READING

Jamran Seniman Patung Kediri, Mencipta Patung Panj...

Jamran Seniman Patung Kediri, Mencipta Patung Panji Sampai Bumblebee

KEDIRI- Pernahkah bertanya siapa pencipta patung panji berkelir kuning ngejreng yang berdiri di pusar jalan masuk stasiun Kota Kediri?. Patung yang sarat nilai historis itu adalah kombinasi buah pikir dan tangan terampil Jamran, seniman asal Kota Kediri.

Bukan hanya patung panji. Jari jemari Jamran yang cekatan juga menetaskan sejumlah patung lain yang menghiasai sejumlah sudut kawasan Kediri. Sebut saja patung Songgolangit yang bergaya gagah di kompleks wisata Gunung Klotok.  

Kemudian patung Garuda yang berdiri tegak di pintu gerbang Gereja St. Agustinus, Jalan Veteran Kota Kediri. “Tidak banyak patung di Kota Kediri. Beberapa yang ada adalah buatan saya, “tutur Jamran kepada Jatimplus.ID.

Sebagai pematung dan perupa, Jamran telah melarutkan diri ke dalam kolam seni. Datangnya ide, gagasan dari semesta langsung diolah dan  dieksekusinya. Tidak heran, bukan hanya di Kediri. Karya Jamran juga mudah ditemui di berbagai daerah, baik itu pesanan pemerintah maupun swasta.

“Ada banyak pemesan yang tersebar di seluruh Indonesia, tapi pesanan patung paling banyak berasal dari Ponorogo karena pemdanya aktif menghidupkan ikon seni reog di sana, ”ungkap lelaki  berusia 52 tahun itu.

Tidak hanya berhenti pada tokoh legenda. Jamran juga melayani pesanan tokoh wayang dan pahlawan. Bahkan Ironman dan Bumblebee, tokoh fiksi yang diadopsi dari film super hero Holywood juga dipatungkannya.

Patung Panji yang berdiri di pusat jalan masuk stasiun Kota Kediri. FOTO : JATIMPLUS.ID / Adhi Kusumo.

Menurut Jamran, sebagian besar karyanya ditempatkan di area terbuka (outdoor). Karena alasan itu bahan baku yang dipilih harus betul betul awet serta memiliki ketahanan terhadap paparan air  hujan dan sinar matahari yang cukup.

“Dan dibandingkan baja atau besi, bahan fiberglass yang paling diminati, “katanya.

Selain bagus dan awet, harga fiberglass relatif lebih ekonomis. Secara umum, semakin bagus bahan yang digunakan dan semakin besar bentuknya maka harga patung akan semakin mahal.

“Misalkan untuk patung Ironman dengan tinggi sekitar 2 meter, harganya bisa sampai Rp 20 juta,” urai pria yang juga menjadi anggota majelis pertimbangan organisasi dewan kesenian Jatim tersebut.

Meski karyanya laris manis, menjadi seorang seniman bagi Jamran tidak mudah. Apalagi seniman murni yang berdomisili di daerah yang berentang jarak panjang dari pusat kota.

Ajang pameran seni sebagai satu satunya pagelaran yang bisa mendatangkan uang dalam tempo cepat, tidak cukup mampu diandalkan. Sebab pengunjung pameran hanya dari kalangan tertentu yang juga belum tentu berbelanja.

Menyiasati situasi pelik itu, para seniman murni yang tidak berkarir di jalur pendidikan, kata Jamran harus cerdas berstrategi, bagaimana caranya produksi terus berjalan.“Salah satunya adalah dengan menerima pesanan-pesanan patung, replika patung, hingga lukisan, “paparnya.

Jamran berumah di kawasan Perumahan Wilis II, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Tempat tinggal itu juga disulapnya sebagai galeri seni. Di ruangan tempat Jamran menerima tamu tamunya,  benda benda seni berjumlah banyak tertata rapi.

Begitu juga di teras rumah yang tidak seberapa luas, alat musik tradisional sejenis saron yang jumlahnya tidak sedikit, juga penuh sesak.

“Seperti yang saat ini saya lakukan. Harus fleksibel terhadap pesanan sehingga bisnis seni kriya ini tetap jalan terus,” ujar mantan ketua dewan kesenian Kota Kediri tersebut.

Jamran berbagi cerita soal perjalanan hidupnya sebagai seniman perupa dan pematung. Di awal awal karir yang ditapaki, roda nasibnya juga terseok seok. Menanggung rugi karena pemesan tidak konsisten menjadi hal biasa. Belum lagi pembayaran yang tidak sesuai jumlah pesanan.

Dari pengalaman getir itu Jamran mengubah negosiasi dengan menerapkan sistem DP hingga 50 persen. “Dulu itu di awal usaha di tahun 2006. Saya jadikan bahan pembelajaran. Sekarang sudah tidak pernah lagi,” jelas pemilik CV Luku Bintang itu.

Jamran tidak berharap berjaya sendiri. Sebagai pemerhati seni, dirinya juga tidak putus putus menyemangati para perajin seni kriya untuk bisa terus bertahan.

Menurutnya, perajin harus terus berinovasi dalam hal produk maupun promosi agar usahanya tetap berjalan lancar meski domisili dan tempat produksi ada di daerah yang jauh dari keramaian.

“Kuncinya telaten, jangan bosan untuk berpromosi terutama melalui media sosial,” pungkasnya.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.