READING

(Tengger dan Perubahan Iklim): Ketika Kemarau Lebi...

(Tengger dan Perubahan Iklim): Ketika Kemarau Lebih Panjang

Sebuah komunitas masyarakat bukanlah sebuah buku tua tanpa dinamika. Mereka bukan alamat masa silam yang diam. Dinamika dan perkembangan merespon zaman, berdenyut di ketinggian bukit-bukit curam itu bahkan ada kecenderungan semakin berjarak dengan alam yang menghidupi.

Di lereng bukit yang nyaris tegak, warna gradasi hijau muda, menua, lantas coklat tak berdaun menyelimuti perbukitan di bawah Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Gradasi hijau disusun oleh tanah yang masih mendapatkan air dari pipa-pipa putih berdiameter 2 inch, lintang pukang menyeberang dari satu bukit ke bukit lain, ratusan meter jauhnya hingga menyerupai tali saking panjangnya. Sedangkan hamparan warna coklat adalah tanah yang menyerah pada kemarau tahun ini yang lebih panjang dari tahun sebelumnya.

Wonokitri merupakan salah satu desa di antara puluhan desa di 4 kabupaten (Pasuruan, Lumajang, Malang, dan Probolinggo) di Jawa Timur tempat suku Tengger tinggal. Ekonomi bergerak dari kesenyapan alam, mereka adalah petani. Turun temurun, tanah adalah sumber hidup.

Semakin ke atas, semakin tajam bukit-bukit itu memiringkan dirinya hingga makin curam tanaman sayuran itu tumbuh. Sebagai orang yang pernah aktif di Mapala dan pernah belajar tentang pertanian, ada rasa tak terima ketika bukit dengan kemiringan yang demikian tajam tetap diolah. Di atas kertas dan buku-buku diktat yang saya pelajari, pengolahan tanah khususnya untuk sayuran tak boleh dilakukan di kemiringan melebihi sudut 45 derajad. Longsor dan hilangnya top soil sehingga degradasi lahan akan berjalan lebih cepat daripada alam mengubahnya.

Hanya saja, ada yang bergerak senyap di sini. Gerak senyap perubahan yang diam-diam mengubah tanah menjadi hasrat, air menjadi kucuran angka, dan proses produksi bukan lagi sebagai bentuk laku spiritual untuk menyatu dengan alam. Apakah ketika di luar sana berubah, maka suku Tengger diharapkan jadi artefak yang diam? Dari sanalah denyut perubahan mulai mengubah wajah perbukitan ini. Tarik ulur antara perubahan gaya hidup diiringi kebutuhan yang meningkat sementara alam Tengger sudah memiliki mekanisme dan batas sendiri untuk berproduksi.

Setia (22 tahun) sedang mengumpulkan umbi kentang sisa kemarau di lahannya. FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Kemarau Lebih Panjang dan Perbedaan Suhu Ekstrem

Setia, perempuan berusia 22 tahun sedang mengumpulkan umbi kentang yang disisakan kemarau bulan September 2019. Ia mengais tanah yang sudah terlihat lama tak disinggahi air. Tanah seluas 400-an meter persegi itu nyaris tegak, menjulang di pinggir jalan aspal berkelok yang menghubungkan Wonokitri dengan dunia luar. Sepatu boots plastik itu berkali-kali menahan tubuh langsing untuk tak melorot, sambil memanggul bakul berisi kentang seukuran bola ping pong. Menurut Setia, kentang yang tak besar ini karena tak mendapat cukup air ketika pembentukannya. Bila dilihat, kentang yang sudah dipilih hanya separuh dari total yang bisa diselamatkan dari kerusakan. Pada musim kemarau, serangan ulat (penggerek umbi) merusak kentang-kentang tersebut.

Kentang kecil-kecil itu yang akan dikumpulkan ke pengepul. Salah satu pengepul yang saya temui di kawasan Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan adalah Sugiono dan Sukiyat. Pada musim kemarau kali ini, ia hanya menyetor 5 ton/hari. Sementara pada musim hujan, kentang yang bisa diangkut sekitar 10 truk/hari atau sampai 70 ton dan ukurannya besar. Kentang tersebut disetor ke Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Di tempat pengepul kentang kawasan Tosari yang akan dikirim ke Sukapura, Pasuruan. FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Tak jauh dari lahan milik Setia, saya bertemu dengan Sungkono (42th), salah satu petani kentang di Dusun Wonokitri, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan yang bertanam kentang sejak muda. Ia menggarap lahan seluas 1,5 hektar yang tersebar di 5 tempat. Kentang merupakan produk utama yang paling bisa diharapkan hasilnya meski ia juga menanam sayuran lain.

Kentang merupakan tanaman yang manja. Air harus ada tepat waktu. Bila terlambat, pertumbuhan terganggu. Bila terlalu banyak, penyakit datang.

Ndak mesti datangnya kemarau.  Kalau kemarau tahun kemarin agak panjang. Dulunya bulan-bulan 10 sudah turun hujan, sampai bulan 12 baru turun hujan. Molor 2 bulan,” kata Sungkono, putra Tengger.

