READING

Ketika Pak Habibie Terbang Tanpa Pesawat Terbang, ...

Ketika Pak Habibie Terbang Tanpa Pesawat Terbang, Menuju Keabadian

11 September 2019, selepas pukul 6 malam, media sosial dan media daring ramai membicarakan tentang berpulangnya Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang akrab disapa Pak Habibie. Tapi saya masih tak percaya. Siapa tahu itu hoaks seperti sebelumnya. Televisi saya nyalakan dan kabar itu ternyata benar. Di layar salah satu stasiun televisi, tayang breaking news mengabarkan berpulangnya Pak habibie seraya menampilkan  Presiden Jokowi bersama keluarganya masuk ke RSPAD Gatot Subroto.  Sejenak ingatan saya hadir pada perjumpaan sesaat dengannya, 2 tahun silam. Perjumpaan yang selesatan namun terasa intensitasnya sangat tinggi sebab sosok itu hadir lebih dulu dalam ingatan saya.

Malam pada pembukaan ICAD 2017 di sebuah hotel kawasan Kemang Jakarta, Pak Habibie menyempatkan hadir. Dari tempat saya duduk, saya melihatnya bercengkerama dengan sejumlah orang. Parasnya, seperti biasa, selalu terlihat bersemangat. Dalam satu kesempatan, saya mendekat dan menawarkan jabat. Tak ada sapa, kecuali sekadar berbalas senyum. Momen  yang kemudian dibekukan dalam satu scene foto yang menjadikan ingatan itu terekam. Ingatan tentang tubuh yang dimakan usia yang masih tetap belum menyerah mewujudkan pesawat karya anak bangsa mencumbu cakrawala.

Habibie dan pesawat terbang buatan Indonesia seperti sebuah frase tunggal. Meski sampai saat ini N250, sang Gatotkaca bikinan Habibie sebagai purwarupa karena tak jadi diproduksi massal. Jangankan industri strategis, barang sekelas garam atau sapi dan tembakau saja para pemegang keputusan lebih memilih impor demi beroleh imbalan dari tanda tangan yang dibubuhkannya.

Lebih dari itu, bagi saya Pak Habibie adalah pilihan mencintai negeri ini meski ada negeri lain yang menawarkan roti dan memberikan karpet merah untuknya. Setidaknya itu yang saya baca dari catatan wartawan senior, Toeti Adhitama. Dari Parepare Lewat Aachen, buku karya Toety menjadi catatan agak panjang pertama yang saya baca tentang Pak Habibie pada paruh kedua  tahun 1980. Buku Toeti menulis Habibie itu terbit tahun 1986. Saya membacanya sambil berdiri di toko buku Sari Agung  Jalan Tunjungan, Surabaya. Toko buku yang saat ini cuma tinggal kenangan. Meski saya  tak tuntas membaca, namun memberikan gambaran tentang sosok yang fenomenal dalam dunia kedirgantaraan ini. Setelah itu, kisah tentang Habibie banyak bertebaran di mana-mana.

Toeti menulis tentang kecintaan Habibie pada ilmu pengetahuan, bukan pada fasilitas yang diberikan. Misalnya ketika Habibie diangkat menjadi penasihat Presiden Republik Indonesia memimpin Divisi Advanced Technology sebagai cikal bakal BPPT serta membangun cikal bakal pesawat terbang di Bandung, Habibie tak meminta apa-apa bahkan ia rela pulang ke Indonesia  dari Jerman.

Berbeda situasinya di Jerman Barat, di mana B.J Habibie adalah wakil presiden dari sebuah industri pesawat terbang yang tercatat cukup besar di dunia. Tetapi B.J Habibie tidak mau meminta fasilitas lebih dahulu atau sekretaris, anggaran, dan mobil. Waktu Ibnu Sutowo menanyakan apakah ia perlu kantor, B.J Habibie tegas menjawab,” Belum, biar begini saja dulu.”. Memang sasaran yang pertama adalah membuat sistem kerja, membuat organisasi, dan mengumpulkan data. Selain hal tersebut, B.J Habibie tidak memiliki maksud apa-apa (Toety Adhitama, 1986).

Cita-cita Pak Habibie untuk bisa membuat pesawat terbang sendiri kembali menghampiri ingatan saya ketika saya bertugas meliput tragedi pesawat Sukhoi Superjet 100 yang menabrak dinding Gunung Salak pada 9 Mei 2012 silam. Saya menggantikan tim yang sebelumnya sudah seminggu bertugas di sana. Proses evakuasi korban masih berlangsung. Setiap hari saya memilih bangun jam 4 pagi dan langsung mandi untuk menghindari antrean penggunaan kamar mandi. Jika telat bangun, sejumlah anggota Tim SAR Rusia sudah mengantri di depan pintu satu kamar mandi yang kondisinya ternyata paling bersih dalam deretan kamar mandi lain yang berada dalam komplek bangunan SMP Cijeruk Bogor itu.

Tatkala sudah terang tanah, saya bergerak menenteng tripod dan kamera menuju tempat yang menurut saya paling aman dan bisa mendapatkan gambar paling bagus. Dari titik ini, pergerakan sejumlah heli yang datang dan pergi membawa jenazah saya dapatkan.

Menjelang siang, saat duduk sendirian menunggu perkembangan usai mengirimkan kaset mndv ke seorang kawan yang bertugas mengedit dan mengirimkan gambar video via satelit, saya melihat lelaki kecil ini terlihat khusyuk menatap heli Super Puma yang jadi andalan dalam evakuasi  korban. Tahukah bahwa ada sebuah masa ketika anak-anak seusia lelaki kecil itu, di negeri in,i selalu mengindentikkan kepintaran sebagai Habibie? “Jadilah pintar seperti Habibie,” demikian pesan para orang tua.

Saya mendekat dan bertanya. Dia menyebutkan nama (yang saya tak kunjung bisa mengingatnya). Dia butuh sejam jalan kaki menuju lapangan bola yg dikepung perkebunan teh ini. Pesawat terbang yang lalu lalang itulah yang memikatnya untuk datang.

Tiba-tiba dia menyebut nama tokoh pewayangan yang bisa terbang : Gatotkaca. Mata saya langsung berkeriap. Teringat pada ayah saya yang kerap mengajari saya menghafal nama tokoh pewayangan dan mengajak nonton pertunjukkan wayang kulit saat saya masih kecil.

“Om mau saya buatkan wayang?” dia menawari. Mungkin lantaran saya terlihat antusias mendengar ceritanya tentang tokoh putra Bima yang bisa terbang itu.
“Dari apa?” tanya saya.
“Dari tangkai dan daun singkong,” jawabnya. Tentu saja saya mau.

Setelah mendapatkan beberapa tangkai, tangannya dengan tangkas menyulap daun singkong dalam sekejap menjadi sang Gatotkaca dan menyodorkannya kepada saya setelah beberapa saat memainkannya.

Andai Gatotkaca N250 itu terwujud, maka lelaki kecil itu akan melihat pesawat bikinan tanah ini sebagaimana tanah ini membuat wayang daun singkong itu. Ia mungkin akan melihat, selain Super Puma atau heli Rusia yang ikut dalam evakuasi korban, suatu kali Gatotkaca melayang di angkasa.

Selamat jalan, Pak Habibie. Terima kasih sudah mengisi imajinasi anak negeri ini untuk punya cita-cita setinggi terbangnya pesawat. Terbang di antara bintang-bintang. Cita-cita yang tinggi setinggi-tingginya, jika terpaksa jatuh, minimal jatuh di awan gemawan (Prasto Wardoyo).

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.