READING

Jember Punya Teh Mawar Sisa Bunga Tabur Kuburan

Jember Punya Teh Mawar Sisa Bunga Tabur Kuburan

JEMBER – Trotoar di sepanjang Jalan Tunojoyo Kabupaten Jember ramai oleh penjaja bunga tabur. Sepanjang 300 meter, trotoar sebelum Pasar Tanjung itu dipenuhi ratusan tas kresek merah ukuran jumbo dan tas kresek putih berukuran lebih kecil. Tas-tas kresek itu berisi bunga tabur berupa kembang mawar dan irisan pandan yang siap jual. Saat menjelang lebaran atau hari besar keagamaan, ratusan kuntum mawar merah laku keras sebagai bunga tabur makam.

Tiap tas kresek merah berisi 200 kuntum mawar dengan berat satu kilogram. Sesaat sebelum lebaran, harga satu kresek jumbo itu mampu menembus harga 150 ribu hingga 250 ribu. Namun seusai ramadan seperti sekarang, penjaja mawar tabur menurunkan harga hingga 30 ribu sampai 15 ribu rupiah untuk satu tas kresek besar. Sedangkan tas kresek kecil dipatok dengan harga tiga ribu hingga lima ribu rupiah. Mayoritas penjaja mawar di Jember tersebar di berbagai tempat. Seperti di Jalan Trunojoyo, Jalan Gajah Mada, dan Jalan Kenanga. “Sudah lama jualan bunga, dari jaman dulu dah,” ujar Zaenuri, salah satu penjual bunga tabur.

Penjaja bunga mawar tabur di Jalan Trunojoyo Jember. FOTO: JATIMPLUS.ID/Suci Rachmaningtyas.

Zaenuri merupakan warga asli Desa Karangpring Kecamatan Sukorambi, desa penghasil mawar di Kabupaten Jember. Sekitar 30 hektare lahan sawah dari empat dusun ditanami bunga mawar. Dari 120 KK, hampir seluruhnya memiliki lahan bunga mawar. Tiap KK memiliki lahan dengan luasan yang bervariasi. Ada yang memiliki satu petak, 1 hingga 3 hektare, hingga 5 hektare. Lahan bunga mawar di desa ini dirawat secara turun temurun selama empat generasi. Menurut warga sekitar, bunga mawar pertama kali ditanam yakni berada di Dusun Gendir. Mulanya, pohon mawar hanya ditanam di pematang sawah. Namun ketika laku jual, masyarakat di kaki pegunungan Argopuro tersebut mulai menanam pohon mawar di lahan persawahan mereka.

Mayoritas penjaja bunga tabur meraup untung besar saat hari besar seperti Idul fitri maupun Imlek. Kabupaten Jember tak pernah kehabisan stok bunga mawar meski dijajakan setiap hari. Benar saja, panen bunga mawar mencapai dua ton per dua hari. Namun mirisnya, saat tak ada momentum hari besar, bunga mawar banyak yang terbuang begitu saja. Melihat kondisi tersebut, Syukron Ma’mamun Hakim, salah satu pemuda Desa Karangpring mencoba berinovasi dengan membuat teh bunga mawar.

“Biasanya mawar dibuat nyekar atau dibuat kalo ada acara nikahan, tapi itu sangat jarang kalau untuk acara pernikahan. Saya lihat yang dibuang di pinggir jalan, yang kering, ini bisa nggak ya kalau dibuat minuman kayak  teh gitu. Waktu itu akhirnya saya coba,” terang Syukron kepada Jatimplus.id.

Syukron mengatakan, saat itu kebetulan ia sedang mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2015 yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi di kampusnya, Universitas Islam Jember (UIJ). Puluhan hektare lahan mawar di desanya, menginspirasi Syukron untuk bereksperimen. Ia mula-mula coba memetik tiga kuntum mawar lalu menjemurnya. Saat sudah diseduh, rasa dan aroma teh mawar dirasa kurang kuat. Hingga ia pun memutuskan untuk menggali lebih dalam mengenai pemrosesan teh yang baik dan benar. Salah satunya yaitu dengan merubah teknik penjemuran, agar tidak terkena sinar matahari secara langsung. Saat browsing  ke sana kemari, ia sekaligus menemukan banyak kandungan alami pada bunga mawar yang berguna bagi kesehatan dan kecantikan kulit.

