READING

Ketika Air dan Ikan dari Kali Surabaya Mengandung ...

Ketika Air dan Ikan dari Kali Surabaya Mengandung Mikroplastik, Haruskah Kita Panik?

Plastik. Bahan yang nyaris tak bisa lepas dari kehidupan abad ke-21 ini, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Kita sudah tahu, plastik butuh minimal 40 tahun untuk hancur. Temuan terakhir, serpihan plastik itu justru menyatu dalam bahan makanan yang kita konsumsi.

SURABAYA-Siang di sebuah kedai di pinggiran Kali Surabaya. Sepiring ikan nila goreng terhidang di salah satu warung tenda lengkap dengan sambal dan lalapnya. Lantas, segelas air putih menjaga agar tenggorokan tak seret. Nikmat. Ikan tangkapan dari Kali Surabaya, pun yang diternak di kolam yang airnya dari sungai tersebut. Pun minumannya, direbus dari air yang dialirkan oleh PDAM Surabaya.

Nikmat itu bisa terusik ketika membaca laporan bahwa air Kali Surabaya yang menjadi bahan baku PDAM Surabaya sudah tercemar mikroplastik. Pun ikannya, 73% ikan dari kali tersebut mengandung mikroplastik. Bayangkan, jika lensa mata kita seperti lensa mikroskop yang bisa melihat benda dalam ukuran mikro, maka ikan nila tersebut berubah menjadi onggokan plastik. Masihkah terbit liur kita?

Hasil riset tersebut dipaparkan Andreas Agus Kristanto M, S.Si., M.Si, bagian Research and Education ECOTON (Ecological Observation and Wetlands Conservation) tanggal 28 Maret 2019 dalam sebuah diskusi di Surabaya. Selain ECOTON, hadir sebagai narasumber Riska Darmawanti (Indo Water), Lusya Sevyana (UNAIR), dan Habil Maqdum (UNAIR). Sedangkan peserta diskusi antara lain dari  Dinas Lingkungan Hidup Surabaya, PDAM Surabaya, Perum Jasa Tirta, sejumlah LSM, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Surabaya.

ECOTON. Andreas Agus Kristanto M, S.Si., M.Si, bagian Research and Education ECOTON memaparkan penelitiannya tentang kandungan mikroplastik di Kali Surabaya (28/03/2019). Foto: Titik Kartitiani

 “Sejumlah 103 sampel ikan yang diambil dari Kali Surabaya, 73% mengandung mikroplastik dalam perutnya,” kata Andreas. Lebih rinci Andreas memaparkan, bahwa jumlah ikan yang mengandung mikroplastik tertinggi pada kelompok ikan herbivora (67%-87%), disusul kelompok ikan omnivora (67%-8%), dan kandungan terendah pada kelompok karnivora (33%-38%). Sedangkan jenis yang diteliti untuk kelompok herbivora terdiri dari ikan bader atau tawes (Barbonymus gonionotus), monto (Osteochillus haseltii), muraganting (Barbonymus altus), dan lokas (Labiobarbus leptocheilus). Kelompok ikan omnivora terdiri dari jendil (Clupisoma sinensis) dan nila (Oreochromis niloticus). Kelompok ikan karnivora yaitu rengkik (Hemibagrus nemurus) dan keting (Mystus gulio).

Selain mikroplastik, dalam perut ikan yang dibedah dalam penelitian tersebut berisi material plastik berupa tali rafia dan bungkus makanan. Plastik-plastik tersebut termakan oleh ikan dan tidak tercerna sehingga tetap utuh di dalam perut ikan. Dalam jumlah tertentu, menyebabkan kematian pada ikan.

Pada kesempatan yang sama, Lusya Sevyana dan Habil Maqdum, mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga menyampaikan jenis-jenis mikroplastik yang terkandung di Kali Surabaya (segmen Kecamatan Wonokromo-Driyorejo) hasil penelitiannya. Bekerjasama dengan Indo Water, peneliti mengambil 10 liter air sebanyak 10 kali kemudian melakukan pengamatan menggunakan mikroskop stereo Olympus SZ2-ILST dan Dino-Eye (Microscope Eye-Piece Camera). Hasilnya, mikroplastik dalam bentuk fragmen sebanyak 53 partikel/liter, filamen 8 partikel/liter, film 6 partikel/liter, foam 5 partikel/liter, granul 4 partikel/liter, dan pelet 1 partikel/liter.

Kondisi air yang demikian ini digunakan untuk bahan baku PDAM Surabaya. Menurut Prigi Arisandi, Direktur Eksekutif ECOTON yang dikutip oleh Mongabay.co.id (15 Juni 2012), sejumlah 96% bahan baku PDAM Surabaya berasal dari Kali Surabaya. Apalagi lokasi pengambilan air baku berasal dari hilir, bukan hulu sungai. Sehingga dimungkinkan, kandungan polutannya sudah lebih banyak dibandingkan dari hulu.

