READING

Jatim Potensi Banjir Hingga Tanah Longsor, Ini Pen...

Jatim Potensi Banjir Hingga Tanah Longsor, Ini Penjelasan Ahli Geologi

Hujan adalah anugerah karena mengguyur bumi dengan air yang dibutuhkan bagi kehidupan. Namun ada beberapa hal yang perlu diwaspadai ketika curah hujan turun dengan lebat karena ada potensi bencana yang menyertainya.

Bencana yang berpeluang terjadi ketika musim hujan adalah banjir bandang, banjir genangan, tanah longsor dan angin puting beliung. Melihat jenis-jenis bencana yang berbeda, proses mitigasi dan penanganannya pun berbeda.

Amien Widodo, pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya menjelaskan bahwa ada perbedaan pada banjir bandang dan banjir genangan. Banjir bandang sendiri ada dua tipe yakni banjir bandang di daerah pegunungan dan banjir akibat luapan sungai besar.

Banjir bandang yang terjadi di daerah perbukitan penyebabnya adalah tingginya debit air yang mengguyur area hulu. Ketiadaan pepohonan yang bisa mengunci air membuat air menggerus lapisan tanah paling luar dan mengalir melalui jalur sempit atau aliran sungai.

Tingginya debit air yang menggelontor inilah yang menjadi banjir bandang. Tidak hanya air saja, biasanya ada banyak material yang terbawa ke daerah hilir mulai dari bebatuan, lumpur, hingga batang dan ranting pepohonan. Akibatnya, jalur sungai yang sempit tidak cukup menampung derasnya aliran dan menjadi luberan di sekitar area sungai.

“Luberan ini juga bisa disebabkan oleh longsoran tanah yang membendung jalur sungai jadi air tidak bisa mengalir sesuai jalurnya. Jadi banjir bandang dan longsor ini saling berkaitan,” terang Amien kepada Jatimplus.ID Senin (13/1).

Di Jawa Timur sendiri sudah banyak kejadian bencana longsor dan banjir bandang. Beberapa kejadian besar yang terjadi adalah di Pacet, Mojokerto tahun 2002, Jember di tahun 2006, Nganjuk dan terakhir di Ponorogo yang memakan banyak korban. Sebagian besar kejadian tersebut berlokasi di lereng Gunung Wilis.

Menurut Amien, kawasan ini memang rawan longsor dan rawan banjir bandang. Pasalnya gunung ini sekarang sudah tidak aktif dan berubah menjadi gunung lapuk dengan lapisan tanah yang cukup tebal. Ditambah lagi topologinya yang cukup curam menjadikan potensi tanah ambles lebih besar.

“Apalagi sekarang semakin banyak permukiman dan lahan pertanian di sana. Membuat banyak areal menjadi gundul,” bebernya.

Berbeda dengan Gunung Kelud. Menurut Amien gunung ini memiliki topologi lebih landai. Gunung yang berada di timur Kabupaten Kediri dan berbatasan dengan Malang dan Blitar ini juga masih aktif sehingga lapisan tanahnya tidak terlalu tebal.

Jika sudah terjadi banjir bandang dan longsor, tidak ada yang bisa dilakukan untuk antisipasi selain melakukan evakuasi. Ini dikarenakan aliran air banjir bandang sangat deras. Begitu pula dengan tanah longsor. Yang bisa dilakukan oleh masyarakat adalah menghindari daerah tersebut hingga dinyatakan aman.

“Makanya untuk dua bencana ini, kegiatan mitigasi sangat penting dan harus intensif dilakukan. Cek terus debit air sungai dan retakan tanah di daerah perbukitan. Jika potensinya besar, harus segera ancang-ancang untuk pindah,” urai lulusan Teknik Geologi UGM ini.

Sedangkan banjir genangan diakibatkan tertutupnya saluran air. Entah oleh sampah ataupun aliran sungai lain yang lebih besar. Daerah di Jatim yang rawan terjadi banjir tipe ini adalah di sekitar Ngawi-Madiun. Biasanya daerah ini terendam akibat aliran Kali Lamong yang tidak bisa masuk ke Bengawan Solo akibat debit air di sana sudah penuh duluan akibat kiriman air dari hulu sungai.

Banjir genangan sifatnya lebih perlahan dan bisa diprediksi. Biasanya di daerah tersebut telah memiliki kebiasaan berapa lama banjir terjadi dan ketinggiannya seberapa. Dengan kebiasaan ini, para pemukim di sekitar daerah rawan banjir genangan biasanya sudah bersiap-siap sebelum bencana benar-benar terjadi.

“Misalkan dengan membangun rumah dua lantai dan menempatkan barang-barang penting di tempat aman,” jelasnya.

Tidak ada penanganan khusus yang bisa dilakukan demi mencegah terjadinya banjir genangan akibat terhambatnya aliran sungai seperti ini. Kecuali pihak pemerintah setempat mau melakukan pengadaan pompa air dalam jumlah besar dan pembangunan tanggul yang lebih kuat.

“Tapi masyarakat sana sudah bisa menyesuaikan diri dan tidak masalah dengan kondisi tersebut,” urainya.

Sedangkan banjir genangan yang terjadi di daerah perkotaan biasanya diakibatkan saluran air yang tersumbat sampah. Sebenarnya setiap kota di Indonesia menurut Amien telah didesain untuk bisa mengakomodasi aliran air sebanyak apapun. Selain banyaknya jaringan gorong-gorong, sebagian besar telah dilengkapi pompa-pompa air terutama di daerah yang cekungan.

Terendamnya kota-kota tersebut lebih disebabkan oleh kebiasaan masyarakatnya yang tetap gemar membuang sampah sembarangan. “Sebaik apapun sistem drainasenya jika habitnya tetap ya tetap akan terus banjir,” tegasnya.

Dan sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya, kawasan Jawa Timur setiap musim hujan dilanda banjir dan setiap musim kemarau terjadi kekeringan. Makanya bagi Amien, rain harvesting tetap diperlukan. Baik di daerah pegunungan hingga perkotaan. Bentuknya bisa bermacam-macam.

Mulai dari kegiatan penghijauan di daerah hutan-hutan yang berguna untuk menahan air hujan yang meresap di dalam tanah, pembentukan sumur rembesan hingga biopori. Biopori ini cukup efektif dilaksanakan di daerah dengan tekstur tanah berpasir. Dan akan semakin efektif jika jumlahnya banyak karena akan semakin banyak pula air yang bisa cepat merembes ke dalam tanah.

Hindari pula mengeksploitasi air tanah yang berlebihan dengan menggunakan mesin diesel. Biasanya ini terjadi di daerah pertanian terutama ketika musim kemarau. Amien tidak melarang penggunaannya. Hanya saja perlu kebijaksanaan dalam menggunakannya. Sehingga hajat hidup masyrakat tetap bisa dipenuhi tanpa merusak lingkungan.

“Bisa disiasati dengan membangun satu sumur bor di daerah hulu untuk digunakan beberapa kelompok tani sekaligus. Jadi tidak satu petani punya satu diesel karena itu pasti memberikan dampak tidak baik,” pungkasnya.

Reporter: Dina Rosyidha
Editor: Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.