Joe Sava: Tak Mudah Menjadi Tionghoa

JOMBANG – Puluhan remaja Tionghoa merayakan kemeriahan Imlek bersama santri pondok pesantren di Jombang. Di kota yang menjunjung tinggi pluralisme ini, mereka berkisah tentang diskriminasi dan kekerasan yang pernah dialami.

Dalam forum diskusi terbuka yang digelar kelompok Gusdurian dan Jombang Student Interfaith Forum (JSIF), Kamis malam, 7 Februari 2019, mereka menggali kembali makna pluralisme yang diajarkan Kiai Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. “Tidak mudah menjadi Tionghoa. Saya kenyang perlakuan diskriminasi dan pernah mengalami kekerasan,” kata Joe Sava, aktivis JSIF seperti ditulis Antara saat menjadi pembicara diskusi bertajuk Mendengar Suara Tionghoa Milenial di Kota Santri.

Mahasiswa jurusan Akuntansi di salah satu perguruan tinggi Surabaya ini mengaku kerap mengalami tindak diskriminatif dan kekerasan. Bahkan suatu ketika Joe Sava terlibat perkelahian sengit saat membela teman Tionghoa yang diejek. Demikian pula ketika tubuhnya dikencingi dan sepedahnya dirusak gara-gara status Tionghoa saat masih kanak-kanak.

Menjadi Tionghoa atau suku apapun adalah kehendak Tuhan. Siapapun tak akan bisa menentukan proses kelahiran manusia sesuai ras yang diinginkan. Karena itu memperdebatkan spesifikasi manusia menjadi yang paling mulia adalah tindakan bodoh. Itulah satu hal yang diajarkan Gus Dur untuk menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia.

Muliasari Kartikawati merasakan sekali peran Gus Dur dalam memperjuangkan Tionghoa seperti dirinya. Setidaknya, dia tak lagi dicekam ketakutan seperti era Orde Baru yang sangat represif.

Padahal sama seperti warga negara Indonesia lain, Muliasari diajarkan mencintai bangsa dan negara dengan tulus. “Kalau kita kritik pemerintah agar tidak korupsi, maka kita juga tidak boleh korupsi. papa dan engkong saya berpesan seperti itu,” katanya di acara itu.

Aan Anshori, penggiat Gusdurian Jombang menjelaskan tujuan diselenggarakannya diskusi semalam. Menurut Aan, diskusi ini bukan sekedar memberi ruang kepada warga Tionghoa untuk berbicara. Namun seluruh umat beragama diundang dan dilibatkan dalam diskusi bebas tersebut. “Kami ingin generasi milenial Tionghoa lebih berani dan terbuka menyampaikan pendapat,” katanya.

Meski digelar secara sederhana, forum diskusi tersebut menjadi tempat asyik bagi warga Tionghoa untuk curhat. Hadir pula beberapa tokoh agama dan pengajar perguruan tinggi warga Tionghoa dari Malang dan Sydney.

Upaya menghapus perbedaan suku dan ras ini juga dilakukan warga Tionghoa di Kediri. Bahkan secara khusus pengurus Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri mempersiapkan acara makan lontong cap go meh bersama masyarakat. “Semuanya boleh makan, kita rayakan Imlek bersama-sama,” kata Tjoe Sen Wang atau Halim Prayogo, Tata Usaha Klenteng Tjoe Hwie Kiong.

Di hari tertentu, Klenteng ini juga secara rutin menggelar bakti sosial membagikan sembako kepada warga yang membutuhkan. Tanpa memandang suku dan agama, pengurus Klenteng memberikan paket kebutuhan pokok kepada warga yang datang ke Klenteng Tjoe Hwie Kiong.

Tempat ibadah ini juga aktif mengirim kelompok kesenian Barongsai pada kegiatan sosial tanpa dipungut biaya. Ini sebagai salah satu upaya mendekatkan kebudayaan Tionghoa kepada masyarakat yang menjunjung tinggi pluralisme. (*)  

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.