Ketika Ludruk Masih Bisa Membuat Tawa

Tali dawa arane tampar

Sisetana aja nganti udhar

Senajanna ana bledhek ngampar

Persatuan kita aja nganti buyar

MALAM itu nyaris tidak ada yang tidak tertawa. Jula juli kidungan yang disuguhkan pemain Ludruk Sinar Putra asal Sumenep Madura itu sukses tampil jenaka. Kelucuan itu disumbang kemahiran pemain dalam mengolah kata. Juga digarami gerak tubuh spontan dan mimik muka.

“Perkelahian” kata kata atau dialektika dengan gaya berpantun (parikan) sebagaimana ciri khas seni tradisional ludruk, terbukti masih memiliki penggemar setia. Malam itu, penonton seisi halaman Gedung Pertemuan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) seperti terkocok perutnya.

Baik yang duduk di atas kursi maupun lesehan, semuanya terhibur. Tertawa terpingkal pingkal. Teguncang guncang. Tidak hanya warga kampus yang tengah merayakan Dies Natalis ke 17. Tapi juga warga sekitar yang ikut menonton. Sayang, kemeriahan pertunjukkan ludruk yang mengambil lakon Pangeran Trunojoyo itu harus diakhiri.

“Karena ini di kampus,pertunjukkan diakhiri pada pukul 01.00 wib. Biasanya baru selesai pukul 03.00 Wib dini hari, “tutur Ketua Umum UKM Seni Nanggala Jaelani.

Pertunjukkan di kampus UTM pada akhir tahun 2018 itu, merupakan pertama kalinya. Dalam rangka perayaan Dies Natalis UTM ke 17, ludruk menjadi salah satu ikon kesenian yang disengaja dipilih kampus. Sebagai seni tradisional yang nyaris bangkrut, yakni bernasib sama dengan ketoprak tobong, ludruk sudah semestinya di uri uri, dilestarikan.

“Dan ini juga sebagai bentuk pelestarian. Pertama kalinya UTM mengadakan pertunjukkan ludruk, “katanya. Untuk persiapan pagelaran seni tradisi itu, panitia menghabiskan waktu 5 bulan. Untuk pertunjukkan yang meriah itu Ludruk Sinar Putra memboyong 70 awak panggung (kru), yakni terdiri dari aktor, penabuh musik, penata panggung, lighting dan lainnya.

Moh Arnas, pimpinan Ludruk Sinar Putra mengaku baru pertama kalinya pentas di kampus. Baru kali ini ludruk yang berdiri sejak 1961 itu, ditonton ratusan mahasiswa dan petinggi kampus. “Suatu kebanggan tersendiri bisa menghibur mahasiswa, “katanya.

Sebagaimana yang lain, ludruk Sinar Putra juga kerap membawakan plot cerita perjuangan. Selain itu juga mengangkat cerita yang bertema kehidupan rakyat kecil sehari hari.  

Kemana Perginya Ludruk Kita?

Mengacu dokumen “Statistiek Van Crisse van 1822”, D Djajakusuma dalam sarasehan Ludruk di Surabaya pada 1987 menyebut kata Ludruk sudah dikenal di lingkungan masyarakat Jawa Timur pada awal abad 19.   

Crisse atau Grisse adalah Gresik pada sekarang ini. Suripan Sadi Hutomo dalam artikel “Anelusur Asal lan Tegese Tembung Ludrug” Penyebar Semangat No 18, 29 April 1989, mengatakan istiah ludruk juga dikenal di masyarakat Jawa Tengah.

Naskah Rara Mendhut-Pranacitra yang konon ditulis Raden Ngabehi Ronggosutrasno pada tahun 1820, yakni era Paku Buwono V sebagai petunjuk tertulisnya. Bahkan pada abad ke-17, ludruk dalam arti kata badhut atau bebadhutan atau penari, sudah menjadi kesenian rakyat.

Dalam penelitiannya dikatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan ludruk bergerak dinamis di wilayah yang memiliki tradisi teater yang subur. Sebut saja Jombang, Surabaya, Malang dan Kediri.

James L Peacok dalam riset yang diberi judul Rites of Modernization: Symbolic and Social Aspects of Proletarian Drama, menuliskan, jumlah perkumpulan ludruk di Jawa Timur pada tahun 1963-1964 sebanyak 594 grup. Dalam dua puluh tahun kemudian, jumlah itu berubah fluktuatif.

Misalnya pada tahun 1984-1985, ada sebanyak 789 grup ludruk, tahun 1985-1986 sebanyak 771 grup, 1986-1987 sebanyak 621 grup dan 1987-1988 sebanyak 525 grup dengan sebanyak 15.327 seniman dan 8.103 pementasan.

Data Kanwil Depdikbud Provinsi Jawa Timur (1987-1988) juga menyebut, sebaran grup ludruk yang tergolong besar ada di Kota Surabaya, yakni 58 grup. Kemudian Jombang 43 grup, Kabupaten Mojokerto 23 grup, Kotamadya Mojokerto 3 grup, Kabupaten Malang 110 grup, Kotamadya Malang 11 grup, dan Kabupaten Blitar 80 grup.    

