READING

Kesenyapan nan Agung pada Jumat Agung di Puhsarang

Kesenyapan nan Agung pada Jumat Agung di Puhsarang

KEDIRI- Mendung melukis muram sore itu. Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang, desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri itu senyap. Para peziarah yang datang dari berbagai kota pun seolah menahan langkah kaki agar tak menimbulkan suara.

Yoni, laki-laki berpeci itu tak ikut Ibadat Kisah Sengsara pada Jumat Agung yang dilaksanakan mulai pukul 15.00 WIB. Ia Katolik namun sore itu bertugas sebagai  petugas keamanan untuk menjaga jalan dan memastikan papan peringatan bertuliskan “Ada Misa” ditaati. Ia menghentikan kendaraan bermotor yang lewat. Lantas dengan sopan meminta pengendaranya untuk menuntun kendaraannya sampai agak jauh dari gereja. Jalanan berbatu itu memang jalan umum yang membelah kawasan gereja, berada persis di samping bangunan gereja tempat ibadah berlangsung. Agar kesenyapan terjaga. Agar suasana duka itu menjadi peringatan sunyi jemaat yang sedang menyepikan diri.

Romo Andik dari Paroki St. Vicensius Kediri memimpin Ibadat Kisah Sengsara pada Jum’at Agung di Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang, Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupatane Kediri, Jawa Timur, 19/04/2019.
FOTO: JATIMPLUS.id/TITIK KARTITIANI

Hanya satu suara terdengar. Suara Romo Andik dari Paroki St. Vincentius Kediri yang menceritakan kembali peristiwa hari itu. Peristiwa penyaliban Yesus Kristus. Ratusan jemaat multi etnis yang mengikuti ibadah menyimak sembari menggenggam Al-Kitab. Beberapa orang ada yang duduk di luar gereja karena tak muat, dan tetap menyimak. Sampai pembagian komuni dan satu demi satu jemaat mencium kaki Yesus, semua dilakukan dalam keheningan.

baca juga: Mengingat Paskah dari Katedral Duomo

Ibadah  sore ini merupakan salah satu rangkaian peringatan Paskah. Dimulai Sakramen Tobat pada Kamis, 11 April 2019. Dilanjutkan Minggu Palma, berupa prosesi ibadah di Goa Maria Lourdes yang berada di komplek gereja. Kemudian Kamis Putih berupa ibadah harian pada pukul 06.00 WIB dan misa pada pukul 18.00 WIB. Sedangkan Jum’at Agung dimulai dengan Jalan Salib pada pukul 06.30 WIB. Sorenya berupa Ibadah Kisah Sengsara. Pada Sabtu dengan upacara Cahaya. Rangkaian Paskah akan berakhir pada hari Minggu Paskah, 21 April 2019. 

baca juga: Wisata Yang Bisa Kamu Kunjungi di Sekitar Gereja Puhsarang

Menjelang Ibadah Sengsara usai, kidung itu berkumandang. Kidung dalam bahasa Jawa berisi syair tentang pengorbanan Yesus yang dinyanyikan dengan nada minor. Gamelan yang biasanya terdengar mengiringi nyanyian di gereja itu, tergeletak dan dingin.

Menurut Catherina, salah satu jemaat mengatakan, Jumat Agung memang hari berkabung. Tak akan ada bunyi-bunyian di gereja. Lonceng dan gamelan di Puhsarang senyap. Sampai hari ini, Sabtu Suci. Ketika Yesus diletakkan di dalam gua. Maka, bunyi-bunyian kembali berkumandang. Di Puhsarang, bukan suara orgel atau organ, melainkan gamelan. Khotbah dan syairnya pun dalam bahasa Jawa halus.

“Memang di sini karena umatnya mayoritas orang Jawa. Maka menggunakan bahasa setempat. Agar umat semakin memahami tentang imannya. Ada inkulturisasi budaya di dalamnya,” kata Romo Andik setelah usai memimpin ibadah, (19/4/2019). Ibadah itu selesai pukul 17.30 WIB. Hujan pun pecah di langit.

Jemaat mengembalikan salib usai prosesi Jumat Agung, 19/04/2019
FOTO: JATIMPLUS.id/TITIK KARTITIANI

Sesungguhnya, Gereja Puhsarang bukan hanya milik umat Katolik. Namun juga milik Kediri dan milik Indonesia karena narasi sejarahnya. Gereja yang dibangun pada tahun 1936 ini merupakan lembar perpaduan budaya yang bisa dibaca dari arsitektur dan juga cara peribadatannya. Gereja ini dibangun dengan locus theologicus (konteks teologi) yang kuat. Umat yang beriman kepada kebenaran Wahyu yang disampaikan dengan nilai-nilai luhur dan bahasa setempat.  Sebagaimana locus kehidupan sehari-hari tempat gereja berada. Hal itulah yang menyebabkan gereja dan ajaran ini berkembang di Lereng Wilis dan sekitarnya. Juga berdampingan dengan ratusan pondok pesantren yang bermukim di Kabupaten dan Kota Kediri.

“Bagaimana pendampingan iman umat. Semakin bertumbuh dan berkembang, kekerabatan umat bertumbuh dalam iman, menjadikan Puhsarang menjadi gereja yang hadir dan terawat hingga saat ini,” tambah Romo Andik.

Keberadaan gereja ini memang tidak hanya untuk ziarah pemeluk Katolik, namun juga lintas agama. Bukan pemandangan asing ketika pengunjung berbusana muslim maupun atribut agama lain berpose di salah satu bangunan, bahkan kerap kali berlatar salib. Pada area terbuka, Puhsarang membuka diri untuk diziarahi siapa saja.

“Damai harus sungguh dinyatakan, kebangkitan Kristus pada Paskah memberi semangat untuk damai,” kata Romo Andik yang bertugas di gereja ini sejak Oktober 2018. Pesan damai ini ia serukan kepada umatnya menghadapi hiruk pikuk Pemilu 2019.

Selain itu, dalam khotbahnya, Romo Andik mengimbau para jemaat untuk senantiasa belajar dari Yesus. Jemaat diingatkan kembali akan panggilan sebagai murid Yesus.  Panggilan-Nya adalah panggilan untuk setia mengikuti-Nya. Panggilan untuk tidak terpengaruh zaman yang terkadang silau dengan kekuasaan, harta, kedudukan ,pangkat, dan jodoh. Hal-hal yang kadang membuat jemaat meninggalkan Kristus. Meskipun umat selalu mengatakan setia pada Kristus. Padahal Kristus sudah setia sebagaimana ditunjukkan peristiwa Paskah.

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.