Proses penelitian tersebut ia tuangkan ke dalam proposal PKM bersama rekan satu kelompoknya. Saat lolos proses verifikasi, mereka mendapat kesempatan untuk memaparkan hasil penelitian di sebuah seminar. “Nah di seminar itulah kita diolok. Nggak mungkin mawar tabur kuburan dijadikan teh, nanti jadi Suzzanna. Nah, ungkapan Suzzanna itu yang saya ingat sampai sekarang,” kenang Syukron.

Meski tak lolos PKM, saat itu Syukron pantang menyerah dalam melakukan penelitian tentang kandungan bunga mawar. Mahasiswa FKIP Biologi itu memanfaatkan alat-alat sederhana di kampusnya maupun di Universitas Jember (Unej). Selama tiga tahun penelitian, ia lebih percaya diri untuk menciptakan produk dari bunga mawar saat penerjunan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Ketika itulah ia mengajukan pengabdian masyarakat di kampung halamannya. Meski pada mulanya, desa tersebut tidak termasuk lokasi yang ditentukan oleh pihak kampus untuk menjadi tempat KKN. Namun Syukron tetap meyakinkan pihak kampus jika ia memiliki program untuk pengembangan potensi daerah tersebut. Setelah disetujui, tantangan berikutnya yakni ia harus mencari 10 mahasiswa yang mau diajak terjun langsung dalam satu kelompok KKN.

“Saya keliling semua fakultas, semua jurusan. Ini saya punya proyek tentang teh mawar. Nyoba nyari terus, alhamdulillah ada 24 orang yang ikut. Selama 40 hari itu saya bolak-balik kampus untuk penelitian,” ucap Syukron dengan haru.

Pada hari ke 20 KKN, Syukron dan tim mensosialisasikan proses pembuatan teh mawar hingga pengemasan, hingga produk tersebut siap dipasarkan di masyarakat. Kejadian tersebut menarik perhatian kepala desa hingga kepala kecamatan. Atas dukungan Kades Karangpring Rita Tri Widiarti dan Camat Sukorambi Bambang Rudi, teh mawar disuguhkan ke Bupati Jember Faida sebagai ciri khas Desa Karangpring. Menurut Syukron, ia dan tim berupaya keras menemukan formula yang pas agar teh mawar dapat dinikmati secara layak. Gayung bersambut, upaya mereka diapresiasi orang nomor satu di Kabupaten Jember itu. “Bupati minum dan beliau bilang ini harus ada di pendopo setiap pagi dan harus masuk katalognya bupati,” kenangnya dengan wajah sumringah.

Apresiasi itu juga datang dari Rektor UIJ Abdul Hadi dengan memberikan kesempatan kepada Syukron dan tim untuk presentasi memperkenalkan teh dan nugget mawar kepada Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir. Presentasi singkat itu memberikan kabar baik bagi Syukron dan tim. Menristekdikti memberi kesempatan pembuatan proposal Penelitian Dosen dan Mahasiswa. “Setelah sudah bikin proposal dan penelitian, sekarang sudah sampai ngurus BPOM. Semua produk saya di-BPOM-kan sama kampus dan hak cipta atas nama saya,” terang Syukron bangga.

Pengembangan produk serta pemasaran terus dilakukan oleh pemuda umur 23 tahun itu. Termasuk berbagi pengalaman dengan mahasiswa KKN dari Unej mengenai pemasaran online melalui platform jual beli. Ia mengaku sebelumnya hanya menjual teh mawar di pasar dan warung sekitar Kecamatan Sukorambi. Namun kini, penjualan teh mawar khas Desa Karangpring merambah hingga Tanggerang, Bali dan Kalimantan. Jika sedang berada di Kabupaten Jember, pembeli dapat menemui teh mawar di galeri kantor Kecamatan Sukorambi.

