READING

Jamu Dilupakan Karena 15 Bahan Penting Ini Teranca...

Jamu Dilupakan Karena 15 Bahan Penting Ini Terancam Punah

SIAPA yang tidak kenal jamu?. Terutama bagi generasi Baby Boomers (lahir dibawah tahun 1960), Generasi X  (lahir antara 1961-1980) dan Generasi Y (lahir 1981-1994). Jamu menjadi kebutuhan. Pernah jaya sekaligus menjadi perbincangan akrab di masyarakat, khususnya Jawa.

Misalnya,“Sudah dicekoki temu ireng untuk anaknya yang susah makan?”, menjadi pertanyaan yang lumrah terdengar ketika dua orang ibu rumah tangga bertemu. Resep cabe puyang, temulawak, beras kencur, kunir atau kunyit dicampur perasan pepaya gantung serta sedikit madu, dengan mudah bermunculan.

Mulai urusan meriang, demam, panas dingin, pegal pegal, masuk angin, bau badan, kejantanan lelaki sampai perawatan paska melahirkan, mudah dipaparkan. “Jangan lupa galian singset dan rapetnya. Biar suami betah di rumah”, seperti menjadi  nasihat yang tidak pernah tertinggal.

Termasuk persoalan penyakit dalam, seperti asma, kencing manis, kencing batu, wasir dan jantung, juga ada ramuannya. Ya, jamu selalu dipandang sebagai solusi penyembuhan yang murah dan diyakini mujarab.

Pastor Lukman, tabib asal Belanda mengatakan metode pengobatan jamu berbeda dari pendekatan konvensional barat. Dalam pengobatan barat, obat bertindak untuk membunuh infeksi. Sementara jamu mendorong tubuh untuk memproduksi antibodi sendiri.

“Jamu bertindak sebagai katalis dan tidak menggantikan fungsi tubuh. Obat berasal dari dalam tubuh, “katanya dalam buku “Jamu Sakti, Basmi Penyakit, Awet Muda dan Kecantikan”.

Di medio 90an ke bawah, mereka yang terserang pening atau demam, akan meracik jamunya sendiri. Cukup memetik bahan baku dari pekarangan sekitar rumah, menyeduh air panas dan meminumnya. Masyarakat memiliki kedaulatan medisnya sendiri.

Karena apa?, bahan jamu yang berasal dari dedaunan, kulit kayu, akar, batang, bunga dan biji masih mudah didapat. Pepohonan ada dimana mana. Tidak heran saat itu  mbak mbak atau ibu ibu jamu gendong marak berseliweran

Di era kekinian, tradisi ngunjuk jamu semakin pudar. Seiring dengan menyempitnya lahan pertanian (termasuk pekarangan), serta eksplorasi alam yang ugal ugalan, bahan bahan jamu semakin sulit diperoleh, bahkan menghilang. Dari data yang dihimpun Jatimplus, ada 15 bahan jamu penting yang mendekati punah.

Berikut nama nama bahan jamu yang terancam hilang:

Pertama,  Pulosari (Alyxia Stellata), yakni kulit kayu putih yang bisa ditemukan di hampir setiap jamu Jawa. Selain untuk menutup rasa dan aroma, pulosari ampuh untuk obat batuk, demam, serta menuntaskan persoalan kencing gonorea.

Kedua, Sintok (Cinnamomum Sintoc). Kulit kayu berwarna cokelat kemerahan yang diresepkan untuk banyak penyakit, yakni diantaranya diare, sakit akibat gigitan serangga dan sifilis.

Ketiga, Temu Mangga (Curcuma Mangga). Selain bisa berfungsi sebagai bumbu masakan, temu mangga merupakan obat untuk sakit perut dan demam.

Keempat, Masoyi (Cryptocarya Massoy), yakni populer digunakan sebagai parfum dupa. Namun Masoyi juga berkhasiat untuk serangan kram selama kehamilan.

Kelima, Jenitri (Elaecarpus Ganitrus). Biasa disebut pohon salam Jawa. Memiliki rasa pahit yang mujarab untuk mengobati keputihan dan nanah dalam rahim.

Keenam, Bastard Cedar (Guazuma Ulmifolia) atau daun jati Belanda. Zat yang terkandung pada daun jati yang langka ini memiliki fungsi pendukung untuk jamu pelangsing tubuh.

Ketujuh, Kayu Rapet (Parameria Laevigata). Kulit kayu ini memiliki khasiat untuk merawat tubuh dan kulit wanita. Juga diyakini ampuh untuk mengeringkan sekaligus mengencangkan alat vital wanita. Kulit kayu ini menjadi favorit banyak wanita di Indonesia.

Kedelapan, Burahol (Stelechocarpusburahol). Buah dari tanaman ini memiliki kemampuan untuk mengikis bau urine yang menyengat.

Kesembilan, Purwoceng (Pimpinella Alpina). Tanaman yang tumbuh di kawasan pegunungan ini dianggap menjadi obat pembangkit gairah dan penyembuh disfungsi seksual (impoten) yang mujarab. Selain itu juga memiliki banyak khasiat yang tidak terhitung.

Kesepuluh, Kikoneng (Arcangelisia Flava). Batang utamanya mengandung zat kimia yang berguna untuk menyembuhkan penyakit kuning, bisul mulut, dan cacar. Sementara bijinya ampuh untuk menangkal keracunan.

Kesebelas, Cendana Wangi (Santalum Album) dan Keduabelas, Musk Mallow (Abelmoschus Moschatus) atau Gandapura atau Aroma Istana, yang selain untuk menambah aroma juga sama sama berfungsi untuk melembutkan kulit, rematik dan kembung.

Ketigabelas, Kayu Angin (Usnea Thaluss) atau kayu berangin. Cendawan berwarna abu abu pucat yang bersarang di pohon tinggi, lembab dan tempat beranginitu diyakini berkhasiat untuk menjaga kesehatan usus.

Keempatbelas, Kayu Ular (Strychnos Lucida) dan Kelimabelas Sidowayah (Woodfordia Fruticosa). Kedua bahan jamu ini memiliki kemampuan untuk mengobati penyakit sembelit dan permasalahan usus.

Demikian kelima belas bahan jamu penting yang saat ini sudah mendekati punah. (*)            

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.