READING

Menangkal Virus Corona Dengan Jamu

Menangkal Virus Corona Dengan Jamu

Coronavirus hingga saat ini masih terus menghantui seluruh penduduk dunia. Tidak terkecuali masyarakat yang tinggal di Indonesia. Pasalnya saat ini jumlah penderitanya terus meningkat dan mulai masuk ke negara-negara tetangga seperti Singapura, Thailand, Malaysia, Vietnam, Filipina, hingga Kamboja.

Sejauh ini sejumlah negara di Asia Tenggara masih dinyatakan nihil penderita positif corona yakni Laos, Myanmar, Brunei Darussalam dan Timor Leste. Banyak yang mengaitkannya dengan iklim dan cuaca panas yang tidak cocok dengan habitat 2019 novel coronavirus (2019-nCov) ini.

Meski saat ini Indonesia masih dinyatakan aman dari ancaman virus corona, tidak ada salahnya jika masyarakat juga mulai waspada. Salah satunya dengan menerapkan pola hidup sehat mulai dari mencuci tangan dan kaki setelah bepergian, menjaga kebersihan lingkungan, dan mengenakan masker untuk menghindari penularan berbagai jenis virus dari penderita yang ditemui di jalanan.

Tidak hanya itu, hal yang paling penting dalam mencegah terjangkitnya berbagai jenis virus dan penyakit adalah dengan menjaga kondisi tubuh agar tetap prima. Hal tersebut bisa dilakukan dengan menjaga pola makan, makan makanan yang bersih dan bergizi, olahraga teratur dan istirahat yang cukup.

Chaerul Anwar Nidom, Guru besar Biologi Molekuler Universitas Airlangga menjelaskan bahwa coronavirus ini menyerang tubuh khususnya di saluran pernafasan sehingga berakibat pada terjadinya badai sitokinin di dalam tubuh.

Badai sitokinin sendiri adalah reaksi imun yang berlebihan ketika melawan kuman-kuman patogen yang menyerang tubuh. Reaksi yang berlebihan ini menjadi tidak terkontrol dan sel-sel imun menjadi teraktivasi dan mengumpul di satu tempat yakni di dalam organ yang terjangkit virus.

Badai sitokin sendiri berpotensi menyebabkan kerusakan jaringan dan organ di dalam tubuh. Jika badai ini terjadi di paru-paru, maka jumlah sel imun seperti makrofag akan memenuhi rongga paru dan menyebabkan saluran pernapasan tersumbat. Inilah yang menjadi penyebab kematian.

Badai sitokinin ini bisa dihindari jika tubuh memiliki sistem kekebalan yang baik. “Jadi untuk menghadapi (virus Corona) saat ini yang sederhana adalah dengan menekan badai sitokinin yakni dengan mengonsumsi yang namanya curcumin,” kata Nidom ketika ditemui di Kantor Transmedia Surabaya, Kamis (6/2) seperti dikutip detiknews.com.

Berdasarkan hasil dari berbagai penelitian, curcumin dipercaya memiliki aktivitas antimikroba dan melawan berbagai jenis bakteri, virus, dan jamur. Aktivitas antibakteri ini juga menunjukkan bahwa senyawa kimia ini tak hanya membantu menghentikan infeksi, tapi juga menghambat kemungkinan infeksi lebih lanjut. Caranya dengan bertindak sebagai penghalang dan mengubah mekanisme bakteri masuk ke dalam sel.

Biasanya senyawa ini ada di dalam tanaman empon-empon yakni jahe, kunyit dan temulawak.

Jahe

Ada banyak senyawa yang berguna untuk kesehatan yang terkandung di dalam jahe. Secara farmakologi, jahe berguna sebagai peluruh kentut, peluruh keringat, anti muntah, dan pereda kejang. Kandungan asam organik di dalamnya seperti asam malat, asam oksalat, dan senyawa-senyawa flavonoid dan polifenol bisa berguna untuk anti-pengerasan pembuluh darah, anti-imflamasi, antimikroba dan parasit.

Jahe juga bisa untuk antirematik, merangsang pengeluaran getah lambung dan getah empedu. Selain sebagai bumbu dapur, jahe ini biasanya diolah secara sederhana menjadi wedang jahe sebagai minuman kesehatan.

Kunyit

Tanaman ini paling mudah untuk dibedakan dengan empon-empon lainnya karena memiliki warna kuning. Warna kuning atau oranye inilah yang disebut curcumin yang cukup efektif menjadi antibiotik dan antibakteri.

Sama seperti jahe, kunyit biasanya dijadikan sebagai pewarna alami pada makanan seperti soto maupun kari. Namun tidak jarang masyarakat Indonesia mengolahnya menjadi jamu dengan dicampur dengan asam agar memberikan efek segar ketika dikonsumsi.

Temulawak

Temulawak juga memiliki kandungan curcumin yang cukup banyak. Makanya daging rimpangnya juga berwarna kuning meski lebih pudar dibandingkan kunyit yang pekat. Dibandingkan dengan kunyit, temulawak memiliki bentuk rimpang yang lebih besar dan memiliki rasa yang lebih pahit dibandingkan dengan kunyit.

Temulawak sendiri biasanya diolah menjadi jamu yang memiliki banyak khasiat kesehatan. Sama dengan kunyit, temulawak juga mengandung senyawa antibakteri dan anti jamur. Makanya banyak orang menggunakannya sebagai obat untuk memperlancar pencernaan, menambah nafsu makan, hingga obat antiradang.

Zat antioksidannya juga dipercaya bisa menghambat pertumbuhan sel kanker. Temulawak juga bisa dijadikan obat diuretik sehingga bisa mengurangi tekanan pada pembuluh darah. Makanya temulawak juga bisa mengobati gagal hati, masalah dalam ginjal hingga gagal jantung.

Penulis: Dina Rosyidha
Editor: Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.