READING

Kiai Dan Polisi Sependapat Soal Pembakaran Bendera...

Kiai Dan Polisi Sependapat Soal Pembakaran Bendera HTI

KEDIRI – Insiden pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia oleh anggota Banser Nadhlatul Ulama Garut menjadi perhatian serius ulama Kediri. Para kiai meminta insiden itu tak meluas menyusul telah ditetapkannya pelaku pengibaran bendera HTI sebagai tersangka.

Keprihatian para ulama ini disampaikan secara terbuka saat mengikuti Focus Grup Discussion di Mapolresta Kediri. Diskusi yang mengambil tema bahaya HTI terhadap kesatuan NKRI ini diikuti sejumlah pengasuh pondok pesantren Kediri.

Mereka adalah Kiai Abdullah Kafabihi Mahrus dari Ponpes Lirboyo, Kiai Anwar Iskandar dari Ponpes Al Amin Ngasinan, Ketua PCNU Kota Kediri Kiai Abu Bakar Abdul Jalil, serta Ketua Asosiasi Pondok Pesantren NU Jawa Timur Kiai Reza Ahmad Zahid dari Ponpes Al Mahrusiyah Lirboyo.

Para kiai bersepakat untuk menyelesaikan polemik ini sesuai kaidah hukum yang berlaku di Indonesia. Salah satunya adalah keputusan pemerintah yang menetapkan ormas HTI sebagai organisasi terlarang. “Kita ikuti saja ketentuan yang sudah ada,” kata Kiai Anwar Iskandar.

Pengasuh pondok pesantren ini meminta umat Islam, khususnya warga Nahdlatul Ulama untuk tidak terprovokasi dan memperluas polemik ini. Polisi telah memilah kasus tersebut dan memastikan anggota Banser pelaku pembakaran bukan menjadi tersangka.

Kapolres Kediri Kota AKBP Anthon Haryadi mengatakan penyidik tak menemukan unsur kesalahan yang diakukan anggota Banser. Pembakaran bendera yang dilakukan anggota Banser Garut adalah upaya menyelamatkan NKRI dari gerakan radikal HTI. “Justru pengibar bendera HTI yang kita proses,” kata Anthon.

Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar akan berusaha menjaga situasi di wilayahnya tetap kondusif. Dalam situasi sensitif, masyarakat diminta tetap tenang dan tak mudah terprovokasi. “Jika ada persoalan, laporkan pada Babinsa atau Babinkamtibmas,” katanya.

Abu Bakar juga menjamin keamanan di Kota Kediri yang selama ini telah teruji menghadapi situasi sulit. Sepanjang pemerintahannya, tak ada satupun aksi massa yang dipicu oleh issue SARA. Padahal di kota ini, deretan pondok pesantren dari berbagai aliran berdiri saling berdekatan. “Toleransi di Kota Kediri sangat baik, baik sesama Muslim maupun non Muslim,” katanya. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.