READING

Kemeriahan Cap Go Meh di Klenteng Tjoe Hwi Kiong

Kemeriahan Cap Go Meh di Klenteng Tjoe Hwi Kiong

KEDIRI – Warga Tionghoa di Kota Kediri sedang berpesta. Selama tiga minggu mereka mengikuti rangkaian peringatan tahun baru imlek, yang ditutup dengan perayaan Cap Go Meh.

Sabtu malam, 8 Februari 2020 adalah puncak perayaan tahun baru imlek di Klenteng Tjoe Hwi Kiong, Jalan Yos Sudarso Kediri. Ratusan warga Tionghoa tumpah di halaman klenteng mengikuti perayaan tahunan yang meriah. “Malam ini adalah puncak sekaligus malam terakhir rangkaian perayaan tahun baru imlek,” kata Prayitno Sutikno, Ketua Umum Yayasan Tri Dharma Klenteng Tjoe Hwi Kiong saat ditemui Jatimplus.id di Klenteng Tjoe Hwi Kiong malam itu.

Klenteng yang berada di bantaran Sungai Brantas terlihat cantik malam itu. Deretan lampion merah menyala di langit-langit halaman. Berpendar memecah kegelapan malam dan menghangatkan suasana bantaran sungai yang dingin.

Setiap wajah warga Tionghoa yang hadir juga berbinar, menandakan kegembiraan yang amat sangat di malam perayaan Cap Go Meh tahun baru imlek 2571. Demikian pula anak-anak yang berdandan busana China, yang bersiap tampil sebagai atlet Wushu dan paduan suara.

Di luar area pertunjukan, berjejal ratusan orang yang menunggu atraksi Barongsai. Mereka bukanlah warga Tionghoa, melainkan masyarakat umum di luar klenteng yang khusus mendatangi tempat itu di malam Cap Go Meh. Selama bertahun-tahun kemeriahan Cap Go Meh tidak hanya menjadi milik warga Tionghoa, tetapi masyarakat Kota Kediri.

Kehadiran mereka di klenteng sudah ada sejak pukul 18.00 WIB. Mereka datang dari berbagai tempat, untuk mengajak sanak kerabat menyaksikan atraksi Barongsai. Beberapa pria tampak memanggul anak kecil di pundak agar bisa menyaksikan Barongsai dari barisan belakang. “Perayaan ini terbuka untuk umum, siapapun boleh datang,” kata Prayitno.

Selain pertunjukan seni, panitia Cap Go Meh juga menghadirkan bazaar kuliner Tionghoa di sana. Sedikitnya 42 stand kuliner dan kerajinan khas dijual dengan harga murah. Keberadaan bazaar ini juga menjadi pemikat masyarakat luas untuk mendatangi klenteng. Berbagai stand penyedia asesoris ludes diburu pengunjung.

Tak hanya bersenang-senang, di malam Cap Go Meh warga Tionghoa melaksanakan dua kali sembahyang, yakni pukul 19.30 WIB dan 22.00 WIB. Prosesi ini berlangsung khitmat lantaran para pengunjung tampak tenang menghormati ibadah itu. Mereka yang melaksanakan sembahyang adalah para pemeluk Tri Dharma, yakni Tao, Konghuchu dan Budha.

Prayitno menjelaskan, rangkaian perayaan ini sebenarnya sudah berlangsung sejak tiga minggu yang lalu. Seminggu sebelum malam tahun baru imlek, mereka melakukan bersih-bersih altar untuk persiapan sembahyang di malam tahun baru.

Dan malam itu, umat Tri Dharma serempak melakkan sembahyang tutup tahun dan buka tahun. Seminggu setelahnya dilakukan lagi sembahyang Ciswak untuk tolak bala atau menolak malapetaka. Selain itu ada pula sembahyang Kim Thi Kong yang dipercaya menolak penyakit. Seluruh rangkaian peribadatan itu akan ditutup dengan sembahyang Yuan Xiao. “Sembahyang itu dilakukan di depan altar utama Klenteng oleh jemaat,” terang Prayitno.

Para peringatan tahun ini, yang dimaknai sebagai tahun tikus logam, Yayasan Tri Dharma mengangkat tema “Menjalankan kebajikan untuk menjaga keharmonisan”. Tema ini diambil untuk menjaga persatuan bangsa di tengah konflik antar warga berdalih isu agama.

Tidak hanya melalui pesan keagamaan, upaya menjaga kerukunan ini juga dilakukan Prayitno dengan aktif di forum kerukunan umat beragama (FKUB). Forum ini sangat efektif meredam isu berbasis agama, yang direspon dalam pertemuan 40 hari sekali.

Pesan serupa juga disampaikan Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar saat menghadiri kemeriahan Cap Go Meh di Klenteng Tjoe Hwi Kiong. “Dengan kondisi yang tenang seperti ini, pembangunan maupun perekonomian Kota Kediri akan berjalan baik dan lancar. Ini yang perlu kita syukuri dan harus kita jaga terus,” katanya.

Abu Bakar juga terlihat riang menikmati rangkaian kegiatan Cap Go Meh bersama tokoh lintas agama Kota Kediri.

Reporter: Dina Rosyidha
Editor: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.