Mawar Disulap Jadi Berbagai Macam Produk Kekinian

Selain teh, bahan dasar mawar asal Desa Karangpring disulap menjadi berbagai macam produk kekinian. Seperti sirup, nugget, parfum, dan pomade atau minyak rambut. Pembuatan sirup membutuhkan 30 kuntum mawar dengan campuran satu kilogram gula pasir. Campuran tersebut biasanya mampu menghasilkan 10 botol dengan ukuran masing-masing 50 ml. Menurut Syukron, pembuatan sirup mawar khas Desa Karangpring menggunakan asam sitrat atau pengawet alami seperti garam dan jeruk nipis guna menghilangkan rasa sepat. Tanpa bahan pengawet kimia, sirup ini mampu bertahan dalam waktu enam bulan.

Sirup mawar Khas Karangpring Jember (doc: Kalijaga Managemen)

Lain hal dengan teh mawar yang dapat bertahan selama satu setengah tahun dalam kondisi kedap udara. Untuk pembuatan teh, ia membutuhkan satu kilogram bunga mawar yang berisi 200 kuntum dan dapat menjadi 10 bungkus dengan berat 40 gram per bungkusnya. Tiap botol sirup maupun teh mawar dijual dengan harga 12 ribu rupiah.

“Kalau teh sama sirup rata-rata per bulan kita bikin 200. Dijual di galeri kantor Kecamatan Sukorambi, biasanya buat tamunya Pak Camat,” papar Syukron.

Produk selanjutnya yakni nugget mawar. Bahan dasar pembuatan nugget ini sama dengan nugget pada umumnya. Namun bahan dasar ayam diganti dengan kelopak mawar yang telah dihaluskan. Awalnya, nugget mawar dibuat untuk penyanding teh mawar ketika akan disuguhkan ke Bupati Faida. Ide itu muncul dari rekan satu tim Syukron saat KKN tahun lalu. Tak disangka, tak hanya bupati saja yang terpincut dengan rasanya yang enak. Tapi Menristekdikti yang juga menyukai produk dengan harga lima ribu rupiah untuk satu mika berisi 15 nugget. Syukron mengaku sering mendapat pesanan dari Banyuwangi untuk produk ini. Namun untuk saat ini, pembuatan nugget mawar lebih mengutamakan pesanan dalam Kota Jember saja.

Berbeda dengan produk makanan dan minuman, parfum dan pomade mawar menggunakan campuran wewangian lain. “Setelah dicampur dengan bahan parfum ternyata banyak yang gak suka. Orang-orang mindset-nya ini bau kuburan. Akhirnya saya kasih inovasi lagi. Tapi tidak mengurangi ciri khas mawar, segar mawarnya itu tetep terasa,” terang Syukron.

Teh dan pomade mawar khas Desa Karangpring Jember (doc: Kalijaga Managemen)

Guru di SD Azziyadah Jember ini mengatakan jika pembuatan parfum dilakukan di rumah, meski proses destilasi atau penyulingan dilakukan di Kampus UIJ maupun Unej. Harga parfum mawar dibanderol 23 ribu rupiah untuk 25 milimeter. Pembuatan pomade juga dilakukan di rumah karena prosesnya yang sederhana. Yakni menggunakan susu, minyak khusus pengental, sarang lebah untuk pengental, pewarna khusus, serta pewangi tambahan seperti stoberi dan bubble gum.

Syukron mengaku, selain mendapat penghasilan dari sisi ekonomi, ia dan tim Kalijaga Managemen sekaligus mengejar target pasar untuk mengangkat Desa Karangpring agar lebih dikenal masyarakat. Selain itu, ia berencana akan melakukan pendampingan ke anak-anak SMK di sekitar Kecamatan Sukorambi untuk pengolahan teh maupun sirup mawar agar memiliki produk dari desa mereka sendiri.

“Mawar di sini terbesar se-Asia Tenggara. Kurang lebih ada 30 hektar, setiap dua harinya panen minimal sampai 2 ton. Itu kami yang bingung, dikemanakan. Yang sering kita ambil masih di tiga petani. Total ada 120 petani mawar. Kalau pemesanan di seluruh Jawa Timur aja nyukupi dengan hasil segitu,” tandasnya. (Suci Rachmaningtyas)

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.