READING

Kiai Lirboyo: Islam Tak Mengenal Hukum Kebiri

Kiai Lirboyo: Islam Tak Mengenal Hukum Kebiri

MOJOKERTO – Muhamad Aris, pemuda berusia 20 tahun asal Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto dijatuhi hukuman kebiri oleh Pengadilan Negeri Mojokerto. Hukuman itu dianggap setimpal atas perbuatannya yang memperkosa 11 anak di bawah umur.

Jaksa penuntut umum dan majelis hakim Pengadilan Negeri Mojokerto tampaknya benar-benar kesal terhadap Aris. Perbuatan Aris yang telah memperkosa belasan anak di bawah umur dianggap sadis karena disertai kekerasan. “Dalam persidangan, terdakwa mengakui menyetubuhi lebih dari satu korban. Terdakwa juga menyeret dan membekap korban. Bahkan ada yang disobek kemaluannya (korban) dengan tangan (terdakwa) supaya alat kelaminnya bisa masuk,” ujar Erhamuddin, salah satu anggota majelis hakim seperti ditulis Tempo.

Hukuman kebiri ini merupakan pidana tambahan yang dijatuhkan pengadilan selain kurungan selama 12 tahun dan denda Rp 100 juta. Jika Aris tak mampu membayar denda tersebut, maka hukumannya ditambah lagi selama enam bulan kurungan.

baca juga: Leonardo Dicaprio dan Komentar Halu di IG Nicholas Saputra

Mengutip dari The Sun yang ditulis CNNIndonesia, kebiri kimia adalah menyuntikkan obat-obatan yang mengandung anafrodisiak yang berfungsi menurunkan hasrat seksual dan libido. Tindakan kebiri kimia umumnya berlangsung tiga hingga lima tahun.

Leuprorelin adalah obat yang sering digunakan dalam kebiri kimia, berfungsi ‘mengobati’ kesulitan mengendalikan gairah seksual, sadisme, atau kecenderungan membahayakan orang lain. Selain itu, ada juga obat medroksiprogesteron asetat, siproteron asetat, dan LHRH yang berfungsi untuk mengurangi testosteron dan estradiol.

baca juga: Bumi Manusia Itu Film Perjuangan Atau Percintaan

Tak hanya “menundukkan” syahwatnya, kebiri kimia juga memiliki efek samping bagi pasien. Beberapa diantaranya adalah osteoporosis, penyakit kardiovaskular, gangguan metabolisme glukosa dan lipid. Seseorang juga bisa mengalami depresi, infertilitas, anemia, dan menimbulkan rasa panas pada tubuh.

Kebiri Dalam Perspektif Islam

Efek sakit yang diderita pasien kebiri inilah yang menjadi salah satu alasan penolakan oleh para ulama. “Dalam proses pengebirian itu ada mafsadah (keburukan) yang dialami seseorang, diantaranya menyiksa diri,” kata pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri KH Oing Abdul Muid kepada Jatimplus.ID.

baca juga: Nyai Khairiyah Hasyim Perempuan Tebuireng Jombang yang Pernah Didatangi Bung Karno

Dia menjelaskan, dalam Syarah Bukhari disebutkan jika tindakan mengebiri secara umum adalah haramnya haram. Selain menyiksa diri, perbuatan pengebirian juga berpotensi berbahaya, menghilangkan makna kelaki-lakian, mengubah ciptaan Allah, dan melawan nikmat (kufur).

Kiai Abdul Muid menambahkan, penjelasan tersebut memang tidak dalam konteks pemberian hukuman bagi pemerkosa, seperti yang terjadi di jaman Rasul. Tetapi kasus lain yang serupa dan dialami oleh seorang pemuda saat mengadu kepada Nabi Muhammad.  

Kala itu ada seorang pemuda yang meminta saran Rasul tentang keinginannya untuk mengebiri diri sendiri. Alasannya, pemuda itu tak mampu menikah tetapi juga tak kuat hidup sendiri. “Nabi melarang keinginan itu dan memberi dua alternatif. Pertama diminta puasa, kedua memelihara rambut tubuh. Karena teorinya orang yang puasa dan memelihara rambut itu melemahkan syahwat,” terang Kiai Abdul Muid.

Forum Bahtsul Masail yang merupakan forum diskusi para cendekia pondok pesantren pernah merumuskan hal serupa. Kala itu muncul pertanyaan dari masyarakat tentang hukuman kebiri bagi seseorang yang gemar berzina dengan istri orang lain karena memiliki nafsu besar. Berdasarkan diskusi disertai hukum yang kuat, disimpulkan untuk melarang perbuatan kebiri.

Berdasarkan hal itu, Kiai Abdul Muid meminta kepada pemangku kebijakan agar memepertimbangkan kembali hukuman kebiri kepada Muhamad Aris. “Dokter punya perspektif sendiri, pesantren juga demikian, hormati juga,” pesannya.

Pandangan Kak Seto

Jauh sebelum kasus ini terjadi dan menjadi keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum, wacana pengebirian bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak pernah dikemukakan Seto Mulyadi atau Kak Seto beberapa tahun silam.

Dalam sebuah wawancara dengan Republika.co.id, Kak Seto berpesan agar penerapan hukuman itu dikaji masak-masak. Jika tidak, hukuman itu justru akan menjadi dua sisi mata pisau. “Pada dasarnya semua upaya meningkatkan hukuman supaya menimbulkan efek jera saya sangat setuju, tapi wacana pengebirian syaraf libido perlu dikaji secara mendalam, dipertimbangkan secara masak-masak,” kata Kak Seto.

Hukuman kebiri, menurut Kak Seto, dikhawatirkan hanya akan melumpuhkan syaraf libido pelaku, tapi tidak sisi kekejamannya terhadap anak-anak. Padahal yang diperlukan adalah efek jera agar pelaku tidak mengulangi lagi kekejamannya terhadap anak-anak di masa mendatang.

Untuk itu harus diperhatikan juga sisi psikologis, ideologis, sosiologis, penegakan hukum, hak asasi manusia hingga medis.

Penulis: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.