READING

Kami Katolik. Silahkan Sholat di Rumah Kami

Kami Katolik. Silahkan Sholat di Rumah Kami

Saya adalah murid Pak Agus dan Bu Sri. Mereka papa dan mamaku. Papa sudah meninggal Juli 2018 lalu. Bersama mamaku, kami merawat warisan keluarga paling berharga, yakni toleransi.

Saya dibesarkan di keluarga Katolik. Papa masuk Katolik sekitar umur 17 tahun, saat dia duduk di bangku SMA. Mama dibaptis sebelum menikah dengan papa. Saya dan kakak laki-lakiku dibaptis sejak orok.

Tanpa kusadari, sejak kecil papa dan mama memapar kami dengan toleransi. Tak cukup dengan nilai-nilai verbal, mereka juga menyiapkan sajadah di kamar.

“Jangan yang ini ah. Kan buat sembayang. Yang itu aja bagus,” kata mama kepada papa di dalam toko. Kala itu saya masih kecil, belum cukup kritis untuk menanyakan kenapa membeli perlengkapan ibadah orang lain.

Karena penasaran, saya bertanya kepada mereka saat tiba di rumah. “Ma, kita kan Katolik, kenapa beli sajadah?” tanyaku serius.

Penjelasan mama membuat saya dan kakak terkejut. Mama mengatakan jika sajadah itu disiapkan untuk para tamu yang ingin sholat jika bertandang ke rumah. “Kalau ada saudara atau teman Muslim yang bertandang dan tiba waktu sholat, bisa dipakai. Jadi tidak ada alasan untuk tidak sholat kan?” ucap mama.

Papa dan mama sangat serius dengan apa yang diucapkan. Beberapa tamu yang datang ke rumah diingatkan untuk sholat jika waktunya tiba. “Di dalam ada sajadah kok,” kata mereka.

Bukan hanya sajadah. Papa dan mama juga menyediakan kamar untuk sholat. Saya baru menyadarinya setelah dewasa. Mereka merelakan ruang pribadinya “dipangkas” untuk tempat sholat.

Saya dan mama menyediakan sajadah di rumah kami. Foto: Andreas

Pelajaran tentang toleransi makin menancap di otak saat keponakan papa dari Pati kuliah di Surabaya, tempat kami tinggal. Namanya Mbak Atik. Dia seorang Muslim. Dari pada indekos, papa menawarkan Mbak Atik untuk tinggal bersama kami.

Selain rajin membantu pekerjaan rumah, Mbak Atik juga tekun beribadah. Seingatku tidak ada waktu sholat yang dia lewatkan. Hampir tiap sholat saya selalu ikut masuk ke kamarnya. Memperhatikan ritual yang tak pernah saya saksikan dari dekat. Saya suka melihatnya. Entah mengapa, sampai sekarang jika melihat orang sholat rasanya sejuk.

Kebiasaan lain yang mempertemukan kami di satu meja adalah makam malam. Papa dan mama memang membiasakan kami untuk selalu makan malam bersama. Seperti kebiasaan orang Katolik pada umumnya, kami selalu berdoa sebelum makan. Kami bergantian memimpin doa makan. Jika malam ini papa, besoknya bisa saya, mama atau kakakku.

Sejak kedatangan Mbak Atik di rumah, kami makan malam berlima. Setelah melewatkan beberapa kali makan bersama, mama menghampiri Mbak Atik di kamar. Mama bertanya, kenapa sebelum makan Mbak Atik tidak tampak berdoa. Mama mengingatkan bahwa kita semua bisa makan karena anugerah Tuhan. Maka sudah seharusnya kita berterima kasih pada Tuhan.

Sejak itu saya melihat Mbak Atik berdoa sebelum makan dengan caranya. Hingga suatu saat papa meminta Mbak Atik memimpin doa makan. Meski sempat ragu, Mbak Atik memimpin doa makan dengan Bahasa Arab. Disusul berikutnya dengan terjemahan Bahasa Indonesia.

Kami menyantap makan malam dengan riang. Lauk dan sayur buatan mama terasa lezat malam itu. Tidak ada ajakan pindah agama, dan tidak ada yang pindah agama di rumah kami.

Hari ini saya kembali belajar dari warisan papa. Bahwa menerima perbedaan harus dari hati, dan  melihat orang lain sebagai manusia.

Penulis : Andreas Nikolaus Wicaksono
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.