Kartini, Emansipasi dan Kapitalisasi

TIDAK hanya diperingati sebagai lahirnya pemikiran emansipasi wanita. Oleh sebagian masyarakat konsumeris, 21 April juga diingat sebagai hari belanja murah. Sudut pandang Geovani, pelajar Yogyakarta asal Kabupaten Blitar, setidaknya melihatnya demikian.

Tiap menjelang 21 April, bocah milenial itu melihat pemandangan yang berbeda. Lalu lalang orang menyerbu pusat perbelanjaan. Seperti serombongan ngengat menemukan kayu tua, mereka beramai ramai mendatangi departemen store, waralaba, swalayan dan semacamnya.

Demi potongan harga, momentum hari Kartini seolah menjadi ajang berbelanja sebanyak banyaknya. Dan dirinya seringkali termasuk didalamnya. “Dari tahun kemarin sudah demikian. Diskon berlaku hampir semua produk. Termasuk makanan dan minuman, “tuturnya kepada jatimplus.

Bukan hanya memanjakan penganut budaya konsumerisme. Perayaan harga murah juga diterima sebagai rahmat bagi mereka yang berkantong pas pasan. Geovani misalnya. Diskon harga di peringatan Hari Kartini adalah berkah. Dengan potongan harga dirinya yang jauh dari keluarga besarnya di Blitar, bisa melakukan penghematan keuangan. 

“Biasanya pakaian yang diskonnya paling gede, “kata Geovani yang sejak lulus madrasah tsanawiyah memutuskan hijrah ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan.

Faktanya, fenomena menggelar diskon besar besaran tidak hanya berlaku pada hari Kartini. Setiap hari besar nasional, para pebisnis waralaba selalu menyambutnya sebagai kesempatan menjual produk sebanyak banyaknya. Termasuk juga pada pemilu 17 April 2019 lalu.  

Banyak pebisnis waralaba yang memberikan harga khusus kepada konsumen yang menunjukkan jari tangan telah tercelup tinta pemilu. Intinya, peringatan hari nasional (termasuk Hari Kartini) selalu bisa dikapitalisasi untuk menangguk keuntungan sebanyak banyaknya.

Sementara di lingkungan pendidikan, peringatan Hari Kartini tahun 2019 hampir selalu dimeriahkan dengan para siswa berkostum tempo dulu. Murid perempuan memakai kebaya lengkap dengan sanggulnya. Sedangkan para siswa mengenakan baju bermotif batik. Kemudian mereka dibawa keatas panggung untuk dipentaskan.

Diluar itu masih dimeriahkan dengan lomba memasak dengan peserta murid pria. “Kalau tahun lalu biasanya demikian. Namun karena tahun ini bertepatan dengan pemilu dan ujian nasional (Mts/SMP), yang bersifat lomba seremonial sepertinya dikurangi, “tutur Pradita salah satu pengajar Mtsn di Kabupaten Blitar.

Tidak hanya perayaan seremonial. Menurut Pradita, di madrasah tempatnya mengajar, peringatan juga diwarnai lomba menulis artikel bertema Kartini. Pesertanya para siswa dan siswi. Dengan lomba menulis artikel, sekolah secara tidak langsung mencoba menggali lebih dalam pemikiran Kartini.  

Melalui penggalian lebih dalam itu, apa yang diperjuangkan Kartini harapannya akan selalu terjaga. “Sebab peringatan ari Kartini pada dasarnya adalah memperingati sejarah lahirnya pikiran emansipasi perempuan Jawa pada khususnya, dan umumnya nusantara, “katanya.

Lahir Ditengah Wajah Bopeng Kemanusiaan

R A Kartini lahir disaat kolonialisme memperlihatkan wajah bengisnya. Di Kabupaten Demak, Grobogan (Jawa Tengah) dan Cirebon (Jawa Barat), tanam paksa membuat populasi penduduk setempat menyusut drastis. Banyak nyawa rakyat jelata melayang karena direnggut kemiskinan dan rasa lapar.

Kaum Kromo dipaksa menanam tanpa diupah dan berkesempatan menikmati hasilnya secara layak. Situasi penindasan itu juga tercermin di Jepara yang merupakan daerah kelahiran Kartini. 

Dalam “Kartini, Kisah Yang Tersembunyi”, Aguk Irawan MN menuliskan, “di Demak, dalam jangka waktu dua tahun, dari 336.000 jiwa menjadi 120.000 jiwa”. Juga di Kabupaten Grobogan.  Hanya dalam tempo setahun,  populasi penduduk yang tadinya 89.500 jiwa, turun menjadi 9.000 jiwa. Kemana mereka semua pergi?. Jawabnya adalah mati dalam keadaan perut lapar. 

Pada tahun 1860 tanam paksa mulai dihapus. Pada tahun 1862 kritik kaum Liberal Belanda berhasil memaksa Kompeni menghentikan penanaman lada. Dua tahun kemudian atau 1865 penanaman nila, teh, dan kayu manis juga dihapuskan. Bersama serbuan wabah penyakit tanaman, di tahun 1866 menyusul penghapusan tembakau, kopi dan tebu.

Apakah rakyat terbebas dari penindasan?. Tidak. Datangnya politik etis yang menghapus gaya politik ekonomi Gubernur Jendral Van Den Bosch tidak serta merta melenyapkan penindasan rakyat Jawa. Penjajah Belanda tetap mengangkangi tanah rakyat. Terutama sawah dan perkebunan yang menghasilkan tanaman ekspor.