“Dulu kami memang mengambil air dari hulu di Pandaan. Hanya seiring meningkatnya jumlah penduduk, hal tersebut tak dimungkinkan lagi,” kata Laila Annisatin, Humas PDAM Surabaya. Pengambilan air dari hulu sungai yang jauh dari tempat pengolahan akan meningkatkan biaya pengolahan sehingga meningkatkan harga ke konsumen juga.

Palupi Wikandari, staf PDAM Surabaya menambahkan, apapun air bakunya, apabila diolah dengan teknologi yang memadai akan menghasilkan air minum yang kualitas. Misalnya, untuk mengolah air yang mengandung mikroplastik dimungkinkan dengan teknologi RO (riverse osmosis) sehingga mikroplastik akan tersaring. Hanya, teknologi ini berbiaya tinggi sehingga akan meningkatkan beban ke konsumen.

“Dengan teknologi yang ada sekarang, kami sudah memenuhi baku mutu air minum sesuai Peraturan Kemenkes no 492 tahun 2010. Hanya peraturan tersebut memang belum memasukkan variabel mikroplastik,” tambah Laila.

Bagaimana Mikroplastik Terhidang di Meja Makan?

Ada lontaran menarik dari salah satu peserta diskusi. Menurutnya, plastik dan mikroplastik tersebut terdapat di perut ikan sementara kita tak mengonsumsi perut ikan. Perut ikan beserta kotorannya dibuang. Jadi, bahayanya di mana?

Andreas menjelaskan, bila yang terkandung dalam perut ikan adalah plastik (dalam ukuran besar seperti bungkus makanan dan tali rafia), maka akan mudah dibuang. Material tersebut hanya membahayakan ikan, sebab ikan bisa mati ketika perutnya penuh plastik.

Namun, sampah plastik yang masuk ke dalam aliran sungai tidak terurai sebagaimana limbah organik. Sebagai gambaran sederhana, daun yang membusuk akan terurai menjadi komponen organik penyusunnya yaitu karbon (C), hidrogen (H), nitrogen (N), dan lain-lain yang tak membahayakan lingkungan.

Sementara plastik, berasal dari polimer sintetik membutuhkan minimal 40 tahun untuk hancur. Hancur belum tentu terurai. Polimer sintetik merupakan senyawa buatan manusia. Beda jika polimernya polimer alam semisal karet alam, pati, dan selulosa yang mudah terurai. Polimer sintetik tidak demikian. Kalaupun “lenyap” dari pandangan kita, bukan berarti terurai melainkan “remuk” menjadi serpihan yang sangat kecil dan tak terlihat.  Jadi, senyawanya tetap utuh, hanya bentuknya saja yang sangat kecil. Ukurannya kurang dari 5mm, kira-kira seukuran biji wijen, yang kita kenal sebagai mikroplastik.

Dengan ukuran yang kecil, mikroplastik ini mudah sekali “nyelip” dan membaur dengan senyawa-senyawa lain. Misalnya pada air kemasan dan garam yang kita konsumsi. Kandungan mikroplastik dalam air kemasan dipublikasikan tempo.co pada tanggal 15 Maret 2018. Peneliti State University of New York at Fredonia menguji 259 botol air minum dari 11 merek yang dijual di 8 negara termasuk Indonesia. Hasilnya, 93 persen air botolan mengandung mikroplastik.

Pada tanggal 3 Desember 2018, National Geographic Indonesia merilis dalam lamannya bahwa peneliti dari Universitas Hasanuddin Makassar dan Pusat Oceanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia melaporkan bahwa 10-20 partikel/kg garam yang berasal dari Pati, Kudus, Demak, dan Rembang.

“Yang berbahaya jika mikroplastik ini sudah berikatan dengan senyawa lain. Sifat mikroplasik ini sebagai transporter,” tambah Andreas. Ukurannya yang kurang dari 5mm pun akan mudah berikatan dengan darah ikan maupun darah manusia. Sehingga mikroplastik yang tadinya “hanya” berada di perut ikan, maka bisa terdistribusi ke dalam otot sehingga tubuh ikan yang kita konsumsi pun mengandung mikroplastik.

Selanjutnya, ketika manusia mengonsumsi ikan, air mineral, dan garam yang mengandung mikroplastik tak hanya akan terkonsentrasi di perut (lambung) melainkan akan menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah.

“Kami mengamati pada ikan rengkik menyebabkan kematangan sel spermanya melambat,” tambah Andreas. Ketika kematangan sel sperma tidak bersamaan dengan sel betina maka pembuahan terhambat sehingga populasi ikan menurun. Ikan rengkik merupakan ikan yang mulai langka keberadaannya di DAS Brantas.

Selain itu, mengubah 20% ikan bader yang diteliti menjadi interseks (berkelamin ganda). Pada hewan tertentu seperti cacing memang interseks (hermaprodit), namun tidak pada ikan bader. Ada indikasi, 80% menjadi betina, padahal seharusnya popuasi jantan dan betina imbang. Perubahan jenis kelamin ini akan mengganggu pertumbuhan populasi. Perubahan ini juga akan mengancam keseimbangan populasi.

