READING

Jewelry Biji Genitri Diminati Hingga India

Jewelry Biji Genitri Diminati Hingga India

KEDIRI – Kota Tahu kaya akan produk lokal buatan pengusaha kecil menengah. Salah satunya adalah produk kerajinan tangan. Anna N. Anggraini menjadi salah satunya. Perempuan asal Kelurahan Ngronggo Kota Kediri ini menjalankan bisnis jewelry. Produknya bahkan pernah mendarat sampai di India.

“Yang paling diminati adalah produk yang terbuat dari biji genitri,” terang Anna (28/07).

Pencapaian itu tidak serta merta didapatkannya. Anna bercerita bahwa dia mulai mencoba menjalankan usaha ketika kedua orang tuanya bangkrut sekitar tahun 2009 lalu. Karena belum ada pengalaman, dia menjadi reseller boneka flanel milik temannya. Ternyata banyak peminatnya hingga Anna sering kehabisan stok.

Dia pun mulai berinisiatif membuat sendiri. Belajar otodidak dengan mencontoh yang sudah ada, kemudian mengembangkan polanya. Dia pun akhirnya berhasil membuat berbagai jenis boneka flanel kreasi sendiri yang dijual kisaran Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu per unit. “Promosinya lewat media sosial,” tambahnya.

Bisnis boneka itu ia jalani hingga ia menamatkan sekolah bidan dan bekerja di rumah sakit pada tahun 2012. Saat itu penghasilannya masih pas-pasan. Anna pun mencoba untuk kembali fokus menjalankan bisnis kerajinan tangan. Kali ini dia mulai mengasah keahlian dengan membuat perhiasan berbahan kawat tembaga.

“Saya sering mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Dinas Koperasi (Dinkop) UMTK Kota Kediri,” bebernya.

Saking semangatnya, Anna juga menggali ilmu dari para pengrajin senior. Dia pun akhirnya bisa membuat perhiasan sendiri. Dia juga rajin mengikuti berbagai pameran yang difasilitasi Dinkop UMTK. Rupanya desain dan karya Anna disukai. Setiap pameran, selalu saja ada pelanggan yang balik lagi.

“Alhamdulillah, penghasilan dari bisnis ini bisa melebihi penghasilan saat bekerja di rumah sakit,” tandasnya.

Dengan merek AG Handycraft, Anna terus mengembangkan produknya mulai dai kalung, gelang, dan anting berbahan batu alam yang dililit dengan kawat tembaga warna-warni. Ada juga perhiasan yang menggunakan bahan biji genitri. Untuk kalung batu alam, dia jual mulai harga Rp 400 ribu sampai Rp 800 ribu sesuai dengan bahan yang digunakan dan modelnya. Untuk genitri dipatok harga per biji dan disesuaikan dengan bentuknya. Untuk biji dengan garis belah 8 garis dihargai Rp 20 ribu – Rp 30 ribu per biji.

“Semakin banyak garisnya, semakin mahal karena semakin langka,” jelasnya.

Tidak dipungkiri bahwa saat ini pendapatan dari jewelry sedang turun.Agar tetap bertahan, dia terus melakukan inovasi dan melakukan penyesuaian yakni dengan membuka pesanan masker dan busana. Tidak sendirian, Anna juga menggerakkan para ibu rumah tangga di sekitarnya. Saat ini mencapai 13 orang.

Mereka rata-rata memiliki mesin jahit namun tidak terampil menggunakannya. Makanya dia pun mengajari mereka cara membuat masker yang saat ini paling banyak dibutuhkan. “Alhamdulillah pesanan tetap masuk dari sana,” pungkasnya. (pro/Dina Rosyidha)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.