READING

Kampung Jamu, Si Penjaga Kearifan Lokal Kota Kedir...

Kampung Jamu, Si Penjaga Kearifan Lokal Kota Kediri

KEDIRI- Jamu memang semakin tidak populer, terutama bagi masyarakat perkotaan. Namun untungnya masih ada masyarakat Kelurahan Kampungdalem, Kota Kediri, yang tidak hanya melestarikan, tapi juga menjadikannya sebagai potensi unggulan.

Bahkan kelurahan yang berada di pusat kota Kediri itu mendaku sebagai kawasan kampung jamu. Klaim kampung jamu tidak lepas dari banyaknya penjual jamu yang bertempat tinggal disana, terutama lingkungan RW 02.

Tercatat ada sebanyak 61 produsen jamu tradisional dengan beragam produksi mulai beras kencur, kunyit asem, sinom, kunir asem hingga temu lawak. Lebih jauh ditarik kebelakang, cikal bakal para pedagang jamu di lingkungan Kampungdalem itu berasal dari lingkungan Kauman (RT 04 dan 05).

Sang pemula yang merupakan warga asli itu adalah Mbah Mungit dan Mbah Murti, sepasang suami istri yang mulai meracik jamu tradisional sejak perang Jawa meletus (1925). Walhasil jamu buatan keduanya selalu laris.

Sayangnya kemampuan meresep jamu itu tidak ada yang mewarisi dikarenakan pasutri itu tidak memiliki keturunan. Sementara makin lama usia mereka semakin menua. Melihat itu Mbah Truno, kolega Mbah Mungit asal Solo, datang ke Kediri untuk belajar meracik.    

Mbah Truno kemudian menurunkan kemampuan itu kepada anaknya yang sekaligus melanjutkan bisnis orang tuanya. Dari situlah asal muasal munculnya pedagang jamu asal Solo. Pada tahun 1950an mereka tidak lagi berstatus perantau, tapi juga sebagai warga setempat.

Lingkungan Kauman kemudian dikenal sebagai kampung jamu hingga saat ini. “Dulu awalnya jamu dijual keliling dengan cara digendong. Kini tukang jamu sini menjualnya dengan menggunakan rombong (gerobak), ”terang Sediyono, ketua RW 02, Kampungdalem, Kota Kediri.

Produsen jamu biasanya mulai berproduksi mulai dini hari yakni sekitar pukul 04.00 WIB. Sekitar pukul 08.00 WIB, para penjual jamu yang didominasi ibu-ibu tersebut mulai bersiap- berangkat. Ada yang bersepeda pancal. Namun tidak sedikit yang berkendaraan motor.

Hingga saat ini mereka hanya menjual jamu cair. Karena alasan daya tahan, para pedagang tidak bisa menjajakan jauh-jauh. Cukup di kawasan Kota Kediri dan sekitarnya. Meski demikian para pelanggan selalu memborong hingga ludes tak tersisa.

“Sore mereka sudah pulang dengan rombong-rombong kosong. Besok paginya buat lagi. Jadi jamunya fresh semua, ”tambahnya.

Secara bisnis para pedagang jamu legowo dengan keuntungan yang diraih. Mereka sudah merasa cukup dengan jamu cair yang setiap harinya harus terjual habis karena memang tidak berdaya tahan lama.

Hingga hari ini tidak ada obsesi untuk menambah jumlah produksi atau melebarkan sayap ke luar daerah. Kendati demikian untuk pemasaran agar dikenal luas, para pemuda karang taruna ikut turun tangan. Mereka membentuk kelompok usaha bersama (KUBE) Kampoeng Jamu.

Kube bertujuan mempersatukan pedagang jamu agar usaha mereka bisa lebih berkembang. Dengan kemampuan teknologi yang dimiliki para pemuda membantu memperbaiki kemasan. Diantaranya dengan memakai botol kekinian ditambah sentuhan desain modern. Sasaranya adalah konsumen dari kelompok milenial.

“Jadi kita buka pemesanan. Atau kita tetap nyetok tapi tidak dalam jumlah banyak. Yang paling tidak tahan itu beras kencur. Masa simpannya paling sehari-dua hari saja. Tapi kalau di simpan di kulkas, bisa tahan lebih lama. Sekitar 3-4 hari. Kalau jenis lainnya bisa tahan seminggu, ”terang M. Taufiq Anshori, anggota Karang Taruna Bismo.

Tidak hanya mengubah kemasan jamu. Para pemuda juga kerap mengikuti pameran yang diselenggarakan pemerintah daerah hingga pusat. Kube Kampoeng Jamu pun semakin moncer dan menarik perhatian banyak pihak, termasuk adanya uluran bantuan hibah Kemendikti yang bekerjasama dengan Uniska dan UM tahun ini.

“Proposal bisnis kami juga sempat menjadi lima besar dalam acara lomba entrepreneurship yang diadakan Kementrian Pemuda dan Olahraga, ”tambah pemuda 26 tahun tersebut.

Sebenarnya para pemuda juga berharap ada diversifikasi produk. Para produsen jamu diharapkan juga memproduksi jamu bentuk bubuk. Sehingga memiliki masa lebih lama, termasuk pemasarannya lebih jauh. Namun saat ini mereka masih terbentur keterbatasan alat produksi.

“Sebenarnya para produsen bisa membuatnya hanya saja tidak ada alatnya jadi sejauh ini masih menjual jamu cair saja, ”bebernya.

Meski begitu Taufiq optimis ke depan Kampung Jamu bisa lebih berkembang, baik dari segi kualitas produk, pengemasan, promosi hingga pemasarannya. Sasarannya bukan hanya kelompok tua di sekitar Kediri. Melainkan juga anak-anak milenial terutama pecinta makanan organik dan pegiat pola hidup sehat dari seluruh Indonesia.

“Semoga saja bisa segera terwujud, ”pungkasnya.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.