Sedangkan efek pada manusia, sejauh ini masih berupa penelitian laboratorium. Mengutip tulisan Ruairi Robertson PhD. ahli nutrisi dan mikrobiologi dari University of London di laman healthline.com, meski sudah banyak penelitian yang menunjukkan kandungan mikroplastik dalam makanan, namun dampaknya bagi kesehatan belum begitu jelas.

Robertson menulis bahwa dampak senyawa bahan pembuat plastik yang diteliti masih dalam tahapan laboratorium. Misalnya dampak phtalates, sejenis bahan kimia yang digunakan untuk membuat plastik fleksibel telah terbukti meningkatkan pertumbuhan sel kanker payudara. Namun penelitian ini masih dalam cawan petri, jadi hasilnya belum bisa digeneralisir ke manusia.

Pun serat plastik (fiber) yang menyebar di udara terhirup oleh paru-paru  yang bisa mengakibatkan sel paru-paru memproduksi bahan kimia inflamasi. Namun akibat ini masih sebatas penelitian dalam tabung reaksi.

Penelitian lain, ketika mikroplastik diumpankan ke tikus, maka mikroplastik akan terakumulasi di hati, ginjal, dan usus. Juga meningkatkan level molekul yang mungkin beracun bagi otak. Mikropartikel termasuk mikroplastik telah terbukti melewati usus ke dalam darah dan berpotensi masuk ke organ lain.

Sedangkan bahan plastik yang sudah dipelajari efeknya bagi manusia yaitu bisphenol (BPA). Bahan ini biasanya ditemukan dalam kemasan plastik atau wadah penyimpanan makan dan dapat bocor ke dalam makanan. Senyawa ini dapat mengganggu hormon reproduksi, terutama pada perempuan.

Beban Sampahdi Kali Surabaya dan Empati Kita pada Kehidupan

Kali Surabaya membelah Kota Surabaya termasuk kawasan DAS Brantas, berhulu di Sungai Brantas dan bermuara di Selat Madura. Prigi Arisandi, Direktur Eksekutif ECOTON, mengatakan bahwa Kali Surabaya berstatus tercemar berat sejak tahun 1999-2007 (Mongabay.co.id,15 Juni 2012). Khusus untuk sampah plastik, DAS Brantas menampung 38.900 ton plastik/tahun.

Sejumlah 80% industri yang membuang limbah ke sungai tidak memiliki IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang memadai. Khusus untuk mikroplastik, Andreas meneliti 12 industri kertas di sepanjang DAS Brantas.

“Karena kini, industri kertas tak lagi menggunakan bahan pulp (bubur kertas) tapi menggunakan waste paper yang tercampur plastik,” terang Andreas. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa 100% limbah industri kertas mengandung mikroplastik. Jenis mikroplastik paling banyak berupa filamen sebanyak 12-3896 partikel/liter dan fragmen sebanyak 42-2048 partikel per liter.

Belum lagi limbah domestik yang turut menambah beban sungai ini. Salah satu jenis sampah yang menjadi konsen ECOTON yaitu popok sekali pakai yang dibuang di Kali Surabaya sebanyak 1 juta popok/tahun. Popok sekali pakai ini merupakan salah satu penyumbang mikroplastik dalam aliran sungai. Lantas bagaimana?

SAMPAH PENDAKI. Tempat Penampungan Sementara (TPS) Ranupani menampung minimal 500 botol plastik/hari dari sampah pendaki. Botol plastik sekali pakai merupakan salah satu penyumbang mikroplastik di sungai. Foto: Titik Kartitani

“Tak ada cara lain, kita harus diet plastik,” tegas Andreas. Diet plastik ini dengan gerakan Banned The Big Five yaitu sedotan, plastik sekali pakai, popok sekali pakai, botol air kemasan, dan styrofoam.

Andreas menegaskan bahwa slogan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) tidak boleh dibalik-balik. Kini banyak yang mengampanyekan penggunaan kembali dan pendaurulangan limbah khususnya limbah plastik. Misalnya mengubah limbah plastik menjadi produk lain dari mulai peralatan rumah tangga hingga busana. Tanpa bermaksud mengecilkan upaya tersebut, menurut Andreas, reduce (pengurangan) tetap menjadi tindakan paling awal dilakukan sebelum reuse dan recycle.

“Kami tidak anti terhadap industri. Makanya penekanannya tetap pada kepedulian masyarakat juga melakukan pendekatan ke industri untuk mengganti bahan bakunya menjadi bahan baku yang lebih ramah lingkungan,” ujar Andreas.  Pernyataan ini menanggapi pertanyaan wartawan, mengapa industri penghasil limbah plastik dalam kategori the big five tidak dilarang/ditutup.

Memang, kemajuan peradaban dan industrialisasi semakin memberi kenyamanan pada manusia. Hanya saja ada harga yang harus dibayar. Harga yang mahal yang kita beli dari lingkungan. Transaksi yang terkadang tak bisa dirupiahkan sebab ketika semua semua pohon telah tertebang, semua hewan sudah terbunuh, semua air tercemar, dan semua udara sudah tak lagi bisa dihirup, kita hanya bisa menyadari, kita tak bisa makan uang.

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.