READING

Kedamaian Sederhana Mahasiswa Papua di Surabaya

Kedamaian Sederhana Mahasiswa Papua di Surabaya

Masih hangat ingatan tentang kasus rasisme mahasiswa Papua di Surabaya bulan Agustus 2019. Kasus rasisme itu pun meluas ke berbagai kota tempat mahasiswa asal Papua menuntut ilmu. Pada dasarnya, masyarakat ingin hidup damai, apapun ras dan agamanya. Surabaya mengisahkan kembali soal kedamaian yang sempat terusik. Jatimplus.id menerima dua siaran pers dari Humas Pemkot Surabaya yang mengabarkan tetang kehidupan damai mahasiswa dan warga Papua di Surabaya tertanggal 29 September dan 30 September 2019.

Barangkali merupakan “acara kampung” biasa ketika seorang mahasiswa yang lulus berpamitan pada warga sekitar tempat ia tinggal selama menuntut ilmu. Namun hal ini menjadi berbeda ketika latar konflik pernah mengusik persaudaraan itu. Balai RW 2,  Kelurahan Menur Pumpungan, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya menjadi saksi bisu persaudaraan warga Surabaya dengan warga Papua.

Para mahasiswa Papua yang baru diwisuda beserta orang tuanya dan juga RT/RW serta warga di Kelurahan Menur Pumpungan mengadakan acara syukuran wisuda sekaligus ucapan terima kasih dari mahasiswa Papua yang telah lulus kepada warga sekitar. Syukuran ini dihadiri oleh Nurul Muzayanah (Lurah Menur Pumpungan), Ibrahim (Perwakilan Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni), para mahasiswa Papua yang baru diwisuda beserta orang tuanya, dan juga RT/ RW serta warga di Kelurahan Menur Pumpungan.

“Di Menur Pumpungan ini memang mahasiswa Papua itu kami dekatkan dengan warga. Mereka pun sering ikut kerja bakti dan berbagai kegiatan warga lainnya, sehingga ketika mereka sudah lulus kuliah, mereka ingin menyampaikan rasa syukur dan terimakasihnya kepada warga, makanya mereka pamitan di acara ini,” kata Nurul, Lurah Menur Pumpungan pada saat acara syukuran yang berlangsung malam hari, Sabtu (28/9/2019).

Philipus Godefridus Hindom, salah satu mahasiswa yang baru lulus kuliah di Universitas Dr. Soetomo mengatakan, ia bersama mahasiswa Papua lainnya, terutama yang berasal dari Kabupaten Teluk Bintuni ingin menyampaikan terima kasih kepada warga Menur Pumpungan yang telah menerimanya selama ini. Sejak kuliah tahun 2013, ia mengaku belum menemui masalah dengan warga sekitarnya.

“Setiap kali kami jalan, kami juga selalu disapa dengan baik, ada kegiatan warga, kami juga selalu ikut, sehingga kami pastikan bahwa warga Surabaya itu baik-baik dan sangat ramah,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa jika waktu lalu banyak mahasiswa pulang kampung karena berbagai isu miring, ia mengaku tidak tergoda untuk pulang kampung. Pasalnya, dia melihat di lingkungan kosannya, tidak ada masalah apapun, sehingga tidak ada alasan untuk pulang kampung dan tidak melanjutkan kuliah. Oleh karena itu, ia menyampaikan terimakasih banyak kepada warga Kota Surabaya, khususnya warga Menur Pumpungan yang telah mendukungnya selama menempuh pendidikan di Unitomo.

“Sekali lagi terimakasih banyak warga Surabaya, terimakasih banyak Bu Risma,” imbuhnya.

