READING

Kaos Gaplek Kediri Yang Tidak “Nggapleki”

Kaos Gaplek Kediri Yang Tidak “Nggapleki”

KEDIRI- Meskipun dalam Bahasa Jawa “Gaplek” merujuk pada makanan singkong yang dikeringkan serta umpatan nggapleki, oleh Rizky Kana Oksamal (30) “dipelintir” menjadi akronim  “Gampang Nemplek” atau mudah nempel.

Diksi yang kerap dikonotasikan miring itu kemudian dia pakai sebagai merek usaha kaosnya. “Biar orang mudah ingat dengan kaos ini kalau sedang datang ke Kota Kediri,” tutur Rizky kepada Jatimplus.ID. Usaha kaos gaplek berdiri sejak tahun 2012.

Sebelumnya  Rizky hanya dikenal sebagai penyablon kaos yang melayani pesanan di rumahnya di Kelurahan Manisrenggo Kota Kediri. Selama empat tahun atau sejak 2008, dia menekuni warna yang dicetak ke atas permukaan kaos.

“Saya buka jasa sablon kaos di tahun 2008,” katanya saat ditemui di tokonya yang berlokasi di Jalan Adi Sucipto, Kota Kediri. Dari pengalaman yang dia kantongi, Rizky mencoba mengembangkan usaha jualan kaos dengan merek sendiri.

Rizky Kana Oksamal (30) owner kaos Gaplek Kota Kediri. FOTO : JATIMPLUS.ID/Dina Rosyidha

Semua konsep mulai desain gambar, warna dan bahan kaos, ditangani berdasarkan kreativitasnya sendiri. “Jasa pembuatan kaos sampai sekarang masih ada di Manisrenggo. Hanya saja terpisah dengan usaha “Kaos Gaplek” ini,” beber bapak satu anak ini.

Tidak hanya sekedar berjualan. Rizky juga berupaya menjadikan produknya sebagai ikon Kediri. Setiap konsep kaos yang diluncurkan tidak pernah lepas dari Kediri. Baik itu berupa rangkaian kata yang merupakan frasa khas percakapan warga Kediri maupun gambar.

Misalnya kaos dengan teks “Ojo Kemlinthi” yang artinya jangan sombong. Kemudian juga kaos bertuliskan “Doragumon” lengkap dengan gambar boneka Doraemon. Doragumon hasil penyautan kata Dora dan “Gumon” yang dalam Bahasa Indonesia berarti heran.

“Sekilas seperti kaos doraemon biasa. Tapi sebenarnya ini plesetannya. Ada maksudnya,” katanya sambil menunjukkan kaos yang dimaksud.

Untuk menciptakan desain unik kaosnya, Rizky selalu mengasah daya imajinasinya. Salah satunya dengan jalan-jalan. Selain mencari inspirasi juga untuk mengamati trend di masyarakat. “Kita selalu buat belasan desain baru setiap tiga bulan sekali,” ujarnya.

Rizky mengakui tidak semua desain yang diluncurkan selalu digemari. Meski terkadang sebuah desain cukup diminati di tempat lain, belum tentu banyak terjual di tokonya. Makanya Rizky tidak pernah bosan berinovasi dan mengandalkan kreativitasnya untuk memenuhi selera orang Kediri.

“Kadang kita nemu sebuah desain yang sebenarnya bagus tapi ternyata justru tidak terlalu digemari karena memang seleranya berbeda,” jelasnya.

Kaos buatan Rizky menggunakan warna-warna yang tidak terlalu ramai. Setiap kaos maksimal dua warna. Sebagian besar menggunakan warna dasar hitam, putih, merah, kuning hingga biru. Adapun bahan yang dipilih kain katun yang bermutu. Rizky tidak ingin kualitas produknya terlihat rendah gara-gara bahan dan sablon yang asal-asalan.

“Kita sasarannya memang kalangan menengah jadi kita banderol Rp 80 ribu hingga Rp 150 ribu per kaos,” katanya. Berada di Kota Kediri yang notabene bukan kota besar dan kota wisata, Rizky bercerita jika menggenjot penjualan di awal awal usaha tidak semudah menjetikkan jari.

Dia harus memeras otak bagaimana produknya bisa dikenal luas, minimal masyarakat Kota Kediri sendiri. “Selama 1,5 tahun pertama, saya gunakan car free day sebagai media promosi alternatif selain lewat online,” ucapnya.

Dia bercita-cita Gaplek bisa menyusul kesuksesan brand Dagadu Jogja atau Joger Bali. Karenanya sasaran marketingnya adalah orang-orang Kediri yang merantau ke luar kota atau orang asal luar Kediri yang belajar ataupun bekerja di Kediri. Kaos Gaplek diharapkan bisa menjadi alternatif oleh-oleh non kuliner.

“Karenanya saya tidak berencana buka cabang karena saya ingin menjaga keotentikannya. Sama seperti kaos-kaos yang sudah melegenda seperti Dagadu dan Joger,” jelas pria yang gemar ngopi ini.

Bagi Rizky, selain promosi melalui media online, dukungan dari Pemerintah Kota Kediri juga sangat membantu. Terutama melalui pameran dengan kerjasama antar daerah, terbukti mampu meluaskan pasar.

“Alhamdulillah penjualan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Paling ramai seitiap libur lebaran. Dulu awal-awal terjual sekitar 160 kaos kini bisa sampai 1200 potong kaos pas lebaran saja,” tandasnya.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.