutakhir lah yang mampu memberi petunjuk waktu paling presisi. (Moh. Fikri Zulfikar) 

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.