READING

Kediri Runners, Pelopor Lari Malam di Kediri

Kediri Runners, Pelopor Lari Malam di Kediri

KEDIRI – Melihat sekelompok remaja berlari di malam hari bukan hal mengejutkan bagi warga Kota Kediri. Mereka adalah komunitas Kediri Runners yang selama empat tahun tak pernah putus berlari di malam hari.

Terinspirasi dari Indo Runners yang tumbuh lebih dulu di kota-kota besar, sejumlah remaja di Kediri membentuk Kediri Runners. Sejak berdiri tahun 2015 lalu, komunitas ini telah menggaet ratusan orang menjadi pengikut. “Kita ada grup Whatsapp. Tercatat 200 anggota di dalamnya. Tapi yang aktif lari rutin biasanya 50 orang,” terang Muhammad Aldi Rifaldi, anggota senior Kediri Runners kepada Jatimplus.ID, Senin 4 November 2019.

baca juga: Bagaimana Melaporkan Tetangga Yang Parkir Sembarangan

Ratusan pelari ini bukan tak punya pekerjaan. Mereka adalah pelajar, mahasiswa, dan pekerja yang memiliki hobi sama, yakni berlari. Malam hari dipilih untuk menjalankan hobi karena situasinya lebih santai. Baik aktivitas penduduk maupun kondisi lalu lintasnya.

baca juga: Najwa Shihab Kasih Trik Baca di Ponpes Tebuireng Jombang

Selain itu pagi hingga sore hari aktivitas anggotanya berbeda-beda. “Jadi kita pilih malam hari untuk menyamakan waktu sekaligus melepas penat setelah seharian bekerja atau sekolah,” beber Aldi.

Tak hanya bertemu di jalan, anggota Kediri Runners secara rutin berkumpul di Taman Kediri Memorial Park (KMP) tiap Kamis malam untuk berlatih. Rute lari yang dipilih adalah jalanan utama Kota Kediri, mulai Jalan PK Bangsa – Jalan Brawijaya – Jalan Diponegoro – Jalan Imam Bonjol – Jalan Ahmad Yani – Jalan PK Bangsa. Lumayan jauh dan memeras keringat terutama bagi pelari yang baru bergabung.”Setelah berlari kami tak langsung bubar. Ngobrol dulu sambil foto-foto,” kata Aldi menceritakan keseruannya.

Ada banyak hal yang diperoleh anggota komunitas ini. Selain berolahraga, mereka juga mempelajari teknik berlari yang benar agar terhindar dari cedera. Mulai dari mengayunkan tangan hingga mendaratkan kaki saat melangkah, tak bisa dilakukan sembarangan.

Anggota Kediri Runner melakukan pemanasan sebelum berlari. Foto: Dok.

Menurut Aldi, saat berlari tangan harus diayunkan secara alami. Dia tidak menyarankan berlari dalam keadaan tangan diam. Karena ini bisa memberikan efek capek lebih cepat pada bagian atas, terutama bahu dan punggung. Begitu pula cara menapakkan kaki ketika berlari, dilarang menggunakan tumit.

“Paling bagus adalah menapakkan bagian tengah kaki atau ujung kaki. Ini untuk menghindari cedera di bagian pergelangan kaki hingga lutut,” urainya.

Tidak hanya teknik berlari, jenis dan bentuk sepatu juga berpengaruh pada performa lari. Untuk lari jarak jauh atau marathon lebih baik menggunakan sepatu bersol tebal atau empuk. Sedangkan untuk lari jarak pendek atau sprint disarankan menggunakan sepatu bersol lebih tipis namun tetap nyaman. “Karena fokus sprint di kecepatan, jadi sepatu yang lebih tipis menjadi pilihan terbaik,” sela Yohan Aditya, kapten Kediri Runners.

Yohan menambahkan, bentuk sepatu harus sesuai dengan bentuk kaki. Cara mengamatinya bisa dengan mencelupkan kaki di air, kemudian mencetaknya di atas kertas atau lantai yang kering. Dengan demikian bentuk fisiologisnya kakinya akan bisa terlihat.

“Kaki orang kan beda-beda. Ada yang cekungan tengah kakinya tinggi, ada yang rendah. Ada pula yang ujung kakinya melebar. Jadi harus disesuaikan bentuknya agar kaki nyaman,” tambah Yohan.

Pelari asal Semen, Kabupaten Kediri ini juga mengingatkan agar menggunakan sepatu sesuai peruntukannya. Misalnya menggunakan sepatu badminton atau sepatu futsal untuk berlari. “Gunakan sepatu biasa saja walaupun murah. Jangan gunakan sepatu khusus untuk olahraga lain karena bisa membuat cedera fatal,” pungkasnya.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.