READING

Jamaah Al Muhdlor Tulungagung Sholat Idul Fitri Ha...

Jamaah Al Muhdlor Tulungagung Sholat Idul Fitri Hari Ini

TULUNGAGUNG – Puluhan jamaah Al Muhdlor di Desa Wates, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Kediri menggelar sholat Idul Fitri hari ini. Meski berbeda, mereka mengklaim masih bagian dari Nahdlatul Ulama.

Sedikitnya 50 jamaah Al Mudhlor telah melaksanakan sholat Idul Fitri pagi tadi. Sholat dilaksanakan di Masjid Nur Muhammad dipimpin oleh Habib Sayid Hamid bin Ahmad Muhdlor.

Seperti sholat Idul Fitri yang lain, jamaah melaksanakannya sesuai rukun sholat yang ditetapkan. Usai sholat, mereka tak segera meninggalkan masjid, melainkan berkumpul untuk makan bersama. Kebiasaan ini juga kerap dijumpai pada pelaksanaan ibadah sholat Idul Fitri warga Nahdliyin.

Ditemui wartawan usai memimpin sholat, Habib Sayid bin Ahmad Muhdlor mengklaim tak ada yang berbeda dengan ibadah puasa mereka. Perbedaan pelaksanaan waktu sholat Idul Fitri hanya soal teknik mengitung hari saja. “Sudah ada hitung-hitungannya berdasar petunjuk ahli Falaq. Keyakinan ini juga sudah diikuti jamaah Al Muhdlor sejak lama, sejak masa Habib Sayyid Ahmad bin Salim Al Muhdlor masih hidup,” kata Habib Hamid seperti dikutip Antara.

baca juga: Kisah Gus Maksum, Pendekar Rambut Api Dari Lirboyo

baca juga: Misteri Kuburan Angker di Lirboyo Kediri

Teknik penghitungan waktu lebaran ini diwarisi dari Amad Al Muhdlor, seorang Habib asal Hadramut, Yaman. Meski mendahului dua hari dari jadwal yang ditetapkan pemerintah, mereka memastikan tak ada yang dikurangi dalam pelaksanaan ibadah puasanya. Artinya, pelaksanaan puasa jamaah ini juga lebih cepat dua hari dari ketetapan Kementerian Agama.

Namun demikian, Habib Sayid berulang kali meminta agar masyarakat tak memperdebatkan pelaksanaan sholat Idul Fitri mereka yang dilaksanakan hari ini. Dia tak menginginkan terjadi gesekan atau pro kontra yang akan merugikan pengikut Al Muhdlor. “Perbedaan penghitungan ini harus dipandang sebagai kekayaan khasanah Islam,” pesan Sayid yang menegaskan dirinya bagian dari Nahdlatul Ulama.

Pengikut ajaran Al Muhdlor ini tak hanya di Tulungagung. Sebagian tersebar di sejumlah daerah di Indonesia dan berjejaring hingga ke Mesir, Timur Tengah. Sehingga pijakan ajaran mereka berasal dari Timur Tengah.

Meski berbeda dalam pelaksanaan sholat Idul Fitri, hubungan sosial pengikut Habib Sayid dengan masyarakat sekitar berjalan baik. Bahkan setiap usai pelaksanan ibadah sholat Idul Fitri, masyarakat sekitar turut bersilaturahmi ke kediaman Habib Sayid yang merupakan pengasuh pondok pesantren modern.

Sementara itu Pengurus Pusat Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1440 H atau Hari Raya Idul Fitri 2019 jatuh pada Rabu, 5 Juni 2019. Penetapan dicantumkan dalam maklumat PP Muhammadiyah nomor 01/MLM/I.0/E/2019.

Penetapan Hari Raya Idul Fitri 2019 itu berdasar hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Kementerian Agama Republik Indonesia hingga hari ini juga belum mengumumkan secara resmi waktu pelaksanaan ibadah sholat Idul Fitri. Penetapan ini biasanya melalui sidang Isbat dengan melihat posisi bulan di beberapa titik. (HARI TRI WASONO)

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.