Kampanye Anti Plastik PKK Kota Kediri

Sejumlah 120 juta peserta dari 177 negara membuat gerakan bebas plastik. Tepatnya tanggal 3 Juli 2019 merupakan moment Hari Bebas Plastik Sedunia. Melalui laman https://www.plasticfreejuly.org/, aksi ini dimulai dengan melakukan diet plastik dari kehidupan sehari-hari. Aksi ini diharapkan akan menjadi kebiasaan sehari-hari. Sebab keberadaan sampah plastik yang semakin hari semakin memenuhi permukaan bumi semakin mengkhawatirkan. Kampanye itu bisa dimulai dari lingkungan terdekat dari diri sendiri.

Fey Veronica, istri Walikota Kediri sekaligus Ketua PKK Kota Kediri aktif berkampanye mengurangi plastik. “Kalau di lingkungan PKK Kota Kediri, sejak dari tahun 2016 sudah tidak memakai hidangan yang menggunakan plastik,” kata Fey. Di lingkungan PPK Kota Kediri, setiap kali ada pertemuan, pesertanya diharuskan membawa tumbler sendiri sebab tidak akan disediakan minuman kemasan. Penyelenggara hanya akan menyediakan air di wadah besar/galon.

Selain itu, snack yang dihidangkan pun tanpa plastik. Bila membutuhkan pembungkus, mengunakan daun pisang. Makanan cukup disajikan di piring. Atau jika menggunakan kotak, dipilih bahan alam yaitu besek/anyaman bambu.

“Saya nggak muluk-muluk. Mengimbau ke lingkungan PKK dari kelurahan hingga kecamatan pun sudah susah,” kata Fey. Namun ia akan terus menyuarakan ini. Harapannya, mulai dari lingkungan Pemkot akan mengikuti PKK untuk tidak menyajikan minuman dan snack dengan plastik. Baru ke kantor-kantor lain. Sifatnya ini pun masih sebatas imbauan.

Dalam hal pelaksanaan, Fey memulai dari dirinya. Ia kerap menunjukkan ke publik di lingkungan Kota Kediri tentang kebiasaan diet plastik. Ketika ke supermarket, Fey membawa kantong plastik sendiri. Bila ke kafe, membawa sedotan logam untuk menghindari sedotan plastik. Pun kerap membawa tumbler agar tidak menggunakan gelas plastik. Di media sosial, Fey kerap mengunggah hal-hal yang terkait anti plastik sebagai wujud kampanyenya.

“Sekarang sebetulnya, kampanyenya sudah harus lebih keras. Bukan hanya menggunakan reuse tapi harus mengurangi (reduce),” pesan Fey. Menurutnya, bila hanya mengubahnya ke bentuk lain tanpa mengurangi, jumlah sampah plastik akan terus bertambah.

Ia juga pernah mengajukan ide kepada Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar, bahwa ada penghargaan kepada UKM atau pedagang yang peduli pada pengurangan sampah plastik. Misalnya pedagang yang mengurangi kantong plastik, membungkus makanan dengan daun, dan upaya-upaya lainnya. Misalnya pedagang tersebut dipromosikan, diberi bintang, atau penghargaan lainnya. Hal ini bisa memotivasi warga untuk diet plastik.

Sebetulnya, secara aturan, Kota Kediri memiliki Peraturan Walikota Nomor 35 tahun 2018 tentang Kebijakan dan Strategi Kota Kediri dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga. Juga penggunaan kantong plastik sudah tertera dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3/2015 tentang Pengelolaan Sampah.

Hanya hal itu belum bisa menekan pengurangan sampah tanpa ada kesadaran masyarakat untuk diet plastik. Menurut data Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri, setiap hari warga Kota Kediri menghasilkan 0,5kg sampah. Secara keseluruhan, Kota Kediri mengasilkan 145 ton sampah. Kota Kediri menargetkan, pada tahun 2019, sampah berkurang hingga 20 persen.

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.