Air hujan menentukan sebagian besar kisah pertanian di perbukitan ini. Menurut Sungkono, pengairan irigasi ke ladang bisa mengandalkan dari air buangan rumah tangga. Ladang-ladang yang dekat dengan perumahan biasanya bisa bertahan pada saat musim kemarau. Selain itu, ada ladang yang mengandalkan sumber mata air yang dibuat sendiri di dalam ladang.

“Ini bisa dilakukan kalau ladang kita ada sumber mata air. Bisa untuk mengairi ladang yang ada di atas sumber dengan pipa,” terang Sungkono yang juga ketua Kelompok Tani Subur 1. Sumber air ini pun kerap kali kering ketika kemarau terlalu panjang.

Sungkono mengatakan, bila kemarau telat pergi bahkan bertahan 2 bulan lebih lama, maka satu musim tanam kentang gagal dijalankan. Biasanya ia bisa menanam kentang 4 kali dalam setahun, namun sekarang hanya 3 kali atau malah hanya 2 kali.

Mengenai perubahan cuaca 5 tahun terakhir, saya mengkonfirmasi ke BMKG Malang melalui aplikasi perpesanan. “Di luar kasus El-Nino dan La-Nina, musim di Jawa Timur tren musim kemarau lebih panjang ditengarai awal musim hujan lebih mundur dan akhir musim hujan lebih cepat,” tulis Anung Supriyatno, Kepala Seksi Observasi dan Informasi Sta. Klim. Kelas II Malang. Dari data yang dikumpulkan Anung, secara total tahunan, curah hujan tidak signifikan berubah namun frekuensi intensitas hujan lebat lebih sering terjadi dengan durasi yg lebih pendek.

Anung juga mencatat tentang tren kenaikan suhu per tahun masih relatif kecil, kisaran 0.03°C. Sementara itu, Kariadi, petani di Dusun Wonomerto, Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan lebih detail mengamati perubahan cuaca yang terjadi di tempat tinggalnya. Ia merasakan, beberapa tahun belakangan terjadi perbedaan suhu drastis antara siang dan malam. Hal ini menyebabkan kemunculan hama penyakit lebih luas di tanaman kentang.

Kariadi, salah satu petani Tengger di lahan kentang yang masih mendapatkan air meski kemarau, awal September 2019. FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

“Pendidikan saya tidak tinggi. Saya hanya lulusan SMP, tapi saya suka membaca. Saya juga pernah dikirim workshop lingkungan di Australia,” kata Kariadi. Putra Tengger ini merupakan salah satu intelektual yang dimiliki Wonomerto. Ia menginisiasi berdirinya Kelompok Pecinta Lingkungan Bala Daun yang aktif mengkampanyekan cara bertani yang ramah lingkungan.

Kariadi mengamati, pada musim kemarau masalah pertanian kentang terkendala soal air. Sedangkan musim hujan terkendala dengan hama dan penyakit.

“Penyakit berkembang ketika kelembaban tinggi. Siang sangat panas dan malam sangat dingin. Frost muncul, memicu jamur berkembang biak,” kata Kariadi.

Cendawan yang dimaksud adalah cendawaan busuk daun (Phytophthora infestan) yang sangat ditakuti petani. Menurut Kariadi, bila penyakit ini menyerang maka bisa satu musim tanam gagal. Bila panen kentang per hektar antara 15 ton hingga 51 ton dengan harga Rp 5.000,-/kg, maka petani bisa kehilangan Rp 60juta hingga Rp 255 juta dalam semusim. Oleh sebab itu, petani melakukan antisipasi dengan penyemprotan fungisida. Pada musim hujan, bisa sampai 4-5 kali/minggu.

“Ketika Phytopthora menyerang di lahan terbuka susah tersembuhkan sehingga pestisida meningkat dosisnya. Munculah beragam merek yang makin mahal harganya,” terang Kariadi.

Tak hanya itu, muncul hama yang tadinya belum ada yaitu kutu kebul atau whitefly (Bemisia tabaci). Hama ini tak hanya merusak tanaman namun juga menjadi vektor penyakit lain yang tak kalah merusak.

Pengamatan langsung ini yang menjadikan Kariadi dan kelompoknya mencari solusi yang bisa menjawab permasalahan pertanian tanpa menimbulkan kerusakan yang lebih parah. Bagaimanapun, lingkungan yang berubah menjadi lebih buruk merupakan tantangan tersendiri untuk menghidupkan umbi-umbi kentang yang gemuk dan menopang kebutuhan hidup suku Tengger. Mereka mengembalikan lingkungan dengan menanami pohon.

Reporter: Titik Kartitiani
Editor: Prasto Wardoyo

Laporan bertema Tengger dan Perubahan Iklim ini mendapatkan Grant dari SIEJ (Society of Indonesian Environment Journalists) dan UN (United Nation) Indonesia.
Laporan selanjutnya:
Upaya di Kemelut Cuaca yang Tak Lagi Sama
Di Tungku Panjang itu, Sesaji Dihidangkan

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.