READING

Kekurangan Guru PNS, Kegiatan Pendidikan Kota Kedi...

Kekurangan Guru PNS, Kegiatan Pendidikan Kota Kediri Tertutupi Tenaga Pengajar Tidak Tetap

KEDIRI– Guru berikut kondisi kesejahteraannya selalu menjadi isu strategis untuk dibahas. Apalagi di Hari Guru Nasional. Di Kota Kediri sendiri, nyatanya proporsi guru berstatus PNS masih mengalami defisit. Rata-rata setiap sekolah di tingkat SD dan SMP kurang 3 tenaga guru.

Meski demikian, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan normal. Ini dikarenakan kekosongan guru PNS untuk sementara bisa ditutupi oleh para guru tidak tetap (GTT). “Kita memang ada kekurangan di setiap sekolah. Tetapi tidak sampai mengganggu kegiatan pendidikan untuk saat ini,” terang Heriati, kepala bidang ketenagaan, Dinas Pendidikan Kota Kediri.

Untuk diketahui, dari data yang ditunjukkan oleh Data Pokok Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikbud menunjukkan jumlah guru total di Kota Kediri cukup besar. Untuk  tingkat SD ada sebanyak 1.528 guru yang tersebar di tiga kecamatan. Di Kecamatan Mojoroto ada 547 guru; di Kecamatan Kota Kediri ada 558 guru; dan yang paling sedikit di Kecamatan Pesantren sebanyak 423 guru.

Sedangkan untuk tingkat SMP total ada 872 guru dengan penempatan masing-masing di Kecamatan Mojoroto sebanyak 360 guru; di Kecamatan Kota Kediri ada 401 guru; dan ada 111 guru di Kecamatan Pesantren. “Itu tidak hanya PNS tapi juga ada GTT di sana,” tambahnya kepada Jatimplus.ID.

Atas kekosongan tersebut, sebenarnya Disdik sudah mengajukan kebutuhan CPNS tenaga guru sekitar 150 orang. Namun rencana tersebut belum mendapat persetujuan sehingga pelaksanaan CPNS tahun ini tenaga guru kosong rekrutmen. “Kalau alasannya, itu ranahnya BKD ya untuk berstatement,” tegasnya.

Makanya untuk menyiasati kekurangan tenaga guru PNS, Disdik melalui para kepala sekolah bisa melakukan rekrutmen GTT sesuai dengan kebutuhan di sekolahnya. Untuk saat ini, jumlah GTT bersama pegawai tidak tetap (PTT) 690 orang. Jumlah terus mengalami perubahan.

Pasalnya ada beberapa GTT yang pindah tempat kerja. “Entah pindah karena ikut suami, atau diterima menjadi CPNS di lokasi lain,” urainya.

Terkait dengan kondisi kesejahteraannya sendiri, GTT di Kota Kediri relatif mendapat perhatian yang cukup besar. Pasalnya Pemkot melalui Disdik memiliki anggaran khusus untuk insentif yang dibayarkan setiap bulan. Besarannya sekitar Rp 250 ribu per bulan.

Insentif ini di luar honor yang mereka terima dari alokasi Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Berdasarkan petunjuk teknis (juknis) BOS, penggajian tenaga honorer di setiap sekolah menggunakan maksimal 15 persen dari total penerimaan. Peraturan ini berlaku untuk semua penerima dana BOS termasuk sekolah yang hanya mendapatkan BOS sebesar Rp 2,5 juta per tahun.

“Jadi insentif yang Rp 250 ribu per bulan itu kebijakan dari Pak Wali untuk “nyangoni” di luar honor bulanan yang mereka dapat dari BOS,” bebernya.

Heriati menegaskan, walaupun jumlah guru PNS sebenarnya secara kuantitatif mengalami kekurangan, kondisi tersebut tidak sampai mempengaruhi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Meski demikian bukan berarti kondisi tersebut bisa dibiarkan saja. Heriati berharap ke depannya jatah guru PNS bisa ditambah.

“Harapannya bisa bertambah ke depannya,” pungkasnya.

Sementara itu, sebenarnya para PTT dan GTT sudah sering melakukan audiensi ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kediri. Mereka meminta Pemkot menaikkan anggaran insentif untuk mereka. Pasalnya besaran yang saat ini diberikan dianggap masih belum mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Menurut mereka, besaran insentif sebesar Rp 250 ribu tersebut dianggap hanya cukup membeli dua kardus susu. Sangat kontras dengan UMK yang berlaku di Kota Kediri yang mencapai Rp 1,8 juta per bulan. Makanya para GTT PTT Kota Kediri meminta ada perbaikan kondisi kehidupan.

“Para GTT ini cukup mendominasi di Kota Kediri dan cukup efektif menutup kekurangan tenaga guru PNS. Harapannya Disdik lebih memperhatikan kami,” terang Mohammad Badrul Munir, ketua forum PTT GTT Kota Kediri ketika mendatangi kantor DPRD Kota Kediri awal November lalu (5/11).

Reporter : Dina Rosyidha
Editor: Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.