Bedanya tanah yang sebelumnya dikelola perusahaan dagang VOC disewa sewakan kepada pemodal Eropa dan Amerika. Rakyat yang semula menjadi budak negara beralih menjadi pengabdi pemodal swasta. 

“Mereka (rakyat) yang tidak mempunyai tanah akan menjual tenaganya dengan upah sangat murah. Mereka yang nasibnya tragis pergi ke kota kota dan menjadi gelandangan tanpa arah, “tulis Aguk Irawan (Kartini Kisah Yang Tersembunyi : Hal 37).

Begitu juga dengan rakyat Jepara. Demi bertahan hidup, mereka terpaksa mengais penghasilan di perkebunan partikelir. Ada juga yang mengabdi di rumah orang Belanda. Menghamba sebagai pembantu rumah tangga, juru masak, tukang kebun dan pekerjaan sejenis dengan upah tidak layak.

Yang sedikit bernasib baik bekerja sebagai mandor perkebunan. Tekanan atasan membuat mereka menahan perih melihat kerabatnya sesama Jawa menjadi kuli miskin dan kelaparan. Di saat yang sama feodalisme turut menyumbang praktik penghisapan.

Ditengah carut marut kehidupan sosial, ekonomi dan politik, Kartini melihat kaum perempuan sebagai pihak yang paling tertindas. Perempuan yang terlahir dari darah bangsawan dan rakyat jelata itu memandang perempuan Jawa telah diperlakukan paling tidak adil. Bahkan ketidakadilan itu dimulai di ruang paling privat, yakni pernikahan.

Dalam suratnya Putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, yakni patih yang diangkat menjadi Bupati Jepara itu mengungkapkan gugatannya.

“Aku tidak, sekali kali tidak, dapat menaruh cinta. Bagaimana aku akan hormat (Pada laki laki) yang sudah kawin membawa perempuan lain pula ke dalam rumahnya. Perempuan yang dikawininya secara sah menurut hukum Islam?…”tulisnya kepada Stella Zeehandelaar pada 18 Agustus 1899.  

Estella Zeehandelaar merupakan salah satu sahabat pena Kartini. Estella atau Stella adalah gadis Yahudi Belanda yang memiliki pandangan sosialis berapi api. Di negaranya dia seorang aktivis feminis liberal.

Kartini dengan tegas melawan poligami yang menurutnya telah menyakitkan perempuan. Segala perbuatan yang menyakitkan sesama, dimatanya adalah dosa. Dalam surat yang sama dia tuliskan: “Hukum Islam mengizinkan laki laki menaruh empat orang perempuan. Tetapi aku tetap selama lamanya mengatakan itu dosa. Segala perbuatan yang menyakitkan sesamanya, dosalah pada mataku”.   

Selain melihat kehidupan perempuan Jawa yang tertindas, gugatan Kartini tak lepas dari latar belakang kehidupannya. Kartini merupakan anak dari hasil pernikahan poligami. Saat menikahi Ngasirah (ibunda Kartini), yakni anak buruh pabrik gula Mayong, Raden Mas Ario Sosroningrat sudah beristri dan memiliki empat orang anak.

“Dan kawin disini, aduh, dinamakan azab dan sengsara masih terlalu halus. Bagaimana nikah itu tidak sengsara kalau hak semuanya bagi keperluan laki laki saja dan tidak sedikit jua bagi perempuan?”

Untuk kesekian kalinya surat  kepada Stella Zeehandelaar (25 Mei 1899) memperlihatkan betapa jelas pembelaan Kartini kepada nasib kaumnya (perempuan Jawa). Tradisi advokasi yang dalam sejarah sebelumnya tidak pernah ada. Juga hanya Kartini yang peduli dengan peristiwa Wereng Saketi Tresna tahun 1855. Sebuah peristiwa terbunuhnya Sultan Hamengkubuwana V setelah ditikam istri kelimanya, yakni Kanjeng Mas Hemawati yang hingga kini masih diselimuti kabut misteri.

Dalam “Panggil Aku Kartini Saja”, sastrawan Pramoedya Ananta Toer menyebut Max Havelaar dan Minnebrieven karya Multatuli sebagai bacaan pertama yang mendorong Kartini memiliki daya kritis dan analitis.  Dari Multatuli, Kartini mempelajari kredo: “Tugas manusia adalah menjadi manusia”.

Meski terus berkorespondensi dengan sahabat sahabatnya, yakni Stella maupun Ny Abendanon, Kartini tidak lepas dari nasib yang getir. Selama empat tahun dia terkungkung dalam sangkar pingitan. Namun selama itu pula pikiran tentang perjuangan emansipasi wanita terus menyala.  

Selama berjalannya waktu, “Srintil” begitu ayahnya memanggil, merasakan penderitaan, pergolakan, pencerahan dan masa pencerdasan. Kartini menjelma sebagai seorang pemikir besar. Bahkan mungkin yang terbesar dalam sejarah pribumi kala itu. Kartini tidak hanya bekerja dengan otaknya. Melainkan juga dengan hatinya.

Cintanya terhadap kehidupan sesama yang begitu besar dia ungkapkan dalam sederet pesan yang sangat bernyawa.“Cinta membangkitkan balasan cinta, tetapi penghinaan selama lamanya tak akan menghidupkan rasa cinta”, tulis Kartini. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.