Sementara itu, Ibrahim, salah satu perwakilan Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni yang turut hadir dalam acara itu sangat mengapresiasi acara tersebut. Menurutnya, acara itu sangat luar biasa, apalagi mahasiswa Papua yang kuliah di Surabaya sudah bisa menyelesaikan kuliahnya di Surabaya ini. Menurut Ibrahim, mahasiswa Papua yang telah lulus kuliah ini akan menjadi harapan baru bagi Papua, khususnya bagi Kabupaten Teluk Bintuni. Pasalnya, mereka diharapkan bisa membantu mengembangkan Teluk Bintuni sesuai dengan disiplin ilmu mereka masing-masing.

“Ilmu mereka semoga bisa diterapkan di sana (Teluk Bintuni). Apalagi, kami saat ini membutuhkan keperawatan dan ternyata hari ini ada yang lulus dari keperawatan, sehingga tentu ini sangat membantu kami,” kata Ibrahim, Kasi Pemerintahan Teluk Bintuni.

Bantu Rombongan asal Papua yang Kehabisan Tiket Pulang

Setelah mahasiswa yang berpamitan, Pemkot Surabaya dan Pemprov Jawa Timur membantu 20 orang rombongan asal Papua yang kehabisan tiket kapal usai Rakornas di Solo. Pemerintah Kota Surabaya melalui Ikatan Keluarga Besar Papua di Surabaya (IKBPS) membantu anggota Yayasan Surya Nuswantara yang kehabisan tiket kapal untuk pulang ke Jayapura, Provinsi Papua.

Ketua IKBPS Pieter Frans Rumaseb mengatakan saudara-saudara dari Papua yang tergabung dalam Yayasan Surya Nuswantara ini tidak mendapatkan tiket pulang ke Jayapura ketika transit di terminal Gapura Surya Nusantara, sehingga mereka harus menunggu kapal berikutnya pada tanggal 2 Oktober 2019. Mereka menginap di terminal.

“Setelah komunikasi dengan pihak Pelni, mereka baru mendapatkan tiket kapal pada tanggal 2 Oktober 2019. Nah, sambil menunggu keberangkatan itu, mereka menginap di terminal Gapura Surya Nusantara. Setelah mendengar informasi itu, saya selaku Ketua IKBPS langsung datang ke sana dan membawa  mereka menginap di hotel,” kata Pieter saat menjenguk warga Jayapura di sebuah hotel, Senin (30/9/2019).

Informasi ini didengar oleh Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini dan Gubernur Jawa Timur, Kofifah Indar Parawansa sehingga dua pimpinan itu berkoordinasi untuk membantu.

“Bu Wali sudah memerintahkan saya untuk perhatikan saudara-saudara kita yang sekarang menginap di hotel ini,” kata Pieter. Oleh karena itu, sejak mereka masuk ke hotel, semua akomodasi dibantu oleh Pemkot Surabaya, terutama oleh keluarga besar IKBPS. Bahkan, Selasa (2/10/2019), mereka diajak tour Kota Surabaya supaya mengetahui wisata Surabaya dan keramahan warganya. Ia juga berharap, dengan tour itu bisa sedikit membantu keresahan mereka, sehingga nanti ketika pulang ke kampungnya masing-masing punya cerita dan pengalaman selama berada di Surabaya.

 “Jadi, Pemkot dan Pemprov selaku representasi dari negara, hadir di tengah-tengah mereka. Kami bantu mereka karena kita bersaudara, sesama anak bangsa Indonesia,” tegasnya.

Sementara itu, Koordinator Rombongan Papua dari Yayasan Surya Nuswantara, Mardiono mengaku sangat bersyukur bisa mendapatkan berbagai fasilitas ini. Bahkan, ia bersama rombongan lainnya tidak pernah menyangka akan mendapatkan perhatian sebesar itu.

“Perhatian dan respon Pemkot Surabaya ini sangat luar biasa, kami tidak pernah menyangka sampai seperti ini. Kami sangat dihargai di sini,” kata Mardiono.

Masih panjang jalan untuk menangani konflik Papua yang memang sudah terjadi cukup lama. Hanya, kisah-kisah sederhana semacam ini setidaknya memberi kehangatan sederhana di antara peristiwa besar yang hendaknya segera diselesaikan.

Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.