READING

Ketakjuban Profesor Amerika Terhadap Musik dan Per...

Ketakjuban Profesor Amerika Terhadap Musik dan Perkembangan Islam Nusantara

Seni menjadi salah satu elemen penting dalam penyebaran Islam di tanah Nusantara. Di medio Wali Songo tercipta tembang yang dilanggamkan. Di tengah nuansa menghibur, tersimpan misi dakwah keagamaan.

MALANG-  Prof. Anne K. Rasmussen dari Amerika Serikat mengaku takjub dengan proses perkembangan Islam Nusantara. Dia melihat sesuatu yang beda dari yang lain. Meracik dakwah atau syiar agama dengan irama (musik) sebagai sarana, tidak dia temukan di negara lain. Termasuk di Negara Islam Timur Tengah sekalipun.

“Cara ini cukup penting untuk panggung dunia bagi Indonesia,” ujar Anne dalam kegiatan di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang (UM) Senin lalu (8/7). Oleh Prof. Anne seluruh ketakjuban itu dituangkan ke dalam sebuah buku berjudul Merayakan Islam dengan Irama. Sore itu sekaligus sebagai launching dan membedahnya.

Anne melihat begitu besar peran perempuan. Dalam tilawatil khususnya, perempuan Indonesia memiliki tempat yang istimewa. Dengan iringan musik, ayat suci didendangkan tanpa harus melupakan mujawwadnya. Lagi- lagi Anne melihat fenomena yang beda dengan Islam di negara lain.

Di Indonesia, peran perempuan menjadi sifat khas dan spesial. Terlebih jika mereka terlibat aktif sebagai pendidik (guru) maupun identitasnya sebagai istri Kiai (Bu Nyai). Peran perempuan begitu komplek. Bahkan muncul di segala lini.

Di bukunya Anne menyebut dari dewan  hakim tilawatil Quran, Qari’ yang keliling dunia, sampai bintang musik religi di Indonesia, banyak ditemukan perempuan.

“Dan ini sangat membanggakan bagi kaum perempuan di dunia,” ungkap dosen The College of William & Mary Amerika Serikat sejak 1993. Di bukunya Anne juga menyinggung ragam bentuk seni bernafaskan Islam. Hampir di setiap daerah berbeda. Kendati demikian semuanya tetap mengusung misi penyebaran agama.   

Pandangan itu sekaligus menegaskan seni dan agama di Indonesia tidak bisa dipisahkan. Kehadiran seni menjadikan atmosfer dakwah agama lebih tenang dan menyenangkan. Lebih inklusif dan  merangkul. Jauh dari suasana saling membenci, menyalahkan dan caci maki.

“Ini sangat kreatif dan inspiratif sekali, terlebih sebagai misi Islam untuk dakwah di dunia,” kata Anne yang juga ahli memainkan musik timur tengah ini.

Prof. Anne K Rasmussen FOTO: JATIMPLUS.ID/Moh. Fikri Zulfikar

Prof. Djoko Saryono sebagai pembedah mengapresiasi lahirnya buku Merayakan Islam dengan Irama. Dari judul yang dipakai menurut Djoko sudah menunjukkan Islam sebagai agama yang menyenangkan. Maknanya dalam. Beragama dengan riang gembira, penuh suka cita. “Seperti disadarkan bahwa agama bukanlah seperti sorot mata yang nyalang bahkan bukan saling menyalahkan apalagi membenci,” ujar guru besar Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) ini.

Di buku Prof.  Anne Islam digambarkan sangat luas. Tidak bersekat sekat. Beragama tidak hanya mengurusi doktrin. Tapi juga melakukan aktualisasi budaya. Menyampaikan Islam tanpa harus berteriak-teriak di jalan atau media sosial. Bagi Djoko hal itu sangat membahagiakan.   

“Buku ini seperti membendung budaya keislaman yang sangat kaku, terlebih dengan musik melenturkan kekakuan itu,” ungkap profesor yang belum lama meluncurkan buku terbarunya berjudul Literasi: Episentrun Kemajuan Kebudayaan dan Peradaban.

Dengan musik, keragaman umat Islam di Indonesia yang intinya sama dan tidak ada persoalan, telah dipersatukan. Dalam buku Prof. Anne juga menjelaskan keberadaan seni musik klasik hingga musik modern  masuk ke bilik pondok pesantren.  “Semuanya ada, mulai dari hadrah hingga musiknya Rhoma Irama dan Haddad Alwi juga ada di sini,” tegasnya.

Budayawan KH Agus Sunyoto menyebut ada benang merah musik dengan sejarah datangnya Islam di Nusantara. Sejak tahun 674 Masehi atau pada masa Khalifah Umaiyah, saudagar Timur Tengah sudah datang ke Nusantara. Selain berdagang juga melakukan dakwah.

Namun ratusan tahun setelah itu tidak ditemukan data Islam dianut masyarakat Nusantara. “Sampai tahun 1450-an ketika Sunan Ampel datang dengan santri-santrinya ini lah Islam tercatat baru dianut di Nusantara,” ujar Kiai yang juga Ketua Lesbumi PBNU.

Hanya dalam waktu 40 tahun, Sunan Ampel berhasil mengislamkan Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi. Semua itu tidak terlepas dari cara dakwah yang menggunakan pendekatan kebudayaan, khususnya seni irama. Kehadiran seni yang dibawa Wali Songo sekaligus memperkaya kebudayaan Nusantara.

Jika sebelumnya di jaman Majapahit hanya dikenal Kakawin dan Kidung dalam seni sastra, setelah masuknya Wali Songo muncul Tembang. Secara struktur Tembang ini terbagi atas tembang gede, tengahan dan alit yang biasa dikenal seperti pucung, mijil, sinom, asmaradana, hingga megatruh.

Semuanya bukan hanya karya seni biasa. Namun membawa misi dakwah islam. “Dengan cara ini lebih menyentuh masyarakat. Tak hanya melalui tembang bahkan acara ritual dzikir pun juga lewat irama,” tegas Agus Sunyoto.

Repoter: Moh Fikri Zulfikar
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.