READING

Jelang Lebaran, Jangan Sampai Jatuh di Lubang Kons...

Jelang Lebaran, Jangan Sampai Jatuh di Lubang Konsumtif

Budaya belanja seperti menjadi rutinan masyarakat Indonesia terlebih menjelang lebaran seperti saat ini. Belanja yang khas jelang lebaran seperti berbelanja pakaian baru, aksesoris baru, hingga perabot rumah baru umum dilakukan. Belanja barang-barang baru itu dilakukan agar di hari lebaran nanti selain bisa bersilaturahmi, masyarakat bisa terlihat lebih prestisius ketika bertemu orang. Walaupun belanja menjadi hal yang umum dan dilakukan setiap tahun, namun harus bisa ngerem agar tidak terjangkit virus-virus komsumtif yang bisa merugikan diri sendiri. Terlebih jika Tunjangan Hari Raya (THR) sudah turun, maunya ingin belanja terus sampai uang habis.

Terkait hal ini, Vivi Rosdiana psikolog asal Kota Kediri menerangkan bahwa seseorang yang berlebihan dalam hal konsumtif bisa dikatakan regulasi emosi orang tersebut masih kurang matang. Hal itu bisa terjadi dikarenakan orang tersebut masih terkondisikan oleh situasi dan kondisi yang ada yaitu pada saat ini momen jelang lebaran. “Dalam kondisi saat ini kaitannya dengan THR, baju, hingga barang-barang baru bisa menjadi faktor penyebab konsumtif,” ujar psikolog lulusan Universitas Gajah Mada (UGM) ini.

Selama individu tersebut memang membutuhkan dan mampu membeli barang-barang baru dan cara membelinya tidak sampai hutang, menurut Vivi hal itu masih sah-sah saja. Namun hal itu akan membahayakan orang itu sendiri jika sampai bukan kebutuhan pokok yang dibeli tetapi tetap ingin membeli, terlebih cara membelinya dengan cara berhutang ini jelas tidaklah bijak karena ada pemaksaan dalam diri itu sendiri. “Semampunya saja, jangan sampai dikendalikan oleh jiwa konsumtif yang merugikan itu,” ungkap psikolog yang membuka praktek di Kota Kediri ini.

Sifat konsumtif menurut Vivi bisa membuat seseorang menjadi ketagihan, terlebih jika berbelanja seperti jelang lebaran itu sudah menjadi gaya hidup. Karena jika kebiasaan konsumtif dalam berbelanja tidak terpenuhi, bagi orang yang ketagihan akan merasa tidak nyaman dalam hatinya jika keinginan untuk berbelanja itu tidak terpenuhi.

Terlebih jika orang tersebut terbiasa menghambur-hamburkan uang untuk kebiasaan konsumtifnya kemudian bangkrut dalam usaha dan tidak bisa membeli lagi barang yang diinginkan, dia akan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan barang itu. “Kalau sifat konsumtifnya terus mendorong walau tidak punya uang, bisa-bisa orang tersebut bisa mencuri, menipu, hingga maaf menjual dirinya untuk bisa terus belanja,” ungkapnya.

Vivi menambahkan gaya konsumtif yang mengarah pada hedonis pada diri seseorang akan mendorong orang tersebut bertindak tanpa memperhatikan dan mengukur kemampuan diri sendiri. Sehingga bertindak kriminal atau di luar norma cenderung bisa dilakukan untuk memenuhi hasratnya untuk berbelanja. “Ya naudzubillah min dzalik, semoga kita bisa menahan gaya konsumtif kita jelang lebaran ini,” terang perempuan berkacamata ini.

Untuk menghindari sifat konsumtif jelang lebaran ini, Vivi memberikan masukan agar dalam berbelanja selalu membuat planning terlebih dahulu. Selain itu juga harus bisa mengategorikan antara kebutuhan atau keinginan semata. Sehingga dalam berbelanja bisa mendahulukan kebutuhan daripada keinginan yang juga harus disesuaikan dengan budget yang tersedia. Sehingga nantinya tidak ada rasa pemaksaan yang akhirnya memberatkan atau menyusahkan diri sendiri. “Kalau sudah sampai salah planning apalagi sudah sampai berhutang ini nanti yang akan berat,” tegasnya. (Moh. Fikri Zulfikar

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.