Kampung Kelir, Perlukah?

Malam itu saya beranjak dari riuhnya Kota Malang menggunakan station wagon berpenumpang 15 orang menuju arah utara kota. Badan mobil yang cukup besar meliuk-liuk di jalan sempit dan cukup menanjak. Bahkan ada jalan yang kemiringannya 45 derajat. Saya memeluk ransel erat-erat, selain untuk mengusir dinginnya AC mobil juga untuk mengurangi rasa kuatir saat melihat curamnya jurang di bibir jalan berkelok.

Akhirnya sampailah saya di desa Tosari, Kabupaten Pasuruan, sebuah desa di kaki pegunungan Tengger. Tosari kini lebih dikenal dengan sebutan Kampung Kelir dan menjadi destinasi wisata baru di kawasan Bromo. Wujudnya adalah sekumpulan rumah penduduk bercat warna-warni seperti yang kita lihat di Sao Paolo Brazil dan Kampung Jodipan Kota Malang.

Saya belum pernah ke Tosari. Bentuk kampung kelir seperti apa, masih menjadi tanda tanya bagi saya. Apalagi saat tiba di Tosari hari sudah malam, hingga semua terlihat gelap. Hanya beberapa lampu rumah penduduk menerangi jalan. Hawa dingin pegunungan langsung menyapa saya begitu membuka pintu mobil, menyegarkan pori-pori kulit di sekujur tubuh. Saya bergegas menuju rumah inap untuk segera beristirahat, ditemani taburan jutaan bintang di langit bening malam ini. Tak sabar saya menunggu hari esok, untuk menjalajahi tiap sudut Desa Tosari.

Tosari berada di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut. Suhu rata-rata di daerah ini adalah 5-10 derajat celsius. Pantas saja, baju hangat dan lilitan sarung di tubuh adalah pakaian wajib penduduk sini. Saya tak bawa sarung saat ini. Tapi untungnya sweater yang saya kenakan cukup tebal untuk menghangatkan tubuh.

Pagi ini matahari bersinar cerah. Bukit kehijauan dengan langit biru berawan putih berarak di kejauhan memanjakan mata yang biasa bersua hiruk-pikuk kota. Lalu pandangan saya terhenti di perbukitan penuh rumah dengan warna-warna mencolok. Oh, ini ya yang namanya Kampung Kelir.

Terciptanya Kampung Kelir bermula ketika berlangsung event Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka Jawa Timur pada bulan April hingga Mei 2018. Atas inisiatif Pramuka Kwarda JawaTimur dan didukung penuh oleh Pemerintah Kabupaten Pasuruan, Tosari ketiban sampur menjadi salah satu wilayah yang dijadikan tempat berlangsungnya event.

Sekitar 1000 orang anggota Pramuka Penegak dan Pandega dikerahkan untuk mengecat rumah-rumah warga dan sarana umum di Desa Tosari. Dengan warna-warna aneka rupa seperti hijau muda, biru langit, ungu, merah muda, dan kuning, kini Desa Tosari sah menyandang predikat sebagai Kampung Kelir. Menurut rencana ada 11 zona lagi di JawaTimur yang akan atau sudah dijadikan Kampung Kelir seperti di DesaTosari.

Ingatan saya melayang ke fenomena sebuah event lokal yang kemudian mendunia, yaitu Jember Fashion Carnival (JFC). Begitu event tahunan kebanggaan Kota Jember itu sukses dan turut menaikkan popularitas Kota Jember, seketika itu juga daerah lain “latah” mengadopsi mentah-mentah ide tersebut untuk diterapkan di daerahnya masing-masing. Apakah program Kampung Kelir mencontoh Kampung Warna Jodipan di Kota Malang?

Sao Paolo Brazil dan Jodipan Malang dulunya adalah wilayah kumuh, hingga akhirnya pemerintah setempat mengambil kebijakan untuk mewarnai wilayah tersebut, agar terlihat cantik dan elok. Lantas apa urgensinya mengecat rumah-rumah tradisional wargaTengger dengan cat warna-warni? Hanya pemangku kebijakan publik yang bisa menjawabnya.

Padahal tanpa cat aneka warna pun, Desa Tosari sudah sangat menarik. Dari sebuah desa kecil di lereng Tengger ini, bermunculan beraneka-ragam cerita yang masing-masing mempunyai keunikan tersendiri. Salah satunya tentang keberagaman agama di Desa Tosari yang begitu harmonis. Walau Hindu dan Islam menjadi agama mayoritas penduduk, namun pemeluk agama lain bisa hidup dan beribadah dengan nyaman.

Seperti yang terjadi pada Ibu Lulu. Keluarganya gado-gado. Ayahnya dulunya muslim kemudian beralih menjadi nasrani. Sedangkan kakaknya memutuskan menjadi muslim. Sedangkan Ibu Lulu adalah seorang nasrani tulen. Beliau membina sekolah minggu untuk anak-anak dan rajin ke gereja.

Selain itu keniscayaan perubahan jaman dan modernisasi tidak menggerus kuatnya tradisi yang masih terjaga baik hingga kini. Suatu ketika saya sempat menanyakan tentang Kampung Kelir kepada Pak Riadi, Dukun Tengger Desa Tosari. “Apa pendapat Bapak soal Kampung Kelir?”, beliau hanya tersenyum.

Warga Suku Tengger terkenal santun dan ramah dari dulu. Jarang sekali bahkan tidak pernah saya melihat orang Tengger bersuara keras atau menunjukkan kemarahan. Jadi senyuman Pak Riadi cukup menjawab pertanyaan saya.    

Lantas, masih perlukah ada Kampung Kelir?

Foto & Teks oleh Adhi Kusumo

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.