READING

Janis McDavid Kepincut Blue Fire Ijen, Banyuwangi

Janis McDavid Kepincut Blue Fire Ijen, Banyuwangi

Sebab perjalanan bukan hanya karena kita punya sepasang kaki untuk melangkah, namun lebih dari itu. Memiliki sebuah kemauan yang bisa “memberikan kaki” untuk melangkah sejauh lingkar bumi. Kemauan yang bisa dimiliki siapa saja.

BANYUWANGI-Seorang bule Jerman bernama Sven Hasse menyodorkan kartu berukuran 4R kepada Indah Catur Cahyaningtyas, relawan Aura Lentera, sebuah komunitas difabel di Banyuwangi. Di sisi depan kartu terlihat gambar seorang pemuda bule tanpa lengan dan selarik tulisan di bagian kanan atas, Janis McDavid.

Sven menerjemahkan beberapa arti kata dalam bahasa Jerman dari tulisan di sisi belakang kartu. Indah coba memahaminya. Kartu itu berisi informasi mengenai judul buku karya Janis dan beberapa materi motivasi yang pernah ia sampaikan ke publik.

“Kami membawa beberapa. Karena seringkali terjadi moment seperti ini ketika ada orang bertanya kepada kami, seperti wawancara atau semacamnya. Jadi kami memang sengaja membawa (kartu) beberapa. Tapi tentu Janis harus mengubahnya dalam bahasa Inggris,” kata Sven sambil tertawa.

Di sisi depan kartu, Janis pun terlihat memakai sebuah mikrofon mini yang menempel di pipinya. Kesibukan sebagai seorang motivator menjadikan pemuda difabel ini dikenal dan diapresiasi oleh banyak pihak, termasuk oleh United Nations Children’s Fund (UNICEF). Pada tahun 2017, Janis melakukan tur motivasi dengan UNICEF Afrika Selatan untuk memotivasi anak-anak. Tur itu tentang bagaimana cara menerima kekurangan ketika menjadi seseorang yang berbeda, baik secara fisik maupun secara sosial.

Janis McDavid bertukar pengalaman dgn Aura Lentera.
FOTO: Dok. Riza Rastri

Motivasi yang ia berikan tentu jauh dari bualan dan kata-kata mutiara sebab Janis pelaku. Janis menyentuh hati pendengarnya dengan pengalaman pribadi selama hidup 28 tahun menjadi seorang tuna daksa. Ya, Janis terlahir tanpa tangan dan kaki. Namun, keterbatasan fisik itulah yang membuat hatinya semakin kuat dan dapat menginspirasi orang lain.

“Di Jerman masih ada pola pikir kalau penyandang cacat nggak usah melakukan perjalanan, seenggaknya nggak jauh-jauh. Tapi justru itulah yang memotivasi saya untuk melakukan hal-hal yang nggak bakal diduga orang lain. Biar mereka terkejut,” ujar Janis sambil terkekeh.

Ia pun memutuskan untuk melakukan perjalanan berkeliling dunia bersama dua sahabatnya, Sven Hasse dan Torsten Wetzel. Sejak tahun 2012 mereka melakukan perjalanan menantang, seperti memanjat tebing hingga melintasi pegunungan terjal. Tahun lalu mereka menakhlukkan pegunungan Andes, seperti di Gunung Salcantay, atau menjejakkan kaki di salah satu situs kawasan UNESCO, Machu Picchu. Musim panas tahun ini, mereka bertekad menyapa beberapa gunung berapi di Indonesia seperti Gunung Bromo, Ijen, dan Rinjani.

“Kita sengaja mencari negara yang menantang dan menarik seperti Indonesia. Ketika pertama kali melihat foto Kawah Ijen dan membaca artikel dari pengalaman orang lain, saya memutuskan ‘oke saya akan pergi ke sana’. Saya sangat terkesan dengan keindahan Kawah Ijen. Api birunya menakjubkan,” ungkap Janis kepada Jatimplus.ID.

Ada yang unik dari perjalanan mereka bertiga. Untuk menuju pegunungan terjal, tentu Janis tak dapat menggunakan kursi roda. Mereka berinisiatif menggunakan tas ransel agar Janis dapat masuk ke dalamnya. Di bagian bawah tas, Torsten sengaja menaruh sleeping bag sebagai alas agar lebih nyaman ketika Janis berdiri di dalamnya. Biasanya, Sven akan membantu Torsten saat mulai mengangkat Janis ke punggungnya. Janis mengaku, tantangan terberat justru saat berada di dalam tas ransel dan mempercayakan semuanya kepada Torsten.

Keunikan perjalanan mereka seringkali menarik perhatian siapa saja saat berpapasan. Tak jarang, banyak orang terpana melihat kegigihan tiga pejalan asal Jerman itu. Salah satu orang yang terinspirasi adalah Albert Agustinus, pramuwisata ketiga traveler tersebut saat berada di Jawa Timur.

Janis McDavid ketika berlibur di Indonesia.
FOTO: Dok. Albert Agustinus

“Di jalan seringkali orang mencibir kondisi Janis, meski maksudnya mungkin tidak demikian. Tapi Janis menanggapi itu dengan santai, dan semangatnya itu yang membuat saya merasa salut,” ujar pramuwisata Bali Java Holidays.

Janis mengatakan, ia sudah terbiasa melihat beragam respon orang ketika melihat kondisi fisiknya. Ia justru melihat sisi positif atas respon masyarakat ketika berjumpa dengannya. Khususnya, masyarakat Indonesia yang sangat ramah dan sering membantu mereka ketika menghadapi kesulitan saat di perjalanan. Di Indonesia, Janis mengaku sering melihat orang yang menatapnya diam diam sekitar lima sampai sepuluh detik. Meski awalnya malu malu, banyak orang yang berusaha meminta berfoto bersamanya.

Janis tertawa saat menceritakan beberapa pengalaman tak terlupakan yang ia temui ketika berada di Indonesia. Janis pun bertukar pengalaman mengenai aksesibilitas bagi penyadang disabilitas dengan Indah Catur yang saat itu datang bersama sang suami, Nurhadi Windoyo, seorang tuna netra inspirarif kota gandrung yang juga pendiri Komunitas Aura Lentera.

Komunitas ini telah menemani para difabel Banyuwangi agar menjadi pribadi yang mandiri dan tak bergantung pada orang lain. Seperti melakukan edukasi di bidang komputer dan musik yang dimentori langsung oleh Windoyo. Aura Lentera juga pernah mengajak anak anak difabel untuk secara dekat mengenal berbagai fasilitas yang ada di Bandara Banyuwangi. Di kesempatan lain, para tuna rungu diajak mengetahui jenis jenis kopi, serta cara penyajian hingga siap sruput.

Menurut Indah dan Windoyo, apa yang dilakukan Janis membuktikan bahwa difable bisa pergi kemanapun mereka ingin. Bahwa perbedaan kondisi fisik bukan halangan untuk mendaki gunung atau seberangi samudra. Indah yakin, semangat yang ditularkan Janis maupun Windoyo dapat menjadi role model dan menginspirasi siapa saja.

Repoter: Suci Rachmaningtyas
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.