READING

Jurnalis Jatimplus Dinobatkan Kementerian PPA Seba...

Jurnalis Jatimplus Dinobatkan Kementerian PPA Sebagai Wartawan Yang Menginspirasi

BANYUWANGI – Widie Nurmahmudy diganjar penghargaan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebagai wartawan yang menginspirasi.  Selain menjalankan kegiatan jurnalistik, Widie juga berdedikasi terhadap pendidikan anak-anak di Banyuwangi.

Widie tak menduga namanya tercantum sebagai kandidat penerima anugerah Piala Merak 2019, sebuah ajang penghargaan bergengsi yang diberikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Apa yang dilakukan Widie dinilai layak menjadi inspirasi masyarakat luas dalam membangun pendidikan anak-anak pinggiran di Banyuwangi.

“Saya sama sekali tidak pernah berpikir soal penghargaan. Apa yang saya lakukan bersama teman-teman adalah tentang kemanusiaan. Tentang hak anak-anak untuk mendapat pendidikan yang layak,” kata Widie Nurmahmudy usai menerima penghargaan di Jakarta.

Jauh sebelum diundang ke Jakarta untuk menerima penghargaan ini, Widie Nurmahmudy menghabiskan hari di sebuah rumah sederhana di Lingkungan Papring, Kelurahan/Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi.

Beberapa tahun silam, lingkungan Papring merupakan kawasan yang “terisolir” dari peradaban. Sebagian besar warganya bekerja ke luar daerah untuk menjadi buruh. Hal ini berdampak pada tumbuh kembang anak-anak di sana yang kurang perhatian orang tua. “Termasuk perhatian atas pendidikan mereka,” kata Widie.

Secara geografis, Lingkungan Papring berada di barat laut pusat Kota Banyuwangi. Berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut (Mdpl), masyarakat Lingkungan Papring hidup di area KPH Banyuwangi utara dengan hutan produksi pinus.

Karena itu sebagian warga berprofesi sebagai penyadap pinus, buruh panggul logistik, mencari bambu, berburu satwa hutan, dan berkebun di lahan Perhutani dengan sistem magersari (Hak Guna). Celakanya, aktivitas ini kerap melibatkan anak-anak mereka yang bekerja menjadi pemburu dan menjaga kebun. Sehingga banyak yang putus sekolah dan menikah di usia dini.

Situasi ini mengusik Widie untuk berbuat sesuatu kepada mereka. Hingga akhirnya tercetus ide mendirikan taman baca dengan nama Kampoeng Baca Taman Rimba (Batara). “Saya ingin menumbuhkan minat membaca anak-anak di sini,” ujar Widie.

Tak sekedar baca tulis, Kampoeng Batara juga mengajarkan permainan tradisional yang menjadi materi dasar untuk mengurangi kecanduan gadget bagi anak-anak. Sedangkan materi pengenalan lingkungan dipilih lantaran lokasi taman baca yang hanya berjarak 100 meter dari area hutan.

Hingga kini sudah puluhan anak yang tergabung dalam komunitas ini. Mereka adalah para pelajar dari jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD/MI) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTS). “Saat ini mereka sudah datang sendiri untuk belajar tanpa disuruh orangtuanya,” kata Widie.

Keberadaan Kampoeng Batara bagi masyarakat Papring telah membantu membangkitkan semangat para orang tua untuk terus melanjutkan pendidikan anak-anak mereka. Kehadiran para relawan dan pengunjung yang menginap di rumah warga, baik yang memberikan pembelajaran maupun penelitian, secara masif ikut mencerdaskan masyarakat setempat.

Dan tanpa disadari, perubahan perilaku anak-anak ini secara drastis menurunkan angka putus sekolah dan pernikahan dini yang sebelumnya marak.

Penulis : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.