Kekeringan Ancam Stok Pangan Nasional

KEDIRI – Badan Urusan Logistik (Bulog) Subdivre Kediri kehabisan stok panen hingga akhir tahun 2018. Harga pembelian beras petani juga tak mampu dibeli karena di luar kemampuan pemerintah.

Kepala Bulog Subdivre Kediri Saidi mengatakan stok panen hingga bulan Desember 2018 telah habis. Kemarau panjang yang melanda sejumlah lumbung pangan membuat pergeseran waktu panen raya mundur hingga April 2019. “Karena kemarau panjang, kemungkinan tanam pada Januari atau Februari, jadi diprediksi nanti April baru panen raya. Untuk saat ini panen sudah habis. Hingga Desember tidak ada,” kata Kepala Bulog Subdivre Kediri Saidi seperti dilansir Antara, Rabu 28 Nopember 2018.

Bulog Kediri, menurut Saidi, tak pernah berhenti menyerap beras petani. Namun karena harga jual petani sudah melebihi harga pembelian pemerintah (HPP), beras mereka tak bisa diserap. Saat ini Bulog hanya bisa mengandalkan stok yang ada di gudang.

Celakanya, Bulog Kediri juga tak bisa melakukan pembelian jagung meski saat ini produksi jagung melimpah. Lagi-lagi harga pembelian pemerintah masih di bawah harga jual petani di pasaran. Sehingga produk pertanian itu lebih banyak jatuh di tangan tengkulak.

Bulog baru bisa melakukan penyerapan produk petani setelah ada revisi HPP. Untuk sementara Hingga kini Bulog juga hanya mengandalkan beras cadangan untuk yang tersimpan di gudang.  “Saat ini di Kediri, Nganjuk tidak ada panen. Banyak yang tanam jagung, jadi pengadaan belum cocok di harga. Kini harga sudah di atas HPP dan itu menjadi kendala,” kata dia.

Saat ini jumlah stok beras yang tersimpan di gudang Bulog Kediri sebanyak 10 ribu ton. Jumlah tersebut dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan operasi pasar, cadangan beras pemerintah, hingga program subsidi lain.

Selama program operasi pasar, Bulog Kediri mengeluarkan sedikitnya 2-3 ribu ton beras per hari. Sementara realisasi penyerapannya pada tahun 2018 sudah mencapai 29 ribu ton dari target 36 ribu ton beras.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus mengatakan kemarau panjang tahun ini bisa mengancam kedaulatan pangan. Saat ini banyak wilayah pertanian di Pulau Jawa yang telah mengalami puso atau gagal panen. Padahal, Jawa merupakan sentra pangan yang menyumbang sekitar 60% dari total luas lahan pertanian Indonesia. “Kekeringan itu akan mengakibatkan produksi pangan 1 ton, kini menjadi setengahnya,” ujarnya kepada Katadata di Jakarta.

Periode Juni hingga September 2018 merupakan puncak kemarau di tahun 2018. Bahkan beberapa wilayah di Indonesia tak mengalami hujan sama sekali selama lebih dari tiga bulan. Lampung, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara merupakan wilayah paling parah mengalami kekeringan. Kemarau pada tahun ini diprediksi lebih panjang 20 sampai 30 hari jika dibandingkan periode 2015-2017 lalu.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat bencana kekeringan telah melanda 11 provinsi, 111 kabupaten/kota, 888 kecamatan, dan 4.053 desa di Indonesia. Sebagian besar merupakan sentra beras dan jagung, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Banten, Lampung, dan beberapa provinsi lainnya. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.