Kediri Belum Melewati Masa Kritis DBD

KEDIRI – Wabah demam berdarah dengue (DBD) kembali merenggut nyawa anak-anak di Kota Kediri. Kasus ini menampar kewaspadaan masyarakat yang mulai lengah dengan aktivitas ibadah puasa.

Setelah sempat mereda untuk beberapa waktu, kasus kematian akibat demam berdarah kembali terjadi Kediri. Seorang siswa kelas dua sekolah dasar tewas setelah mengalami demam akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri Dr Fauzan Adhima mengatakan korban sudah dalam kondisi DSS (dengue syock syndrome) saat diterima petugas rumah sakit. “Setelah dua hari dirawat dalam kondisi koma, korban akhirnya meninggal,” terang Fauzan kepada Jatimplus, Kamis 9 Mei 2019.

Keterlambatan mendapat penanganan menjadi penyebab meninggalnya bocah malang tersebut. Jika lebih berhati-hati dan tak mengambil resiko, anak harus segera dilarikan ke rumah sakit saat mengalami demam lebih dari tiga hari.

Fauzan mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak mengurangi kewaspadaan terhadap wabah demam berdarah. Sebab secara teori, wabah ini masih akan terjadi selama musim hujan berlangsung. Saat ini cuaca di Kota Kediri dan sekitarnya masih belum benar-benar memasuki musim kemarau.

“Kami minta masyarakat tetap melakukan langkah 3M (menguras, menutup, dan mengubur) benda-benda yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Sementara Dinas Kesehatan akan melakukan fogging (pengasapan),” kata Fauzan.

Kasus kematian tertinggi serangan demam berdarah terjadi di Kabupaten Kediri pada akhir tahun 2018 hingga awal 2019. Hingga bulan Januari 2019 tercatat 265 kasus, dengan sembilan di antaranya meninggal dunia. Serangan demam berdarah tahun ini meningkat di banding tahun lalu pada periode yang sama.

Dr. Catherina Pipit Hapsari dari Puskesmas Pesantren, Kota Kediri menjelaskan demam berdarah dengue atau disingkat DBD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa nyamuk.

Gejala klinis paling ringan dari penyakit ini adalah demam tinggi, ruam, dan nyeri otot dan sendi. Kondisi ini bisa meningkat lebih parah dan dapat menyebabkan perdarahan serius, penurunan tekanan darah drastis, serta berujung pada kematian. “Virus ini bisa mematikan,” kata Pipit.

Sejumlah analisis menyebut gejala demam berdarah dimulai sekitar 4 – 10 hari setelah pasien mendapat gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Pada anak-anak yang belum pernah terinfeksi, gejala yang dialami cenderung lebih parah dibandingkan orang dewasa.

Karena itu pasien dan keluarganya wajib mengetahui perbedaan gejala demam berdarah dengan gejala penyakit lain agar mendapat pertolongan tepat. (Hari Tri Wasono)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.