READING

Kasus Pedofilia Terungkap di Surabaya, 15 Anak Men...

Kasus Pedofilia Terungkap di Surabaya, 15 Anak Menjadi Korban

SURABAYA– Hari ini,  CCIC (Cyber Crime Investigation Centre) melalui akun IG-nya merilis bahwa polisi menangkap seorang pelaku child grooming yang melancarkan aksinya via aplikasi game online ‘Hago’. Dalam aksinya pelaku memaksa korban untuk melakukan aksi porno hingga merekamnya. Hal serupa pernah diungkap oleh Dittipidsiber Bareskrim Polri dengan korban 50 orang anak di bawah umur. Orangtua diimbau agar lebih waspada dan meningkatkan pengawasan terhadap gawai yang digunakan anak. Hal-hal dekat di sekitar anak, termasuk gawai ternyata berpotensi ikut andil dalam pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

Tak hanya gawai, bahkan pelaku justru orang-orang dalam lingkaran dekat korban. Sebagaimana berita miris pencabulan terhadap anak di bawah umur yang terungkap di Jombang baru-baru ini. Sejumlah 15 anak laki-laki usia 14 tahun hingga 16 tahun menjadi korban. Direktorat Reserse Kriminal Umum (Direskrimun) Polda Jawa Timur menangkap tersangka RSS alias M (30 tahun), seorang guru ekstra kurikuler Pramuka di 5 SMP dan 1 SD di wilayah Surabaya. Hal ini disampaikan oleh Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera dalam jumpa pers di Polda Jatim, 23/07/2019.

“Awalnya terungkap 3 anak. Lalu dari pengembangan penyidikan ditemukan 11 korban anak dari 3 sekolah yang berbeda, dan 1 korban anak tetangga,” kata Barung. Tersangka merayu korban untuk mengikuti grup Pramuka inti. Syaratnya dengan tes yang dilakukan di rumah tersangka dengan waktu yang berbeda. Di rumah tersangka ini peristiwa pencabulan terjadi mulai pertengahan 2016 hingga 13 Juli 2019.

Barung mengatakan bahwa terungkapnya kasus ini diawali dari laporan dari orang tua korban pada tanggal 17 Juni 2019. Polisi melakukan penangkapa terhadap pelaku pada 18 Juli 2019. Keberanian orang tua untuk melapor inilah yang bisa mengungkap kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur. Kasus pelecehan seksual kerap menjadi aib sehingga orang tua cenderung menutupinya, sehingga pelaku akan terus berkeliaran.

Barung menyampaikan bahwa penyelidikan akan terus dilanjutkan dan tak menutup kemungkinan akan mengalami peningkatan. Sebagai contoh kasus di Jombang. Pada awalnya sedikit, ketika didalami pada kurun waktu 2017/2018 terungkap 61 korban dan 13 korban.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera (kanan) menggelar barang bukti, 23/07/2019. FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Pelakunya Orang Dekat

Bila melihat kejadian ini dan banyak kejadian lain, pelaku kebanyakan justru orang di lingkaran dekat korban. Guru ekstra kurikuler tentunya orang yang dikenal baik oleh korban sehingga korban dengan mudah menuruti kemauan pelaku.

“Hati-hati terhadap ‘predator seks’ ada di sekitar kita,” pesan Barung. Korban tak melulu anak perempuan, anak laki-laki pun tak luput dari para pedofil ini. Menutur Barung, untuk mendeteksinya sangat sulit. Sejauh ini, pelaku terungkap setelah adanya korban dan korban yang berani melaporkan kepada polisi.

“Bila ditanya, pelaku mengaku mendapatkan kepuasan,” terang Barung. Jika dikaji dari Ilmu Psikologi dan Ilmu Kesehatan Mental, pedofilia merupakan perilaku kekerasan seksual yang dilakukan terhadap anak pra pubertas atau di bawah usia 15 tahun dengan tujuan mendapat kepuasan seksual. Perilaku tersebut dianggap menyimpang karena di luar kebiasaan normal bahkan di berbagai negara termasuk Indonesia sudah dikategorikan sebagai tindak kejahatan. Pencabulan terhadap anak di bawah umur merupakan tindak kejahatan yang diatur dalam pasal 80 dan atau pasal 82 UURI No. 17 tahun 2016.

Menurut Dosen Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Universitas Airlangga, Margaretha, S.Psi, G.Cert.Ed, M. Sc, pedofilia terjadi pada orang-orang yang punya persoalan dalam perkembangan seksualitas. Para pedofil (sebutan pelaku pedofilia) biasanya lebih tertarik dengan orang yang lemah, yang muda, dan bisa dikontrol dalam hal ini anak-anak. Padahal seharusnya mereka berminat dengan lawan jenis yang seusia.

UNAIR Kembangkan Alat Deteksi Dini untuk Jauhkan Anak dari Pelaku Pedofilia.

Reporter: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.