READING

Jawa Timur dan Kisah Perjalanan Musik Jazz Tanah A...

Jawa Timur dan Kisah Perjalanan Musik Jazz Tanah Air

TIDAK disangka. Musik yang di era 60an pernah megap megap karena dilarang penguasa, bisa kembali menggeliat. Tidak hanya sekedar melakukan peregangan. Jazz juga berdiri gagah. Sambutan penonton Festival Jazz Tanjung Perak di sebuah Mall Surabaya beberapa hari lalu, berlangsung meriah.

Masih gondrong dengan ikatan ekor kuda, celana jeans dipadu kemeja hitam ditekuk selengan, serta snikers kombinasi hitam putih, musisi jazz Mus Mujiono menyuguhkan penampilan gaya musik yang elegan.

Sebagaimana ciri khasnya, improvisasi solo gitar diikuti gerak bibir meliuk liuk masih dipamerkan. Warna suaranya yang tebal dan empuk tak ada yang berubah. Di usia 59 tahun, adik buaya keroncong Mus Mulyadi yang berjuluk George Benson Indonesia itu, masih mempesona. Senyum dan gaya Nono menyapa penonton, masih awet flamboyan.

Begitu potongan refrain tembang “Arti Kehidupan” mengudara, romantisme pun sontak menyala.“Engkau bukan yang pertama. Tapi pasti yang terakhir. Dicintamu kutemui arti hidupku”. Dari kursi penonton, lirik lagu yang dirilis dari album “Yang Pertama” tahun 1988 itu didaras para jazz lover dengan fasih. Tidak terkecuali Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak yang di era lagu itu lahir masih berumur empat tahun.

Malam itu mantan Bupati Trenggalek yang juga berlatar belakang musisi menyumbangkan sebuah lagu. Dengan gaya milenialnya, suami artis Arumi Bachsin itu membawakan Moodys Mood milik musisi Amerika George Benson.

Dan sebagaimana ciri musik Jazz, tiap tiap personil juga melakukan improvisasi atau seni mengkomposisi saat bermain tanpa notasi tertulis. “Deg degan saya nyanyi di depan Mus Mujiono, “kata Emil dengan nada bahagia.

Jatuh Bangun Jazz Indonesia

Di peringatan Hari Musik Indonesia tahun 2019 di Surabaya, Jazz diucapkan sekaligus dinyanyikan dengan riang gembira. Sementara dalam perjalanannya di Indonesia, musik impor itu pernah memiliki sejarah terseok seok, yakni jatuh bangun dibekap tangan kekuasaan.

Di awal tahun 1960, eksistensi musik cerminan kondisi sosial masyarakat kelas bawah Amerika (black american) itu nyaris mati. Bernasib sama dengan musik yang distigma sebagai irama Ngak Ngik Ngok, pemerintah Soekarno melarang Jazz.

Suka Hardjana dalam Esai & Kritik Musik menuliskan, pada saat itu semua musik Barat dikutuk sebagai kebudayaan imperalis yang mesti diganyang. Era dimana tiran politik menjadi panglima.“Padahal justru di awal tahun 60an inilah sesungguhnya kuncup jazz di Indonesia sedang bersemi dengan baik, “tulisnya.     

Karena larangan itu episode Jazz yang dirintis jauh hari, seolah benar benar akan  berakhir. Jazz tenggelam. Hampir satu dasarwasa lamanya, para musikus jazz macam Ireng Maulana, Kiboud, Buby Chen, Maryono, Benny Musthapa, Eddy Tulis, Mus Mualim dan lainnya, tak terdengar gemanya.

Secara tidak langsung keadaan itu diperparah dengan mewabahnya musik populer dikalangan kaum muda Indonesia. Tidak sedikit musisi yang bergeser mengikuti trend baru.  Di akhir tahun 70an, situasi berubah. Sekembali dari menimba ilmu di Peabody Conservatorium Music Baltimore Amerika, Ireng Maulana menggelar pentas di Teater terbuka Taman Ismail Marzuki.  

Sambutan para jazz lover terlihat nyata. Kehidupan musik Jazz di Indonesia kembali menemukan gairahnya. Awal tahun 80an lahirlah generasi baru Jazz Indonesia. Diantaranya muncul nama pemusik Embong Rahardjo, Elfa Seciora, Benny Likumahuwa dan Chandra Darusman.

Sementara musisi Jazz tua macam Bubi Chen, Jack Lesmana, Said Kelana dan Nick Mamahid juga ikut bangkit. Jack dan Said bahkan mulai mengkader anak anak mereka yang masih kecil ke pentas profesional (Jazz). “Mereka tidak hanya menjadi pemain, tetapi juga sekaligus menjadi composer, arranger dan band leader,” kata Suka Hardjana.   

Dalam 100 Tahun Musik Indonesia, Denny Sakrie mengatakan, Surabaya tercatat sebagai salah satu kota yang banyak menetaskan musikus jazz berbakat. Sebut saja Jack Lesmana (ayah musisi Indra Lesmana), Loddy Item, Bubi Chen, Jopie Chen, Maryono, Embong Raharjo, Dullah Suweileh, Karim Suweileh, Jopie Item (Ayah penyanyi Audy Item), Udinsyach dan sebagainya.

Jazz yang ditahun 1920an hanya bisa dinikmati kalangan tertentu Hindia Belanda, yakni orang Belanda, beberapa warga Eropa dan segelintir intelektual serta kelas menengah atas pribumi (Indonesia), perlahan meluas. Di awal itu, nama Jose Marpaung sudah tersohor di Surabaya. Marpaung dikenal sebagai pemain piano handal bersuara emas.

Bersama Martin Kreutz dan Karel Lind, Marpaung mendirikan kelompok musik Jazz yang diberi nama White Dove. “Kelak, hingga era 1960an dan 1970an, Surabaya tercatat sebagai kota yang banyak menetaskan musikus Jazz, “tulis Denny Sakrie.    

Selain di Surabaya, kiprah musik Jazz juga terlihat di Makassar, yakni dengan munculnya kelompok musik Black and White Jazz Band. Anggota grup Jazz ini terdiri dari orang Belanda dan pribumi, termasuk di dalamnya WR Supratman. Black and White Jazz Band didirikan Van Eldik, keturunan Belanda yang juga kakak ipar WR Supratman.   

Sementara dalam Jazz Festival Tanjung Perak Surabaya kemarin, selain Mus Mujiono, acara peringatan Hari Musik Nasional 2019 itu juga melibatkan 100 musisi Jazz lain, yakni terutama berasal dari Surabaya. Sebut saja Syahrani, Milk ‘n The Blues Project, dan Surabaya All Star.

Dalam kegiatan itu Tanjung Perak Surabaya disebut sebagai sejarah masuknya musik Jazz ke Indonesia. Menurut Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, dengan mengusung ikon Tanjung Perak, acara yang digelar Surabaya Entertainer Club (SEC) ikut mewujudkan Nawa Bhakti Satya.

“Kita mendorong masyarakat (Jawa Timur) senang musik dan seni budaya. Value yang kita bawa keindahan alam Jawa Timur, “katanya. (*)


Editor : editor posting Reporter : Reporter posting Visual editor : Visual posting

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.