Ludruk yang memiliki nama lain lerok dibagi menjadi tiga periode. Periode lerok ngamen, lerok besut dan periode lahirnya ludruk sebagai teater berlakon. Dan pada  akhirnya musyawarah ludruk se Jawa Timur di Surabaya pada 21-22 Juni 1968 merumuskan, masa awal ludruk di Jawa Timur dirintis oleh Pak Santik (1907-1915).

Santik seorang petani kecil asal Desa Ceweng, Kecamatan Goda, Kabupaten Jombang yang dikenal berwatak humoris. “Keyong nyemplung neng blumbang. Tinimbang nyolong aluwung mbarang (keong masuk ke kolam, daripada mencuri lebih baik mbarang atau ngamen)”. Begitu parikan/pantun Pak Santik saat memutuskan berkeliling menjadi seniman lerok/ludruk ngamen.

Pada periode paska 1925-1930, dinamika ludruk di Jombang ditandai dengan berdirinya perkumpulan ludruk Rukun Agawe Santosa (RAS). Sampai tahun 1940, grup grup ludruk tumbuh subur. Mereka lazimnya memberi nama grup masing masing berdasarkan nama daerah asal, nama pimpinan atau nama organisasi yang disepakati bersama.

Yang terkenal di Jombang saat itu grup ludruk Brata, ludruk Dradjit, ludruk Budi Utomo, dan lain sebagainya. Pada periode 1940-1943, pemerintah kolonial Jepang kerap menggunakan ludruk sebagai alat propaganda di nusantara. Cak Durasim, pendiri perkumpulan ludruk Organisatie (LO) yang sekaligus pimpinan grup, berani melawan.  

Saat pentas di Desa Mojorejo Kabupaten Jombang Cak Durasim dan kawan kawannya ditangkap. Kidungan “Pagupon omahe dara, melok nippon tambah sengsoro” yang dilontarkan Cak Durasim dalam sesi guyonan jula juli membuat Jepang marah.

Setelah proklamasi kemerdekaan 1945, seni ludruk tumbuh pesat, khususnya di Surabaya. Bahkan ludruk Marhaen yang didirikan pelawak Rukun Astari Wibowo dan Samsudin (1949) kerap diundang Bung Karno untuk pentas di Istana Negara. Senjakala kesenian ludruk terjadi paska tragedi 30 September 1965.

Banyak seniman yang berafiliasi dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) ditangkapi. Bahkan tidak sedikit yang tidak kembali. Karena situasi genting, seniman seniman yang tidak terlibat juga tidak berani menggelar pentas. Saat itu kesenian ludruk dapat dikatakan mati suri.   

Institusi militer melalui TNI AD Dam VIII Brawijaya berusaha menghidupkan kembali kesenian ludruk di Jawa Timur. Walhasil, perkumpulan ludruk Putra Bhakti, yakni eks ludruk Malang Selatan dilebur dengan ludruk anoraga. Pada 1971 setidaknya ada 5 grup hasil peleburan binaan Inmindam VIII Brawijaya. Salah satunya adalah eks ludruk Kartika Kediri yang berubah menjadi ludruk Wijaya Kusuma Unit V.

Di era orde baru, yakni paska periode 1975 ludruk telah mengubah organisasinya menjadi profesional dan independen. Diantaranya ludruk Mandala (Surabaya), ludruk Wijaya Kusuma (Malang), ludruk Baru Budi (Jombang), dan ludruk RRI (Surabaya). Semakin menyusutnya peminat, ditambah penetrasi budaya pop, mendesak seni tradisional ludruk berada diambang kebangkrutan. Bahkan tidak sedikit yang gulung tikar atau mati suri.

Meski masih ada satu dua grup yang berpentas, mereka tidak lebih hanya bertahan. Sekedar menjaga spirit berkesenian. Mereka hanya menunggu waktu gilasan roda zaman. Karenanya ketika Universitas Trunojoyo Madura (UTM) memilih mengundang ludruk Sinar Putra untuk merayakan Dies Natalisnya, kelas menengah atau kelompok akademis Madura dapat dikatakan memiliki kesadaran lebih awal.

Pilihan yang diambil secara tidak langsung bentuk penyelamatan seni tradisi yang mati suri. Tentu akan lebih menarik jika gerakan renaissance seni tradisi dilakukan seluruh kampus, yakni khususnya di Jawa Timur. Sehingga tidak seperti yang terjadi selama ini,  kampus hanya memberi panggung ekspresi untuk seni kontemporer.

“Apalagi mahasiswa di UTM tidak hanya dari Madura. Tapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, “kata Moh Arnas pimpinan grup ludruk Sinar Putra. (*)  


Editor : editor posting Reporter : Reporter posting Visual editor : Visual posting

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.