READING

Jombang Tidak Ramah Perempuan dan Anak

Jombang Tidak Ramah Perempuan dan Anak

JOMBANG- Tingginya kasus kekerasan perempuan dan anak menutup catatan akhir tahun 2018 di Jombang. Di sepanjang tahun ini, sebanyak 80 perempuan dan anak menjadi korban kekerasan. Bila dirata rata, setiap bulan terjadi 6-7 kasus kekerasan.

Dibanding tahun 2017, yakni sebanyak 62 kasus, kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jombang semakin melonjak. “Jika dibandingkan tahun 2017, jumlahnya (kasus) meningkat, “kata Koordinator Divisi Pendampingan dan Pelayanan Women’s Crisis Center (WCC) Elmia.

Yang memprihatinkan, angka kasus masih didominasi kekerasan seksual, yakni dari 80 kasus, 52 diantaranya kekerasan seksual. Secara statistik angka ini juga berlipat lebih tinggi dibanding tahun 2017, yakni 43 kasus kekerasan seksual.

Yang serupa adalah korbannya (kekerasan seksual). Sebagian besar tetap didominasi anak anak pelajar. “Spesifikasinya kasus kekerasan seksual. Dari 80 kasus, 52,2 persen dialami anak perempuan yang berstatus pelajar, “terang Elmia.

Bagaimana dengan pelaku?. Tahun ini tercatat sebanyak 62 orang. Sama dengan tahun sebelumnya. Mereka juga didominasi kelompok orang dewasa. Menurut Elmia, latar belakang pendidikan tidak mampu menjadi faktor pencegah.

Pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang tidak melakukan kekerasan. Terbukti ada sebanyak lima pelaku yang bekerja di institusi pendidikan. Bahkan empat diantaranya merupakan pelaku kekerasan seksual.

“Latar belakang pendidikan tidak menjamin bisa tidak melakukan kekerasan, “jelas Elimia.

Seperti dilansir dari kompas.com, kasus kekerasan yang terjadi disinyalir lebih banyak lagi. Sebab 80 kasus yang ada merupakan pendampingan WCC.

Sebab Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Jombang juga menangani kasus kekerasan.

“Kalau disinergikan dengan data dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Jombang, jumlah kasus bisa jadi lebih besar lagi, “jelasnya.

Sementara berdasarkan data Komnas Perempuan, setiap hari rata rata ada sebanyak 35 perempuan di Indonesia yang menjadi korban pelecehan seksual.

Seringkali korban dirundung rasa malu, cenderung menyalahkan diri sendiri, trauma mendalam, depresi, hingga berkeinginan untuk bunuh diri.

Celakanya sejumlah mitos kekerasan seksual yang berkembang di masyarakat justru tidak menguntungkan korban. Bahkan memperparah kondisi korban.

Mitos itu diantaranya korban selalu berpakaian minim atau seksi, Pria tidak mungkin jadi korban, Pemerkosaan tidak mungkin terjadi dalam perkawinan, Korban tidak melawan karena tidak mau, dan Pelakunya pasti orang asing.

Padahal semua itu hanya mitos dan tidak seluruhnya benar. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.