READING

Kamu Penyuka Durian? Datanglah ke Jombang

Kamu Penyuka Durian? Datanglah ke Jombang

Bulan Pebruari Maret 2020 menjadi bulan puncak panen raya petani durian di Kawasan Lereng Gunung Anjasmoro Jombang.

JOMBANG – Jalanan di sepanjang Kecamatan Bareng menuju Kecamatan Wonosalam Jombang beurbah menjadi zona durian. Di kanan kiri jalan berjajar buah durian yang dipajang di lapak-lapak depan rumah warga. Durian ini dipanen dari pohon yang sudah berusia puluhan hingga ratusan tahun di kawasan pegunungan Wonosalam.

Bagi penikmat buah durian bisa memilih sekaligus memakan di tempat buah durian yang saat ini sudah memasuki masa puncak panen. Selain menjual durian di depan rumah, banyak pemilik kebun durian yang menjual hasil panennya  ke pasar buah yang ada di pusat Wonosalam.

“Penikmati durian juga bisa langsung memakan durian di bawah pohon  kalau memang menginginkan sensasi tersendiri,” ujar Sarno, anggota Kelompok Pembibitan Mustiko Duren Wonosalam yang menyediakan aneka buah durian asli Wonosalam saat berbincang dengan Jatimplus.ID, Rabu 12 Februari 2020.

Di rumah milik Sarno di Dusun Sumber Desa Wonosalam Jombang penikmat durian bisa memilih  durian berbagai jenis dan rasa, mulai dari  montong, bido, mentega, musangking hingga durian pelangi. Durian andalan Wonosalam sendiri adalah jenis bido yang memiliki rasa legit hingga daging tebal dan isi kecil.

Keuntungan makan di kebun durian wisatawan bisa langsung menukarkan buah berduri ini jika rasanya tidak enak atau masih mentah. Pasalnya, petani menjamin buah yang disantap di kebun dan menggaransi rasanya. Kawasan yang berada di ketinggian rata rata 500-600 meter dari atas permukaan laut ini sungguh asyik untuk menyantap durian.

Ada banyak rute yang bisa dilalui untuk menuju Wonosalam. Kecamatan yang mayoritas warganya mengandalkan sumber penghasilan dari berkebun ini sekarang mudah dijangkau. Dengan menempuh jarak dari kota Jombang sekitar 35 kilometer, wisatawan sudah menyusuri akses jalan yang mulus dan lebar. 

Sejumlah wisatawan yang sudah berkunjung ke wonosalam dan mencicipi buah durian dijamin akan ketagihan. Selain suasana sejuk dan dingin mereka bisa bisa langsung menikmati buah durian sesukanya. “Rasa durian di Wonosalam ini memang khas dan berbeda dengan daerah lain. Kandungan tanahnya bisa menghasilkan rasa pahit di buah durian,” ujar Masudin, penikmat durian saat mencicipi durian bido khas Wonosalam.

Setiap musim panen durian Masudin bersama temannya selalu menikmati durian di bawah pohon. Kebun milik Sarno adalah langganan tiap tahun yang dituju.

Di puncak musim panen tahun 2020 ini, petani dan warga Wonosalam akan kembali menggelar kenduren durian. Sejumlah kegiatan disiapkan oleh panitia dalam menyongsong hajat bersama yang digelar setiap tahun ini.

Sejumlah acara digelar di pesta durian ini. Mulai dari kegiatan sosial, tanam pohon durian, hingga olahraga. Puncak acara akan dilakukan kirap tumpeng durian dari sembilan desa yang dipusatkan di Desa Wonosalam. Puncaknya akan digelar syukuran tumpeng raksasa durian di lapangan. Diperkirakan akan ada ribuan warga yang  berburu durian gratis di even rutinan ini, sebagai bentuk syukur warga setempat terhadap hasil panen yang melimpah.

Pemanjat Pohon Juga Menikmati Panen

Selain pemilik kebun durian, warga yang berprofesi sebagai pemanjat pohon durian juga kecipratan berkah. Biasanya mereka akan diboking pemilik kebun untuk memasang tali rafia ke buah durian yang menjelang masak. Tinggi dan besarnya pohon membuat pemilik kebun harus menyewa jasa pemanjat agar panen duriannya bisa maksimal.

“Setiap satu buah durian dihargai dua ribu untuk mengikatnya. Jika sekalian memanen ongkosnya lima ribu,” ujar Ahmad Supriyatin, salah satu pemanjat pohon durian.

Profesi jasa pemanjat pohon durian ini bukan tanpa resiko. Biasanya mereka memanjat pohon berukuran besar dan tinggi tanpa menggunakan alat pengaman. Bekalnya hanya tali tampar, keahlian, dan segepok nyali. Terlebih saat hujan akan menjadikan batang pohon durian licin.

Dalam sehari pemanjat pohon ini bisa menyelesaikan pekerjaan menali buah durian sekitar 4-5 pohon. Saat musim panen raya seperti ini pemanjat bisa memasang tali dan memanen durian antara 300-500 buah.

Sampiyo, salah satu pemilik kebun durian sekaligus pedagang durian mengakui jasa para pemanjat pohon ini. Sebab jika tidak ditali sebelum masak, buah akan jatuh dan bisa hilang. Apalagi buah jatuh dari pohon yang tinggi dipastikan bisa hancur buahnya. “Kalau tidak ada pemanjat ini hasil panen jelas tidak maksimal,” katanya.

Bagaimana jika terjadi kecelakaan mengingat para pemanjat tidak menggunakan alat keamanan? Sampiyo mengaku bertanggungjawab untuk pengobatannya.

Bagaimana, tertarik menikmati durian Wonosolam? Kamu bisa memilih durian mulai harga Rp 60.000 hingga ratusan ribu per buahnya. Bahkan untuk buah tertentu bisa mencapai harga Rp 350.000.

Reporter: Lufi Syailendra
Editor: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.