READING

Kekerabatan Alumni Lirboyo Sangat Kuat (6)

Kekerabatan Alumni Lirboyo Sangat Kuat (6)

KEDIRI – Tak hanya kuat di dalam, Pondok Pesantren Lirboyo Kediri juga kokoh di luar. Bangunan silaturahmi antar alumni pesantren terjalin utuh hingga menjadi keluarga besar, dan mengantarkan santrinya menjadi tokoh penting di republik ini.

Sejak berdiri di tahun 1910 di bawah kepemimpinan Kiai Abdul Karim, Pondok Pesantren yang berada di Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri ini telah melahirkan banyak alumni. Mereka tersebar di berbagai pelosok tanah air dan luar negeri. “Kami terus berkomunikasi dan memikirkan kondisi pondok,” kata Emha Nabil Haroen, alumni Lirboyo yang saat ini menjabat Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Nadlatul Ulama (IPSNU) Pagar Nusa.

Inilah yang menjadi keunikan sekaligus kekuatan Pondok Pesantren Lirboyo. Meski telah menekuni profesi masing-masing di luar pondok, namun komitmen untuk tetap memegang teguh ajaran kiai tak pernah luntur. Mulai politisi, pengusaha, pedagang, pegawai negeri dan profesi lain tetap menjadi penegak Ahlussunah Wal Jamaah. Bahkan tak sedikit yang menjadi ulama dan mendirikan pondok pesantren sendiri seperti Kiai Maimoen Zubair, Kiai Ahmad Mustofa Bisri, dan Kiai Nur Iskandar.

Menurut Nabil, status menjadi alumni tak membuat hubungan dan komunikasi dengan pondok terputus. Para alumnus tetap memiliki kewajiban menyebarluaskan ajaran dan pemikiran kiai kepada masyarakat luas. Apalagi beberapa alumni Lirboyo saat ini telah menduduki posisi penting di dalam pemerintahan maupun di luar kekuasaan, yang notabene memiliki kemampuan menyebarluaskan ajaran pondok.

Untuk mengkonsolidasikan mereka, sejumlah alumni dan pengasuh Pesantren Lirboyo menggagas wadah alumni dalam organisasi modern bernama Himasal. Himasal adalah akronim dari Himpunan Alumni Santri Lirboyo. Dalam sekejap, organisasi yang didirikan di Lirboyo pada tanggal 15 Maret 1996 ini langsung memiliki anggota sangat besar.

Para alumni dari berbagai daerah dan lintas usia ramai-ramai mendaftarkan diri dalam keanggotaan Himasal. Kerinduan pada teman seasrama dan pengasuh terobati saat menggelar silaturahmi bersama. “Kami juga bertanggungjawab untuk terus menyuarakan Lirboyo pada masyarakat luas,” terang Nabil.

Organisasi Himasal bersifat kekeluargaan dan beraqidah Islam menurut faham Ahli Sunnah wal Jamaah. Ada empat madzhab yang diikuti, yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Setiap santri yang pernah belajar di Pondok Pesantren Lirboyo dan tergabung dalam organisasi ini wajib menyetujui azas dan aqidah tersebut. Mereka juga harus sanggup melaksanakan semua keputusan organisasi.

Untuk mengkoordinir alumnus yang tersebar di berbagai pelosok, kepengurusan Himasal dibagi menjadi tiga jenjang, yakni pengurus pusat, pengurus wilayah, dan pengurus cabang. Masing-masing jenjang berhak menyelenggarakan musyawarah untuk membahas berbagai persoalan. “Tak hanya persoalan alumni dan pondok, musyawarah bisa membahas persoalan yang sedang terjadi di masyarakat,” kata Nabil.

Baca Juga :

Menyusuri Jejak Bangkiak

Lirboyo Pondoknya Pendekar Silat

Selain menjalin silaturahmi, kepedulian dan tanggungjawab untuk membantu sesama alumni Lirboyo juga menjadi tujuan Himasal. Tak sedikit yang membangun usaha bersama untuk memperkuat pondasi ekonomi. Diantaranya adalah memproduksi air mineral Himasal dan penyelenggara ibadah haji dan umroh. Sebagian pendapatan usaha itu akan didonasikan untuk operasional pondok dan kas Himasal.

Di luar agenda rutin organisasi Himasal, para alumni Lirboyo juga rutin mendatangi Masjid Agung pondok untuk mengaji Kitab Al Hikam, kitab tasaawuf karya Syaikh Ibnu ‘Athaillah As Sakandari. Pengajian ini biasanya diakukan tiap selapan pada hari Kamis Legi.

Tak hanya kuat di komunikasi darat. Silaturahmi antar alumni ini juga terbangun di dunia maya. Tak percaya, intip saja akun Instagram @serambilirboyo. Akun yang memiliki 134 ribu pengikut ini dikelola oleh seorang alumni Ponpes Lirboyo. Setiap postingannya juga disukai ribuan orang.

Materi postingan yang diunggah pengelola @serambilirboyo hampir seluruhnya seputar Pesantren Lirboyo dan ceramah pengasuhnya. Postingan terakhir yang diunggah adalah foto pengasuh Lirboyo Kiai Kafabihi Mahrus saat tengah memimpin doa. Dalam keterangannya tertulis Penjelasan Para Ulama Tentang Maulid Nabi Muhammad. Postingan yang diunggah kurang dari 24 jam itu telah disukai sebanyak 5.286 orang.

Postingan sebelumnya yang hanya berselisih jam juga disukai 3.056 orang. Postingan itu memuat foto salah satu sudut Pesantren Lirboyo, dan diberi keterangan ‘Termasuk menguatkan taalluq terhadap masyayikh selain hadiah Fatihah adalah sowan, nyandong berkah doa dan memandang wajah guru’.

Postingan itu adalah pesan kepada seluruh alumni Lirboyo untuk menghadiri acara Reuni Akbar ke-5 yang akan diselenggarakan pada tanggal 20 November 2018. Seluruh alumni dari berbagai pelosok diharap kehadirannya di pesantren untuk bersilaturahmi.

Selain menyuarakan sikap dan pemikiran pengasuh Lirboyo, forum seperti itu juga menjadi media sosialisasi sikap politik pondok. Beberapa sikap yang pernah disuarakan melalui Himasal antara lain pemilihan kepala daerah, gubernur, hingga presiden. Langkah ini cukup efektif mengingat jumlah alumni santri Lirboyo yang sangat besar dan tersebar di seluruh daerah.

Peran alumni pada pondok pesantren ini juga tak kalah besar. Sebut saja Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Kiai Said Agil Siraj dan sederet pejabat negara yang pernah mondok di Lirboyo. Tak hanya membantu urusan logistik, mereka juga membuka kran kebijakan yang berpihak pada pendidikan pesantren.

Para alumni pula yang membentengi pondok dari potensi gangguan pihak luar. Agitasi dan propaganda yang dilakukan kelompok penentang Pancasila dan Ahli Sunah menjadi tantangan mereka di era milenial. (*)

 

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.