READING

Ketika Sampah Plastik menjadi Dasar Hukum Fiqih

Ketika Sampah Plastik menjadi Dasar Hukum Fiqih

Jika Fiqih biasanya membahas tentang tata cara ibadah yang umum dilakukan seperti salat, puasa, hingga zakat. Maka akhir-akhir ini terbitlah buku fiqih yang membahas masalah yang kini menjadi keresahan bersama, yakni sampah. Buku yang baru diterbitkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Bahtsul Masail (LBM)-nya adalah buku berjudul Fiqih Penanggulangan Sampah Plastik. Dalam buku ini diuraikan upaya-upaya penanganan sampah plastik melalui sentuhan islam.

Asrofi Al-Kindi, ketua Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Malang Raya mengungkapkan buku Fiqih Penanggulangan Sampah Plastik adalah Komitmen NU dalam Permasalahan Sampah. Dalam hal ini dia juga mengungkapkan bahwa dengan buku fiqih ini merupakan salah satu  bentuk kemajuan organisasi keagamaan dalam memikirkan umatnya. Terlebih dalam upaya mencari solusi atas masalah sampah yang menjadi keresahan bersama. “Organisasi agama kini tidak lagi sibuk pada pertentangan isu-isu permasalah tata cara beribadah hingga pertentangan keyakinan mahzab siapa yang paling benar, tetapi harus mencari solusi masalah kehidupan umat juga. Ini sebuah kemajuan,” ungkapnya.

Dalah hal ini Asrofi juga menerangkan sampah plastik kini tidak bisa terlepas dari kehidupan masyarakat karena seperti menjadi kebutuhan pokok karena sifat praktisnya. Namun disisi lain memberi dampak luar biasa terhadap lingkungan. terlebih banyak fakta kerusakan alam seperti pencemaran sungai, laut hingga dampak kesehatan pada manusia akibat sampah plastik.

Melihat banyaknya mudharat yang ditimbulkan oleh sampah. Fiqih Penanggulangan Sampah Plastik penting diketahui masyarakat. Menurutnya persoalan plastik merupakan persoalan baru dalam dunia fiqih, sehingga Al-Quran dan Hadist tidak secara eksplisit menyebutkan persoalan sampah. Walaupun begitu secara implisit banyak dalil yang bisa digunakan sebagai dasar pengambilan keputusam terhadap persoalan ini. “Sehingga secara Fiqih sumber hukum akan sampah plastik didasarkan pada Ijma, Qiyas, Saddu Adz-Dzariah, dan Istishab,” terang Asrofi.

Dalam buku itu, Asrofi pun menjelaskan dalam konteks permasalahan sampah plastik, pandangan agama islam berdasarkan hukum dasar yang menyatakan larangan bagi manusia untuk berbuat kerusakan di muka bumi. Hal ini termaktub dalam Al-Quran surat Hud ayat 61 yang artinya Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. “Dalam ayat ini mengandung perintah. Maksudnya Allah memerintahkan kita agar memakmurkan bumi. Memakmurkan dalam arti memelihara, menyelamatkan, dan mengelolanya dengan baik dan benar,” terangnya.

Dengan terbitnya buku Fiqih Penanggulangan Sampah Plastik ini, Asrofi menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama dalam penanggulangan sampah plastik secara etis sudah menginisiasi terbitnya fatwa-fatwa serta hasil dari Bhatsul Masail yang mulai membuka pembahasan atas permasalahan samplah plastik. Secara organisasi, hasil Bhatsul Masail pun telah disosialisasikan melalui kelembagaan. “Kita bersama-sama berharap dengan diterbitkan dan disosialisasikannya Fiqih Penanggungan Sampah Plastik ini masyarakat bisa berubah dalam memandang plastik. Terlebih dalam agama pun juga kita manusia diperintahkan untuk menjaga bumi,” harap Asrofi.     

Melalui pengajian-pengajian mulai pada IPNU-IPPNU, Muslimat, hingga Fatayat kini pun mulai didengungkan isi dalam Fiqih ini. Sehingga tidak jarang pula beberapa pondok pesantren kini juga memulai kajian kontemporer bertajuk Ngaji Plastik untuk mensosialisasikan bahaya sampah plastik serta cara-cara untuk mendaur-ulangnya. “Seperti ujar KH Yahya Cholil Staquf  bahwa NU kini tidak hanya membicarakan masalah ubudiyah, namun NU harus mengembalikan keseimbangan antara kepedulian terhadap masalah agama dan kemasyarakatannya,” ujarnya.

Asrofi pun juga menegaskan bahwa kehidupan manusia di dunia tidak hanya berhubungan dengan Allah (hablum minallah) saja, tetapi juga hubungan dengan manusia (hablum minannas) dan lingkungan atau alam (hablum minal alam). Kasih sayang manusia terhadap sesama dan lingkungan atau alam sekitar merupakan perwujudan tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi (khalifah fil ardh). “Kalau kata Gus Mus, bahwa setiap hamba yang penyayang, maka ia akan disayang Allah. Sehingga mari kita mulai menyayangi bumi yang merupakan ciptaan Allah juga,” tegas Asrofi.

Reporter:  Moh. Fikri Zulfikar
Editor: Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.